Home » Guyon Bisa Bangun Toleransi, Asalkan Begini
Opini

Guyon Bisa Bangun Toleransi, Asalkan Begini

Budaya Guyon Sebagai Sistem Pembangunan Toleransi

*Akbar Buntoro 

TIDAK terasa pada Tanggal 2 atau 3 April 2022, Umat islam Indonesia secara resmi telah memasuki salah satu bulan yang sangat disucikan dalam keyakinannya yang biasa disebut dengan Bulan Ramadan. Secara pasti memang terdapat peralihan status dari sesuatu yang profan menjadi sesuatu yang sakral pada bulan ini mengingat pada bulan ini diyakini bahwa kitab suci umat islam turun atau yang biasa dikenal dengan prosesi Nuzulul Qur’an.

Selain daripada itu, pada Bulan Ramadan juga terdapat satu ibadah bagi umat islam yang tidak terdapat pada bulan-bulan lainnya yaitu ibadah puasa ramadhan selama satu bulan penuh. Perubahan sesuatu yang dianggap profan oleh satu orang tertentu terkadang bisa menjadi sakral oleh beberapa kalangan beragama, mengingat terdapat beberapa nilai-nilai khusus yang dimiliki oleh kaum-kaum beragama.

Dalam dinamikanya, kehadiran bulan suci tersebut terkadang masih saja dibumbui dengan kekisruhan khususnya di dunia maya, sebagai contoh masih saja terdapat pro-kontra terkait himbauan kepada para pemilik usaha kuliner untuk tutup seperti yang dilakukan oleh MUI Bekasi.

Memang perihal pro-kontra bukanlah sesuatu yang bisa dihindari di Negara yang mencoba membangun sistem demokrasi, terlebih hari ini sudah masifnya penggunaan sosial media bagi masing-masing individu.

Terlepas dari legitimasi hak dalam ber-demokrasi bagi masing-masing individu yang menyatakan pendapatnya pada kasus di atas, namun yang perlu diperhatikan kembali adalah masih diperlukannya satu pemahaman yang baik mengenai bagaimana korelasi antara toleransi dan demokrasi itu sendiri. Hari ini tidak terhitung jumlah masyarakat dunia maya yang berasal dari Indonesia yang kerap kali melakukan tindakan-tindakan bullying dan lain sebagainya kepada pihak yang dirasa tidak satu suara dengannya.

Memang dalam beberapa kasus kita bisa melihat minimnya kasus-kasus bullying yang berkaitan karena perbedaan ormas besar di Indonesia (baca: NU dan Muhammadiyah) yang setidaknya dalam satu dekade yang lalu sangat menjadi isu yang sensitif, atau misalkan mulai minimnya kekisruhan yang disebabkan karena perbedaan penetapan 1 Ramadan . Namun ternyata dalam hal bulan yang bagi umat islam anggap suci ini pun masih bisa terjadi gesekan hanya karena himbauan penutupan usaha kuliner.

Setelah beberapa kali saya coba renungi, khususnya alasan mengapa beberapa isu yang saya sebutkan diatas mengalami penurunan intensitas kejadiannya, ternyata hal tersebut lagi-lagi media sosial yang menjadi penyebab utamanya. Jika diperhatikan dalam peredaran dunia maya khususnya di twitter, akan banyak sekali kita temukan beberapa akun yang mengatasnamakan satu ORMAS atau agama tertentu dengan disematkan kalimat “Garis Lucu” setelahnya, dan akun-akun ini yang terkadang memberikan konten-konten atau komen-komen terhadap konten yang sarat akan nilai guyonan.

Jika ditilik dari segi kebahasaan, guyon dapat diartikan sebagai “bergurau” atau jika dia menjadi satu kata kerja adalah “guyonan” yang dimana pada titik ini saya mencoba mengabstraksikan pastinya dilakukan lebih satu orang.

Tentunya sangat menarik jika pada akhirnya budaya guyon yang sangat sarat akan nilai-nilai kekeluargaan atau persahabatan ini bisa menjadi landasan tatkala terdapat interaksi yang melibatkan lebih dari satu orang.

Sudah banyak contoh yang bsia menjadi pelajaran bagaimana guyon ini pada akhirnya menjadi satu tali penemu antara dua pihak atau lebih yang sedang berinteraksi, contohnya masih ingat di benak kita bagaimana banyak yang mengguyoni tatkala terdapat perbedaan penetapan Tanggal 1 Ramadhan, yang dimana bagi mereka yang memulai puasa pada Tanggal 3 April atau 1 Hari setelah yang memulai pada 2 April membuat tweet, story WA, dan lain sebagainya yang sarat akan nilai-nilai guyon seperti, “Enaknya besok siang masing bisa ngopi” blaa blaaa.

Saya kira kedepannya perlu ada guyon-guyon yang lain tatkala harus menghadapi sesuatu yang dinilai berpotensi dapat menciptakan konflik tertentu. Tentunya apa yang saya sebut sebagai guyon sebagai solusi konkrit tersebut perlu terdapat batasan-batasan yang bisa ditakar sesuai dengan pemahaman masing-masing individu dan tidak kebabablasan (kalau kata orang jawa). *

*Pemuda biasa dari Maospati

image_pdfimage_print

Add Comment

Click here to post a comment