Peristiwa

Berubah Jadi Fitnah, Warga Parang Ini Menyesal Curhat ke Akun Andayani Sera

Magetan – Angga tampak bergegas meninggalkan Mapolres Magetan usai menjalani pemeriksaan tim penyidik reskrim. Dia seperti tak ingin bertemu siapapun.

“Saya tak menyangka akan sampai begini jadinya. Sungguh menyesal. Malu pada banyak orang,” kata warga Pragak, Parang ini di parkiran depan Mapolres, Kamis (14/04/20222).

Angga diperiksa terkait laporan yang tertulis atas namanya dan Eko Yulianto. Laporan yang dikaitkan dengan proses rekrutmen perangkat Desa Pragak. Keduanya memang jadi peserta yang mengikuti ujian perangkat Desa Pragak.

“Saya tak membuat laporan tersebut. Di depan penyidik saya memastikan hal itu. Apalagi, ejaan nama, gelar dan tanda tangan juga salah,” katanya.

Eko juga sama. Tak pernah membuat laporan pengaduan terkait hasil rekrutmen perangkat desanya. “Kami ini menerima hasil tes perangkat desa. Sudah ikhlas. Jadi tak pernah membuat laporan itu,” kata Eko.

Proses rekrumen perangkat Desa Pragak telah selesai 25 Maret 2022 lalu, dengan dilantiknya perangkat terpilih.

Beberapa hari lalu, keduanya menerima surat panggilan dari Polres Magetan terkait laporan yang tak pernah dibuatnya itu.

Eko mengaku santai dengan adanya surat panggilan itu karena merasa tak melakukannya. Namun, berbeda dengan Angga.

Angga sangat gelisah, kalut, dan bingung. Di tengah perasaaan yang gundah itu, Angga mengirim info panggilannya ke akun FB Andayani Sera. Angga mengirim foto surat panggilan ke akun tersebut melalui layanan perpesanan yang tersedia di FB.

“Saya mengira akun ini milik polisi di tingkat mabes atau polda. Saya tak pernah berurusan dengan polisi sehingga awalnya mau minta pendampingan,” cerita Angga.

Angga menyesal karena akun Andayani Sera dianggapnya telah menyebarkan fitnah.

“Semuanya kemudian tak sesuai fakta. Dikatakan ada anggota polisi mengintimidasi untuk menutup mulut. Itu tidak benar. Justru sebaliknya, Mas Pras sangat baik dan kami banyak berbicara soal lain, dan banyak bercanda,” jelasnya.

Padi ditanam tumbuh ilalang. Angga yang introvert itu mengikuti proses rekrutmen perangkat desa tak memberitahu siapapun. Maksudnya, tak mau merepotkan siapa-siapa. Pun ketika ada laporan pengaduan rekrutmen itu. Angga tak bercerita. Ia memilih akun FB yang tak pernah dikenalnya untuk curhat.

Angga merasa seperti terhipnotis. “Karena awalnya saya menganggap akun ini milik polda atau mabes.”

Dan, tak seperti yang dibayangkan. Curhatan itu berbuah penyesalan.

“Saya menyesal sekali. Ternyata, akun Andayani Sera itu malah menyesatkan. Saya hanya mengirim foto tapi justru postingan berkembang sedemikian rupa. Ini merugikan saya dan banyak orang karena informasinya jadi tidak sesuai fakta. Akun ini ditunggangi kepentingan politik sepertinya,” ungkap Angga.

Akun FB Andayani Sera ini kerap memosting sesuatu dengan bahasa yang kasar, kadang mengumpat, dan menghakimi tanpa bisa diklarifikasi karena tak jelas pemiliknya. Mirip akun hantu.

“Ini pelajaran bagi saya. Semoga masyarakat tak mengalami kesialan seperti saya. Jadi, berhati-hati berhubungan dengan akun media sosial yang tidak kita kenal. Atau, akan bernasib seperti saya,” pesan Angga. (far/mk)

Print Friendly, PDF & Email

Add Comment

Click here to post a comment