Minggu, 14 Juli 2024

Aksi – Reaksi – Refleksi Literasi

Oleh: Muries Subiyantoro, Guru BK SMPN 1 Magetan

Tulisan ini terpilih menjadi Juara 2 Lomba Opini Pendidikan dalam rangka HUT PGRI dan Peringatan Hari Guru Nasional Ke-78 yang diselenggarakan oleh PGRI Cabang Magetan bekerjasama dengan Dikpora Kabupaten Magetan

Menengok Sejarah

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar yang terdiri dari berbagai macam pulau, bahasa, suku, adat-istiadat, agama-kepercayaan, dan beragam seni-budaya. Tak terkecuali, Bangsa Indonesia sejak dahulu kala adalah sebuah bangsa yang sudah mengenal literasi sejak jaman kuno, seperti adanya peninggalan gambar dan tulisan di goa-goa prasejarah, atau jejak tulisan dalam berbagai prasasti serta candi-candi di jaman kerajaan nusantara.

Setelah itu di jaman kolonial, kita sudah mengenal bagaimana literasi semakin dikembangkan, salah satunya R.A. Kartini rajin membaca buku dan menuliskan surat untuk sahabatnya di Belanda (yang kemudian dijadikan buku dengan judul Habis Gelap, Terbitlah Terang). Kemudian dalam narasi sejarah bangsa, diceritakan bahwa perlawanan bangsa Indonesia dimulai dengan banyaknya produk-produk tulisan para tokoh pejuang dan penulis surat kabar cetak yang sangat kritis terhadap pemerintah kolonial Belanda.

Maka tak heran bila kemudian pada masa Kemerdekaan Indonesia, Presiden Soekarno sangat bersemangat membangun negara dengan tidak lagi mengangkat senjata, tetapi mengangkat pena dan buku untuk memberantas buta huruf dikalangan masyarakat biasa. Oleh sebab itu pada sekitar 14 Maret 1948, dicanangkanlah program Pemberantasan Buta Huruf (PBH) walau kondisi masih dalam keadaan darurat perang.

Dalam pelaksanaan PBH yang darurat tersebut, ternyata kegiatannya dapat terlaksana di 18.663 tempat, dengan melibatkan 17.822 orang guru dan 761.483 orang murid. Sementara itu penyelenggaraan secara swadaya juga dilakukan di sekitar 881 tempat dengan melibatkan 515 orang guru dan 33.626 murid. Setidaknya dari program tersebut dapat menekan angka 90% buta huruf menjadi 40% ditahun 1960an.

Pada masa Orde Baru program pemberantasan buta huruf juga ada, pada masa ini program pemberantasan buta-huruf disebut Program Paket ABC. Program tersebut berbeda dengan program sebelumnya yang memobilisasi besar-besaran massa untuk kegiatan pemberantasan buta aksara, Program ABC lebih banyak mengandalkan birokrasi pemerintah. Kemudian pada tahun 1972 dicanangkanlah program Aksarawan Fungsional, yang merupakan program pemberikan pelajaran membaca, menulis dan berhitung serta keterampilan tertentu.

Pada masa tersebut program aksarawan fungsional yang hakikatnya sudah dilaksanakan pada masa Orde Lama, semakin diperbaiki dan diperbarui supaya bisa semakin mengurangi jumlah masyarakat yang buta huruf.

Selanjutnya pada tahun 1975 diadakan program kegiatan inovasi pendidikan. Program inovasi ini meliputi semua jenis dan tingkat pendidikan di dalam (formal) maupun di luar sekolah (non formal). Dalam kegiatan inovasi pendidikan tersebut terdapat 25 poin yang salah satunya adalah program Wajib Belajar (Wajar). Wajar ditetapkan langsung oleh Presiden Soeharto pada tanggal 2 Mei 1984. Program Wajar ini dikhususkan bagi anak-anak usia 7-12 tahun, yaitu usia sekolah dasar atau sederajat.

Sedangkan perkembangan literasi di era reformasi saat ini semakin bertumbuh-kembang dengan dicanangkannya Gerakan Literasi Nasional yang merupakan sebuah usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan yang dibutuhkan pada abad ke-21 melalui keterlibatan dan partisipasi seluruh warga negara Indonesia.

Gerakan Literasi Nasional mengembangkan enam jenis literasi yang dibutuhkan untuk hidup pada abad ke-21. Keenam jenis literasi itu adalah literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, dan literasi kewargaan. Sebagai sebuah gerakan, keenam jenis literasi ini dikembangkan melalui tiga ranah, yaitu keluarga (Gerakan Literasi Keluarga), sekolah (Gerakan Literasi Sekolah), dan masyarakat (Gerakan Literasi Masyarakat).

