Sidorejo  - Siang itu, Kades Sambirobyong Kecamatan Sidorejo Kabupaten Magetan, Sukarna, sedang melihat beberapa pekerja di sawahnya, yang tidak jauh dari kantor desa. Melewati pematang sawah yang mulai mengering, karena beberapa hari ini, memang belum turun hujan.

Sesekali ia berhenti, melihat tanaman ubi jalar yang membusuk di tengah areal sawah. “Ubi ini diserang hama, orang sini bilang boleng,” katanya sembari menunjukkan ubi jalar yang berlubang dan membusuk, Senin (10/02/2020)

Ubi tersebut, memang sengaja dibiarkan membusuk di sawah, menyatu dengan tanah. Karena memang tidak bisa dimanfaatkan sama sekali. “Buat pakan ternak pun tidak bisa, (kalau misalnya buat pakan sapi,red) sapinya bisa mati keracunan,” katanya.

Hama boleng yang menyerang tanaman ubi jalar miliknya, mengubur impian orang nomor satu di desa Sambirobyong ini. “Kalau tidak diserang hama boleng, mungkin saya bisa mendapatkan uang sekitar 125 juta rupiah,” ujarnya sembari menunjukkan luas tanahnya yang mencapai hampir dua hektar tersebut.

Apa daya, akibat serangan hama boleng itu, ia hanya bisa meraup 17 juta rupiah dari hasil panen awal tahun ini. “Ya seperti ini namanya petani, kadang untung kadang rugi,” sambungnya sembari tersenyum.

Memang, harga ubi jalar jenis cilembu yang ditanam olehnya, lagi bagus. Satu kilogram dari petani dihargai 2.500 rupiah. “Rata-rata satu hektar bisa menghasilkan 25 ton ubi jalar, bahkan bisa lebih” ujarnya.

Tidak hanya dirinya, petani lain juga mengalami hal yang sama. Dari total lahan seluas 70 hektar yang ditanami ubi jalar, 75 persen rusak. “Jadi yang bisa dijual hanya 25 persen dari total tanaman ubi jalar di sini,” tambah kades yang sudah memimpin dua periode ini.

Sebagai sentra tanaman ubi jalar, Sukarna tidak mau menyerah begitu saja. Ia merencanakan akan mengadakan pelatihan budidaya ubi jalar, agar petani di desanya bisa terlepas dari serangan hama boleng. “Tahun ini kita anggarkan, dan kita akan melibatkan dinas terkait,” terangnya. (tl/mk)

VIDEONYA KLIK DI SINI


 

MagetanKita TV