Buku Sang Surya di Gunung Lawu, Sumbangsih Besar Muhammadiyah Magetan

Magetan – Muhammadiyah Magetan memberi sumbangsih besar bagi kota di kaki gunung Lawu ini dengan menerbitkan sebuah buku. Buku tentang sejarah Muhammadiyah di Magetan berjudul “Sang Surya di Gunung Lawu”.

Buku ini dibedah dalam acara Tabligh Akbar yang menghadirkan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Profesor Abdul Mu’ti, di Pendopo Surya Graha, Sabtu Malam (6/5/2023).

“Ini menjadi tantangan tersendiri buat saya karena latar belakang saya bukan sejarawan. Saya guru kimia di Karas,” kata sang penulis buku, Samsul Hidayat.

Dalam bukunya, Samsul menceritakan Muhammadiyah di Magetan, ada pertama kali di wilayah Barat. Dia menemukan bukti otentik, tentang peninggalan sekolah Muhammadiyah di Barat yang pada zaman Belanda tahun 1930-an.

Muhammadiyah berkembang pesat di Magetan mulai sekitar 1960-an dengan ditandai berdirinya lembaga pendidikan mulai dari tingkat TK. Tulisan di buku berlanjut hingga perkembangan Muhammadiyah di era sekarang.

Bupati Magetan Suprawoto mengapresiasi lahirnya buku sejarah Muhammadiyah di Magetan.

“Saya terharu. Saya mengajak semua untuk mencatat peristiwa. Karena dengan catatan itu, kita mewariskan hal yang berharga bagi anak cucu kita. Menulis itu memberikan monumen yang tak kalah megah dengan bangunan monument yang dibangun seperti Monas dan yang lain,” paparnya.

Seperti melanjutkan pentingnya menulis ini, dalam ceramahnya, Profesor Abdul Mu’ti mengatakan dengan menulis, Islam menjadi berkemajuan.

Menurut dia, dalam risalah Islam, perintah pertama itu membaca. Bacalah dengan menyebut Tuhanmu yang menciptakan, yang mencerdaskan manusia dengan pena.

“Wahyu pertama itu memiliki tiga makna dalam konteks islam meletakkan dasar membangun peradaban. Yakni, dasar teologis, Tuhan yang telah menciptakan. Lalu, Tuhan yang mendidik manusia dengan pena. Mengajarkan manusia yang belum diketahui sebelumnya, Serta reading dalam arti menghimpun, mengumpulkan fakta, dan menganalisa,” jelasnya.

Tradisi menulis di Islam berkembang setelah itu. Abdul Mu’ti mengatakan menulis itu memberikan legacy terhadap peradaban.

“Ini warisan yang bisa menembus ruang dan waktu. Dari puluhan arti Alquran, yang paling banyak itu artinya bacaan,” katanya.

Bedah buku dan Tabligh Akbar di Pendopo ini merupakan bagian dari pra musdya Muhammadiyah dan Aisiyah Magetan yang akan digelar pada 14 Mei mendatang. (far/mk)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terkait

Hot this week

Raih WTP 12 Kali Berturut-turut, Plt Ketua DPRD Magetan: Bukti Komitmen Tata Kelola Keuangan yang Akuntabel

Sidoarjo – Di tengah prahara kasus dugaan korupsi Pokir,...

Idul Adha 2026, Pesantren Baitul Qur’an Al Jahra Magetan Sembelih 8 Sapi dan 42 Kambing Kurban

Magetan — Pesantren Baitul Qur’an Al Jahra Magetan melaksanakan...

Syuting Kelima ‘Reality Show’ TV Eropa di Indonesia, Tiga Kali Mampir Magetan

Magetan – Magetan punya daya tarik luar biasa bagi...

Idul Adha 2026, Pemkab Magetan Salurkan 40 Kambing dan 4 Sapi Kurban ke Masjid dan Masyarakat

Magetan – Pemkab Magetan menyalurkan hewan kurban menjelang Hari...

Terbaru

Popular Categories