Memaknai Literasi

Literasi adalah kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Dalam perkembangannya, definisi literasi selalu berevolusi sesuai dengan tantangan zaman. Jika dulu definisi literasi adalah kemampuan membaca dan menulis. Saat ini, istilah literasi sudah mulai digunakan dalam arti yang lebih luas. Dan sudah merambah pada praktik kultural yang berkaitan dengan persoalan sosial dan politik.

Literasi merupakan dasar dari segala ilmu pengetahuan sehingga literasi menjadi faktor terpenting untuk menjadikan sumber daya manusia Indonesia unggul. Indonesia sebagai bangsa yang menjunjung tinggi aspek pengetahuan, teknologi, dan budaya harus terus mengembangkan budaya literasi. Pengembangan budaya literasi dapat dilakukan melalui pendidikan non formal dalam ranah keluarga, secara sosial di masyarakat, hingga pendidikan formal di sekolah.

Definisi baru dari literasi menunjukkan paradigma baru dalam upaya memaknai literasi dan pembelajarannya. Hakikat ber-literasi secara kritis dalam masyarakat demokratis diringkas dalam lima verba: memahami, melibati, menggunakan, menganalisis, dan mentransformasi teks. Kesemuanya merujuk pada kompetensi atau kemampuan yang lebih dari sekedar kemampuan membaca dan menulis. Adapun tujuan literasi itu sendiri ialah sebagai berikut:

Pertama, membantu meningkatkan pengetahuan masyarakat dengan cara membaca berbagai informasi bermanfaat. Kedua, membantu meningkatkan tingkat pemahaman seseorang dalam mengambil kesimpulan dari informasi yang dibaca.

Ketiga, meningkatkan kemampuan seseorang dalam memberikan penilaian kritis terhadap suatu karya tulis. Keempat, membantu menumbuhkan dan mengembangkan budi pekerti yang baik di dalam diri seseorang.

Kelima, meningkatkan nilai kepribadian seseorang melalui kegiatan membaca dan menulis. Keenam, menumbuhkan dan mengembangkan budaya literasi di tengah-tengah masyarakat secara luas.

Ketujuh, membantu meningkatkan kualitas penggunaan waktu seseorang sehingga lebih bermanfaat.

Keterampilan literasi memiliki pengaruh penting bagi keberhasilan generasi muda. Keterampilan literasi yang baik akan membantu generasi muda dalam memahami informasi baik lisan dan tertulis. Dalam kehidupan, penguasaan literasi pada generasi muda sangat penting dalam mendukung kompetensi-kompetensi yang dimiliki. Dengan kemampuan literasi juga dapat memberdayakan dan meningkakan kualitas sebuah individu, keluarga, dan masyarakat karena sifatnya yang “multiple effect” atau dapat memberikan dampak yang sangat luas seperti membentuk kepribadian yang menyenangkan, menciptakan suasana damai, memberantas kemiskinan, dan terwujudnya pembangunan.

Aksi – Reaksi

Secara ideal seharusnya sejak kecil pendidikan literasi sudah dilakukan mulai dari lingkungan rumah dengan pembiasaan membaca dan mendongeng, tidak hanya mengandalkan guru-guru yang ada di sekolah. Sehingga pembiasaan literasi di dalam lingkungan keluarga menjadi sangat penting dilakukan. Kebiasaan membaca dan memaknainya harus dimulai dari ranah keluarga.

Orang tua membantu memberikan rangsangan kepada generasi muda untuk memulai membaca dan menularkan rasa cinta berliterasi kepada anak-anak sejak dini. Anak-anak dan remaja harus didorong untuk membaca dan menulis secara teratur untuk meningkatkan kemampuan literasi mereka. Anak-anak dan remaja dapat membaca buku, majalah, surat kabar, atau koran online atau media digital yang sesuai dengan minat mereka.

Begitu pun juga di sekolah, budaya literasi tentunya sangat penting untuk terus ditingkatkan. Kemampuan dasar literasi berupa kemampuan membaca dan menulis harus menjadi prioritas utama dalam dunia pendidikan. Budaya sekolah yang kaya literasi akan bisa membangun kesadaran siswa akan pentingnya membaca untuk mendukung pembelajaran yang efektif. Selain itu akan mampu menumbuhkan kemampuan berpikir kritis siswa dan menumbuhkan jiwa kepemimpinan siswa.

Gerakan literasi merupakan gerakan yang bertujuan untuk memupuk kebiasaan dan motivasi membaca dan menulis pada siswa dan guru untuk menumbuhkan budi pekerti melalui buku bacaan. Melalui literasi, diharapkan mampu menjadi dasar utama dalam mewujudkan bangsa yang berpengetahuan dan berbudaya. Tujuan Gerakan Literasi Sekolah secara umum untuk menumbuhkan semangat pembelajar sepanjang hayat. Sedangkan secara khusus, untuk meningkatkan minat literasi pada guru dan siswa sehingga memiliki wawasan yang cukup luas.

