Peristiwa

Cegah Intoleransi pada Anak, Diana Sasa Dekati Guru TK Magetan

Magetan – Politisi PDI Perjuangan Diana Sasa prihatin melihat beberapa video viral di internet yang menampilkan anak-anak membawa simbol agama dan melontarkan ujaran kebencian.

“Saya bahkan melihat sendiri di sekitar saya, ada anak yang merundung temannya yang berbeda agama. Ini tentu salah. Sebagai orangtua dan guru, ini jadi PR kita bersama untuk mengajarkan sikap toleran kepada anak-anak baik di rumah maupun di sekolah,” kata Sasa di hadapan seratusan guru TK se-Magetan, dalam acara Sosialisasi Wawasan Kebangsaan bertema “Mewaspadai Infiltrasi dan Propaganda Kelompok Intoleran pada Dunia Pendidikan”, Minggu (13/03/2022) di Desa Randugede, Plaosan, Magetan.

Menurut Diana Sasa mengajarkan toleransi pada anak usia dini bisa dimulai dari menumbuhkan kecintaan pada tanah air dan bangsa.

“Mari kita biasakan ajak anak didik untuk mensyukuri nikmat lahir di Indonesia, nikmat menjadi bangsa Indonesia. Tanah yang subur, air yang melimpah, udara yang segar, ini semua patut disyukuri. Coba jika kita lahir di Arab atau di Amerika, mungkin kita tak tahu nikmatnya tempe goreng yang ditanam dari bumi Indonesia,” ujar Sasa sambil bercanda.

Dulu, semoga sekarang sudah tidak ada lagi, di Magetan ada sekolah yang tidak mau melaksanakan upacara bendera. Ini bukan saja, bertentangan dengan nilai Pancasila, kepahlawanan, tapi lebih dari itu tidak bersyukur karena lahir dan hidup di Indonesia yang gemah ripah loh jinawi,” jelasnya.

Keragaman hayati, flora dan fauna, ribuan suku, bermacam agama dan kepercayaan, adalah asal mula keragaman budaya dan tradisi bangsa Indonesia.

“Sudah sejak zaman nenek moyang kita ini ditakdirkan berbeda. Dan kita juga telah diajarkan oleh para pendiri bangsa untuk menghargai perbedaan, maka kita punya semboyan Bhineka Tunggal Ika. Mari ini kita jaga dan lestarikan dengan mengajarkan pada anak-anak kita,” pinta Sasa lagi.

Diana Sasa menekankan tanggung jawab para pendidik untuk terus memantau perkembangan sikap intoleransi dalam proses pembelajaran, terutama di jenjang pendidikan usia dini.

Sementara itu, Kapolsek Takeran, AKP Endro Warsito yang juga menjadi pembicara dalam acara ini, mengatakan sikap-sikap intoleransi masuk ke anak-anak melalui perangkat digital.

“Dulu, di rumah HP cuma satu atau dua untuk orang tua saja. Sekarang, anak-anak sudah dibekali HP. Nah, hasutan, ujaran kebencian, dan hoax itu masuk melalui gawai yang dipakai anak-anak kita,” jelasnya.

Akibatnya, kata Endro, di era perkembangan masyarakat digital (digital society), risiko anak-anak terpapar sikap intoleransi dan radikalisme makin besar.

Endro mengatakan ujaran kebencian, hoax diproduksi dengan sistematis. Biasanya hal itu dibuat menjelang pemilu.

“Kalau kita berkaca pada pemilu 2014, ujaran kebencian atau hoax yang disebar melalui medsos oleh kelompok tertentu sebenarnya sudah disiapkan 10 tahun sebelumnya,” katanya.

Endro berpesan agar para pendidik menjaga anak-anak dari pengaruh intoleransi, ujaran kebencian, dan hoax yang masuk melalui aplikasi perpesanan, dan channel youtube yang juga mudah ditonton bebas oleh anak-anak.

“Harus ditumbuhkembangkan literasi informasi anak sejak dini agar tidak mudah terjerumus pengaruh negatif teknologi informasi dan internet,” pungkasnya. (far/mk)

Print Friendly, PDF & Email

Add Comment

Click here to post a comment