Peristiwa

Di Monumen Pers Nasional Solo, Ada Koran Edisi 1815 dan Piranti Siar Radio Kambing

Solo – Bagaimana ketika para jurnalis dari Magetan mengunjungi Monumen Pers Nasional di Surakarta? Kagum. Sebab, di monumen tersebut, terekam dengan baik perjalanan dunia pers di Indonesia.

“Di monumen inilah, rumah kelahiran Hari Pers Nasional. Sebab, di aula ini, tanggal 9 Februari 1946 dilaksanakan Kongres Wartawan Indonesia untuk kali pertama. Di sini pula lahirnya organisasi PWI,” kata Kepala Monumen Pers Nasional, Widodo Hastjaryo, Jumat (3/12/2021).

Hal tersebut dikatakan Widodo saat menerima rombongan Media Gathering 2021 Diskominfo Magetan bersama 50an wartawan. Menurut dia, di monumen yang dulunya adalah Societeit Mangkoenegaran tersebut, terdapat jejak perjalanan pers di Indonesia, dari zaman sebelum kemerdekaan hingga era sekarang.

Di sini juga terdapat koran Jong Gov Gaze terbitan 23 Mei 1816. Saat ini, koran juga majalah dari seluruh penjuru Nusantara tersebut, sedang dilakukan proses digitalisasi. “Yang sudah didigitalisasi ada sebanyak 154 ribu edisi koran dan majalah. Dari zaman dulu sampai hari ini,” tambah Widodo.

Di monumen ini, juga ada piranti siar dan beberapa aset RRI Surakarta. Sebab, pada Agresi Militer Belanda II 1948-1949, adalah masa sulit untuk insan penyiaran.

Kru RRI Surakarta harus siaran dari tempat persembunyian di daerah Balong, Kec. Jenawi, Kab. Karanganyar, Jateng, di lereng barat Gunung Lawu.

Saat itu, RRI Surakarta juga dikenal dengan “Radio Kambing”. Sebab, saat siaran terkadang terselip suara embik kambing dari kandang milik tetangga tempat persembunyian di Balong.

Monumen ini juga menyimpan banyak koleksi. Seperti, berbagai koran lawas, kamera, mesin ketik, radio, televisi dan piranti kerja insan pers lainnya.

Di monumen yang berlokasi di Jl. Gajahmada No.59, Timuran, Kec. Banjarsari, Surakarta tersebut, juga terdapat Pojok Pers, Logo HPN dari masa ke masa, serta Jokowi Corner. Juga menyimpan banyak cerita tentang Kongres Wartawan Indonesia di Solo.

Menurut Kepala Bidang Informasi Komunikasi Publik (IKP) Diskominfo Pemkab Magetan, Eko Budiono, diharapkan dari Media Gathering di Monumen Pers Nasional di Solo ini, para wartawan yang bertugas di Magetan, meneladani apa yang diperjuangkan tokoh-tokoh serta perjuang pers dalam membela kemerdekaan Indonesia.

“Dengan teladan dari para tokoh pers ini, wartawan yang ngepos di Magetan, bisa mengambil sesuatu yang positif untuk menambah ilmu menuju profesionalisme dalam berkarya,” terang dia.

Eko lantas mengutip quotes dari Napoleon Bonaparte, “Saya lebih takut dengan penanya wartawan daripada menghadapi seribu orang prajurit.” Quotes tertulis di aula Monumen Pers Nasional.

Media Gathering 2021 ini diberangkatkan oleh Kadiskominfo Cahya Wijaya. Rencananya gathering berlangsung dua hari, Jumat & Sabtu (3-4/12/2021) di Monumen Pers Nasional Solo dan Plut UMKM Jogja. * (rif)

epala Monumen Pers Nasional, Widodo Hastjaryo, Jumat (3/12/2021).

Hal tersebut dikatakan Widodo saat menerima rombongan Media Gathering 2021 Diskominfo Magetan bersama 50an wartawan. Menurut dia, di monumen yang dulunya adalah Societeit Mangkoenegaran tersebut, terdapat jejak perjalanan pers di Indonesia, dari zaman sebelum kemerdekaan hingga era sekarang.

Di sini juga terdapat koran Jong Gov Gaze terbitan 23 Mei 1816. Saat ini,koran juga majalah dari seluruh penjuru Nusantara tersebut sedang dilakukan proses digitalisasi. “Yang sudah didigitalisasi ada sebanyak 154 ribu edisi koran dan majalah. Dari zaman dulu sampai hari ini,” tambah Widodo.

Di monumen ini, juga ada piranti siar dan beberapa aset RRI Surakarta. Sebab, pada Agresi Militer Belanda II 1948-1949, adalah masa sulit untuk insan penyiaran.

Kru RRI Surakarta harus siaran dari tempat persembunyian di daerah Balong, Kec. Jenawi, Kab. Karanganyar, Jateng, di lereng barat Gunung Lawu.

Saat itu, RRI Surakarta juga dikenal dengan “Radio Kambing”. Sebab, saat siaran terkadang ada suara embik kambing dari kandang milik tetangga tempat persembunyian di Balong.

Monumen ini juga menyimpan banyak koleksi. Seperti, berbagai koran lawas, kamera, mesin ketik, radio, televisi dan piranti kerja wartawan lainnya.

Di monumen yang berlokasi di Jl. Gajahmada No.59, Timuran, Kec. Banjarsari, Surakarta tersebut, juga terdapat Pojok Pers, Logo HPN dari masa ke masa, serta Jokowi Corner. Juga menyimpan banyak cerita tentang Kongres Wartawan Indonesia di Solo.

Menurut Kepala Bidang Informasi Komunikasi Publik (IKP) Diskominfo Pemkab Magetan, Eko Budiono, diharapkan dari Media Gathering di Monumen Pers Nasional di Solo ini, para wartawan yang bertugas di Magetan, meneladani apa yang diperjuangkan tokoh-tokoh serta perjuang pers dalam membela kemerdekaan Indonesia.

“Dengan teladan dari para tokoh pers ini, wartawan yang ngepos di Magetan, bisa mengambil sesuatu yang positif untuk menambah ilmu menuju profesionalisme dalam berkarya,” terang dia.

Eko lantas mengutip quotes dari Napoleon Bonaparte, “Saya lebih takut dengan penanya wartawan daripada menhadapi seribu orang prajurit.” Quotes tertulis di aula Monumen Pers Nasional.

Media Gathering 2021 ini diberangkatkan oleh Kadiskominfo Cahya Wijaya. Rencananya gathering berlangsung dua hari, Jumat & Sabtu (3-4/12/2021) di Monumen Pers Nasional Solo dan Plut UMKM Jogja. (ant/mk)

Print Friendly, PDF & Email

Add Comment

Click here to post a comment