Di SMP Negeri 1 Magetan, gerakan literasi mulai giat dilakukan. Pada jenjang Kelas VII dan Kelas VIII setiap hari Senin pada jam terakhir pelajaran diisi khusus kegiatan literasi dan pada jenjang Kelas IX setiap hari Senin dan Jumat pada jam terakhir pelajaran diisi pula khusus kegiatan literasi. Bentuk kegiatan literasi di kelas ini beragam, diantaranya siswa diberi waktu untuk membaca bacaan yang ada, selain itu siswa diberi kesempatan untuk diputarkan film/video motivasi pembelajaran selanjutnya siswa disuruh untuk membuat resensi, sinopsis, atau isi cerita dan amanatnya

Untuk menunjang program literasi di sekolah, setiap kelas mulai Kelas VII sampai dengan Kelas IX disediakan Pojok Literasi yang terdapat berbagai macam buku/bacaan yang pada waktu jam literasi bisa digunakan untuk di baca. Pada waktu tertentu, ketika Mata Pelajaran Bahasa Indonesia membahas tentang Jurnal Membaca, guru Bahasa Indonesia mengajak siswa ke Perpustakaan Sekolah untuk membaca.

Dengan berbagai macam jenis kegiatan literasi tersebut, diharapkan siswa mampu membuahkan hasil karya dalam bentuk tulisan siswa yang akan dibukukan sekolah. Selain itu, dalam kegiatan literasi di sekolah agar siswa tidak jenuh, sekali waktu siswa diajak kunjungan keluar, misalnya di Gedung Arsip dan Perpustakaan Daerah Magetan maupun di tempat yang lain, selanjutnya siswa diajak untuk menulis rangkuman dari apa yang sudah di baca dan dilihatnya.

Sayangnya kegiatan literasi yang dilakukan siswa tidak diimbangi dengan aktifitas Bapak dan Ibu guru dalam menerapkan literasi. Seharusnya pihak sekolah membuat program yang terjadwal agar Bapak/Ibu guru minimal setiap bulan sekali menulis artikel atau opini. Setiap guru wajib mengirimkan tulisan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Tujuan tersebut dilakukan agar Bapak/Ibu guru terbiasa membaca dan aktif mencari informasi terkini, berani menuangkan ide dan gagasan melalui tulisan, dan dapat menjadi contoh bagi siswa terkait minat literasi.

Penulis selaku Guru BK di SMP Negeri 1 Magetan dan sejak pengaktifan kembali sebagai PNS pada pertengahan bulan Agustus lalu, sudah memiliki niat dan keinginan untuk aktif kembali menulis. Hal ini didasari karena penulis adalah seorang pribadi yang suka tantangan dan sejak menjadi aktivis mahasiswa sudah sering membuat artikel/opini di media massa. Banyak realitas sosial, politik, pendidikan, ekonomi, dan sebagainya yang bisa menjadi ide atau gagasan untuk  bahan penulisan opini. Dan sejak awal bulan September hingga saat ini, sudah ada sebelas tulisan opini yang sudah dimuat dan diterbitkan di media online lokal Magetan diantaranya (www.mediaseputarkita.com, www.magetankita.com, www.seputarjatim.com).

Tema penulisan opini beragam dari soal politik, pendidikan, olahraga, dan sejarah. Ketika tulisan opini dapat dimuat dan bisa diterbitkan, maka ada kebanggaan tersendiri karena ide atau gagasan pemikiran yang ditulis tersebut bisa di baca dan dinikmati oleh khalayak umum. Selain itu, bisa menjadi bahan pembelajaran yang diberikan kepada siswa agar termotivasi untuk aktif dan rajin membaca dan menulis.

Gerakan Literasi Sekolah esensinya adalah belajar dengan budaya. Belajar melalui budaya merupakan salah satu bentuk penilaian pemahaman dalam beragam bentuk. Dan di dalam belajar dengan budaya dibutuhkan nilai, karakteristik yang dimiliki oleh masing-masing pihak dan dijalankan oleh setiap anggota yang ada. Siswa yang memiliki kemampuan membaca dan menulis yang baik akan mampu memahami materi yang diajarkan dengan lebih mudah dan mampu mengungkapkan pemikirannya secara efektif.

