Presiden Joko Widodo (Jokowi) memilih Provinsi Kalimantan Timur sebagai ibu kota negara Indonesia yang baru.

Pilihan tersebut disampaikan di Istana Negara, Jakarta, Senin Siang (26/08).

"Lokasi ibu kota baru yang paling ideal adalah di sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kartanaegara, Provinsi Kalimantan Timur," ujar Jokowi.

Turut mendampingi dalam pengumuman tersebut, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri LHK Siti Nurbaya, Menteri ATR Sofyan Djalil, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, dan Gubernur Kaltim Isran Noor.

Presiden mengatakan rencana untuk pindah ibu kota sudah digagas sejak lama bahkan sejak era Presiden Soekarno. Menurut dia, Indonesia belum pernah merancang sendiri ibu kotanya.

"Banyak pertanyaan kenapa harus pindah?" lanjut Jokowi.

Jokowi menjelaskan beban Jakarta saat ini sudah terlalu berat sebagai pusat pemerintahan, pusat bisnis, pusat keuangan, pusat perdagangan, dan pusat jasa. Kedua, karena beban Pulau Jawa yang semakin berat, penduduk sekitar 150 Juta Jiwa atau 54 persen dari total penduduk. Serta, 58 persen Produk Domestik Bruto ekonomi Indonesia ada di Jawa. "Beban semakin berat kalau pindahnya tetap di Pulau Jawa."

Total kebutuhan untuk ibu kota baru sebesar Rp.466 Triliun. Nantinya, 19 persen berasal dari APBN dengan skema kerjasama pengelolaan aset. Sisanya, berasal kerjasama pemerintah dan badan usaha, serta investasi langsung swasta dan BUMN.

 

"Saya paham hal ini membutuhkan persetujuan DPR. Tadi pagi, Saya berkirim surat ke ketua DPR lengkap dengan hasil kajian," kata Jokowi.

Pemerintah selanjutnya akan segera menyelesaikan RUU untuk disampaikan ke DPR.


 
 

#BersatuLawanCorona

MagetanKita Podcast

MagetanKita TV