Peristiwa

Ini Alasan Diana Sasa Laporkan Akun Facebook Andayani Sera

Magetan – Ini cerita perempuan di hari kebesarannya, hari Kartini. Perempuan yang memperjuangkan kebenaran atas tuduhan tak berdasar. Dia pilih untuk melaporkan tuduhan terhadapnya ke kantor polisi.

Adalah Diana Amaliyah Verawatingsih, anggota DPRD Jawa Timur. Dia melaporkan akun Fecebook Andayani Sera pada Polres Magetan atas tindakan fitnah dan pencemaran nama baik, Kamis (21/4/2022). Tak lama setelah akun Facebook Andayani Sera memosting tentang dugaan perselingkuhannya.

Kasat Reskrim Polres Magetan, AKP Rudy Hidajanto membenarkan aduan yang disampaikan Diana Sasa. “Kami akan meminta petunjuk pimpinan, untuk disposisi dan mengambil langkah lebih lanjut,” katanya. 

Berikut wawancara magetankita.com (MK) dengan Diana Sasa (DS):

MK: Apa alasan melaporkan akun Facebook Andayani Sera atas postingan tentang Anda?

DS: Pertama, jelas karena itu tidak benar. Fitnah. Selama ini tidak ada yang mau speak up, berbicara, tentang postingan di akun tersebut bahwa apa yang diungkap itu hoaks. Karena itu, kebenaran harus diungkapkan. Saya berprinsip Satyam Eva Jayathe.

Saya berani bersuara karena yakin akan kebenaran yang saya pegang. Jika difitnah dan saya membiarkannya, maka si pemfitnah akan menciptakan kebenaran versi dia sendiri. Ini bahaya. Kebohongan yang diulang terus-menerus akan bisa dianggap sebagai kebenaran, begitu kan kata Adolf Hitler?

Masyarakat perlu tahu dong kebenaran versi saya. Karena saya figur publik, ada  moral etik yang harus saya pertanggungjawabkan.

 

MK: Apa dampak postingan yang Anda anggap tidak benar itu terhadap Anda dan keluarga?

DS: Ini tidak hanya melukai secara pribadi. Akan tetapi, juga berkaitan erat dengan keluarga, anak-anak saya, dan kolega.

Saya memiliki keluarga. Anak-anak saya kelak akan menemukan jejak digital saya. Saya tidak mau anak saya menganggap apa yang dia tulis itu sebagai fakta.

 

MK: Dalam postingan akun Andayani Sera Anda disebut-sebut punya hubungan khusus dengan Joko Suyono, lalu anggota Intel Polres. Apa yang bisa Anda jelaskan?

DS: Saya dengan keluarga Pak Joko itu sudah seperti keluarga sendiri, seperti kakak adik. Kami sering kumpul bareng. Bahkan saya berhutang budi pada keluarga beliau karena yang menampung saya pada saat awal tinggal di Magetan. Ayah ibu saya juga kenal baik. Memang, selama beliau memegang tampuk kepemimpinan di partai dan DPRD, saya ada banyak mendampingi sebagai teman diskusi politiknya. Ya, kalau dianggap konsultan enggak juga, tapi memang sharingnya banyak dengan saya. Mungkin saya satu-satunya perempuan yang diizinkan istri Pak Joko (Bu Dhyta) untuk sering mendampingi Pak Joko dalam banyak hal. Sedekat itu kami

Lalu, saya dengan Pras sudah lama kenal. Sering ngopi bareng. Seakrab saya dengan teman media dan penggemar sepakbola lainnya. Saya kenal baik istrinya, anak-anak kami sering bermain bersama. Kebetulan memang kami sering berdiskusi tentang politik atau hal lain. Nyambung saja gitu. Seperti adik saya lah dia itu. Kalau saya salah ya diingatkan. Kalau dia salah ya saya marahi. Mungkin karena profesi kami ya, kemudian orang beranggapan lain ketika kami sering bersama. Padahal ya biasa saja. Seperti pertemanan lainnya. Dua sahabat yang sevisi dan saling mendukung. Kami paham sampai di mana batas-batas kami.

 

MK: Apa harapan Anda pada aparat penegak hukum?

DS: Saya berharap Kepolisian Resort Magetan bekerja secara profesional dan berintegritas. Sehingga, hukum harus diproses dan ditegakkan seadil-adilnya.

 

MK: Apa pelajaran terpenting dari kasus ini?

DS: Kasus ini harus menjadi pelajaran kita semua, bahwa bermedia sosial itu harus bijak dan hati-hati. Tidak bisa sebar fitnah atau ujaran kebencian sembarangan. Justru sebaliknya, kita harus perangi hoaks dan ujaran kebencian. Boleh-boleh saja mengkritik melalui media sosial. Bagus malah, ini kan era keterbukaan. Siapa saja bebas bicara menyampaikan pendapatnya.

Tapi, semua ada koridornya, ada aturan mainnya, tidak bisa seenaknya sendiri. Kalau mau mengkritik ya gunakan bahasa yang baik. Siapkan data penunjang, supaya tidak hanya menjadi ujaran-ujaran kosong tendensius kebencian. *

 

Print Friendly, PDF & Email

Add Comment

Click here to post a comment