Magetan - Penyuluh Agama di bawah naungan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Magetan dinilai memiliki peran penting dalam menangkal paham radikalisme. Sebab, para penyuluh tersebut bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Berpijak dari situlah, dalam pertemuan rutin Penyuluh Agama, diisi materi tentang apa itu radikalisme. Pemateri berasal dari Polres Magetan. Dia adalah yaitu Bripka Suprastiyo, yang juga pembina Penyuluh Agama bidang Radikalisme.

"Magetan ini dalam peta penyebaran jaringan teroris di Indonesia adalah kabupaten yang dalam pemantauan khusus. Salah satu indikatornya, ada beberapa oknum masyarakat yang susah ditangkap oleh aparat karena diduga terkait jaringan terorisme," kata Bripka Suprastiyo.

Hingga saat ini, dari data yang dikumpulkan, beber Bripka Suprastiyo, setidaknya ada 35 orang oknum masyarakat di Magetan yang terlibat terorisme. Kemudian, 10 orang lainnya kasus deportasi dugaan hendak bergabung ke ISIS di Suriah.

"Pertemuan rutin dengan Penyuluh Agama ini adalah upaya bersinergi kepolisian. Sehingga, ada peningkatan kemampuan serta sharing informasi guna memonitor dan maping perkembangan jaringan kelompok radikal di Magetan," kata dia.

Menurut dia, Polri terbantu dalam sosialisasi sekaligus menangkal keberadaan paham radikal melalui Penyuluh Agama di lingkungan terkecil.

"Sebab, ketika bersentuhan langsung dengan jaringan kelompok, tidak ada kecurigaan. Sehingga, lebih tersampaikan pesan deradikalisasinya," tutur Bripka Suprastiyo.

Di Magetan sendiri, saat ini terdapat 18 orang tenaga Penyuluh Agama bidang radikalisme. Pembagian masing-masing anggota membina satu wilayah dengan koordinator Ustadz Rofiudin. (ant/mk)