Semua pihak yang terlibat di sekolah harus mampu membangun budaya literasi. Cara membangun dan meningkatkan budaya literasi diantaranya adalah: memperkenalkan kebiasaan membaca siswa sejak masuk atau di terima di sekolah dengan memberikan buku-buku yang sesuai dengan usia dan minat siswa, mendorong dan memotivasi Bapak/Ibu guru aktif menulis secara berkala dengan tema yang disesuaikan dengan minat masing-masing Bapak/Ibu guru, membuat lingkungan belajar yang kondusif (jauh dari budaya kekerasan), menggunakan teknologi dalam pembelajaran, mendorong diskusi dan refleksi dalam membantu siswa mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang apa yang mereka baca, dan memberikan umpan balik dan dukungan dari Bapak/Ibu guru kepada siswa untuk membantu siswa meningkatkan kemampuan literasi mereka.   

Refleksi

Gerakan Literasi Nasional yang sudah berlangsung selama ini, ternyata masih memunculkan beberapa pertanyaan mendasar yang sangat memprihatinkan, yaitu mengapa indeks literasi masih rendah? Untuk mengurai hal ini ada beberapa faktor yang mengakibatkan indeks literasi kita masih rendah khususnya di sekolah. Faktor pertama, kurangnya minat membaca baik pada diri siswa dan guru. Menurut hasil indeks aktivitas literasi membaca yang dilakukan Kemendikbudristek, indeks literasi rendah karena pemanfaatan buku-buku bacaan yang ada di perpustakaan sekolah belum baik. Berdasarkan hasil Asesmen Nasional, tingkat literasi satu dari dua siswa rendah secara nasional. Padahal, dengan membaca kita memiliki banyak manfaat seperti meningkatkan aktivitas otak, menambah pengetahuan, dan mengasah daya ingat. Beban guru yang semakin banyak terkait administrasi sekolah, juga menyebabkan keengganan untuk memiliki budaya membaca apalagi menulis.

Faktor kedua, pengaruh dan peran keluarga menjadi sangat penting untuk meningkatkan literasi. Keluarga berperan dalam memberikan kasih sayang, memberikan nasihat, dan diskusi tentang apa yang telah dilakukan anak. Hal ini pun juga berlaku pada Bapak/Ibu guru yang memiliki anak di rumah. Peran keluarga, khususnya orang tua sangat berpengaruh pada perkembangan anak dalam hal mempengaruhi kemampuan membaca, menulis, bernalar, dan juga berhitung.

Faktor ketiga, massifnya pengaruh televisi dan penggunaan ponsel. Televisi dengan berbagai macam jenis tayangannya menyebabkan anak-anak usia sekolah enggan untuk membaca, kebiasaan membaca di kalangan anak-anak menjadi turun. Hal ini diperparah lagi dengan penggunaan ponsel yang setiap hari dibawa dan digunakan para siswa. Dengan ponsel “pintar”nya itu, siswa bisa mencari apapun sumber informasi dan hiburan yang mereka inginkan, sehingga hal ini mengakibatkan bergesernya minat siswa untuk membaca buku dan menulis.

Faktor keempat, sarana dan prasarana yang kurang menunjang dalam pengembangan literasi di sekolah. Hal ini sangat terlihat jelas perbandingannya antara sekolah di dalam kota dengan sekolah di luar kota/pinggiran. Selain itu ketersediaan buku di perpustakaan sekolah yang kurang atau tidak lengkap.

Faktor kelima, iklim dan kualitas pendidikan yang tidak sama antara satu daerah dengan daerah yang lain, dan antara satu sekolah dengan sekolah yang lain. Masih ditemukan misalnya sekolah yang masih kekurangan tenaga pendidik, selanjutnya model pembelajaran yang masih monoton dan konvensional. Padahal metode mengajar, prosedur, dan kemampuan guru merupakan alat utama untuk mewujudkan tujuan pembelajaran, tak terkecuali dalam pengembangan literasi.  

Konklusi

Pengembangan Gerakan Literasi baik di tataran keluarga, sekolah, dan masyarakat harus tetap terus digaungkan dan disyiarkan. Walaupun dalam perjalanannya masih terdapat berbagai macam kendala, namun jangan sampai menyurutkan semangat untuk menggaungkan budaya literasi. Ada banyak cara dan upaya yang bisa kita lakukan bersama untuk meningkatkan literasi. Diantaranya adalah, menerapkan kegiatan literasi yang efektif dan menarik perhatian. Menyediakan sarana dan prasarana yang menunjang peningkatan literasi. Melakukan kolaborasi dengan semua pemangku kepentingan untuk menumbuhkembangkan budaya membaca dan menulis. Melakukan dan menemukan model pembelajaran yang tidak membosankan.

Pepatah bijak mengatakan “jika membaca adalah cara agar kita mengenal dunia, maka menulis adalah cara agar dunia mengenal kita”, maka dari sekarang marilah kita semua mulai semangat dan aktif membaca dan menulis, agar kita mengenal dunia, dan agar dunia mengenal kita.  

Berita Terkait

Hot this week

Berita Terbaru

Popular Categories