Magetan - Hampir dua tahun pandemi Covid-19 telah mengubah dunia pendidikan. Dari yang tadinya, belajar tatap muka beralih ke belajar di rumah. Mindset orang tua dan guru tentang pendidikan berubah.

Jika, selama ini dipasrahkan pada lembaga pendidikan, maka sekarang orang tua ikut andil. Guru harus terus meningkatkan kompetensinya untuk mengetahui pendampingan anak belajar di rumah.

Pun guru harus berdaptasi dengan dunia digital dalam metode pengajaran.

Terlepas dari berubahnya dunia Pendidikan, Anggota DPRD Jawa Timur Diana Amaliyah Verawatiningsih (Diana Sasa) mengatakan ajaran Ki Hadjar Dewantara tentang Tut Wuri Handayani makin relevan. Guru itu ing ngarsa sing tuladha, di depan memberi teladan amal baik; guru itu ing madya Mangun karsa, di tengah siswa sebagai fasilitator membakar semangat belajar para siswa; guru itu tut wuri handayani, di belakang menjadi pendorong dan pemberi motivasi.

Berikut wawancara MagetanKita (MK) dengan Diana Sasa (DS) di Hari Guru Nasional 2021:

MK: Di era digital saat ini, guru harus memposisikan diri seperti apa?
DS: Digital itu platform di mana ada yang bisa dikerjakan mesin dalam bentuk algoritma, ada juga yang tak pernah tergantikan oleh mesin. Perkalian, perhitungan, rumus-rumus, nama-nama pahlawan, nama-nama ibu kota negara bisa dengan mudah dilacak lewat platform digital. Yang menyangkut database dan pengolahannya serahkan kepada perangkat digital.

Tetapi, keteladanan, pendorong inovasi, penarik picu kreativitas, penguatan karakter dan mental, dan kehangatan manusia tak bisa tergantikan oleh mesin. Di titik inilah guru menjadi penting. Malahan, sangat penting.

MK: Bagi guru, era gadget seperti ini, pondasi apa yang harus diberikan pada anak didik, agar anak tetap berada dalam habibat yang positif?
DS: Tempatkan semuanya kepada proporsinya. Dulu, baca komik atau bermain game itu identik dengan kerja buruk. Nggak belajar. Menyia-nyiakan waktu. Padahal, jika itu dipahami secara kreatif oleh guru, dalam komik itu ada pelajaran sastra, gambar, bahasa, juga imajinasi. Dalam game itu, anak didik bisa belajar koding, musik, kolaborasi, dan bahkan sekarang menjadi olahraga yang positif.

Gadget bukan musuh. Ia sahabat kita dalam belajar asal tahu bagaimana memanfaatkannya. Di tangan seorang chef, pisau bisa melahirkan makanan yang enak. Justru saya menyoroti bagaimana seorang guru bisa berdaya, punya kreativitas dalam mengajar. Tentu saja, ia menjadi teladan dalam hal bagaimana tak bosan-bosan mencari tahu dan berinovasi dalam kelas.

MK: Di masa pandemi, guru memiliki peran vital untuk sosialisasi, apa pesan Njenengan?
DS: Guru bukan lagi pusat pengetahuan. Siswa bisa mendapatkan apa saja yang bersifat kognitif di internet. Guru lebih berperan sebagai fasilitator dan sekaligus harus mampu menangkap kelebihan siswa-siswanya yang kemudian mendorongnya untuk memperdalam kelebihan itu.

Saya kira, ajaran Ki Hadjar Dewantara tentang Tut Wuri Handayani itu malah makin relevan. Guru itu ing ngarsa sing tuladha, di depan memberi teladan amal baik; guru itu ing madya Mangun karsa, di tengah siswa sebagai fasilitator membakar semangat belajar para siswa; guru itu tut wuri handayani, di belakang menjadi pendorong dan pemberi motivasi.

MK: Olah karsa, olah rasa, olah raga, harus dimaknai seperti apa oleh guru di Magetan?
DS: Saya kira, hadirkan kembali ajaran Ki Hadjar Dewantara tentang bagaimana menempatkan siswa bukan sebagai gelas yang kosong. Mereka datang ke sekolah bukan manusia kosong. Mari melihat siswa sebagai manusia dini yang penuh keingintahuan, yang ingin banyak mencoba, yang memiliki energi yang melimpah. Guru mampu bermain bersama mereka: belajar bersama, bekerja bersama, bermain bersama. Guru yang masih menjadi pusat pengetahuan kognitif bakal dilindas oleh zaman ini.

Masih ingat dengan semboyan Ki Hadjar: semua orang adalah guru, semua tempat adalah sekolah. Selamat Hari Guru!