Masa pandemi Covid-19 memberikan tantangan tersendiri dalam pembangunan kepariwisataan berkelanjutan serta budaya lestari. Pun, tidak terkecuali di Magetan. Berikut ini wawancara MagetanKita.com (MK) dengan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Pemkab Magetan, Joko Trihono seputar geliat dunia pariwisata dan kebudayaan di era pandemi.

MK: Sudah dua tahun belakangan, dunia pariwisata dan budaya terdampak langsung pandemi Covid-19. Bagaimana Disparbud menyikapinya?

Kadisparbud: Covid-19 memberikan dampak luar biasa di segala bidang kehidupan masyarakat. Sangat terasa ketika harus menutup tempat wisata ketika PPKM di level 4 dan 3. Serta mendengar keluhan dari para seniman karena hampir tidak ada yang menggunakan jasa mereka.

Tidak  bisa berdiam, Disparbud tetap harus bergerak di tengah tahun penuh tantangan selama 2021. Ini agar ekonomi masyarakat yang menggantungkan diri pada usaha wisata serta usaha seni budaya tetap dapat berjalan.

MK: Apa langkah Disparbud sebagai institusi pemerintah yang membidangi pengembangan wisata dan kebudayaan dalam upaya untuk menyiasati keadaan di era pandemi?

Kadisparbud: Kita tidak dapat berpangku tangan menghadapi keadaan. Walaupun pandemi, berbagai terobosan harus dilakukan demi keberlangsungan pengembangan pariwisata dan budaya.

Banyak yang telah dilakukan diantaranya dengan tetap memberikan pendampingan kepada destinasi wisata dan Desa Wisata, kerjasama dengan berbagai pihak serta mengikuti serta memfasilitasi berbagai even.

MK: Terkait dengan awarding, penghargaan apa saja yang sudah diterima dunia pariwisata dan budaya Magetan?

Kadisparbud: Baru-baru ini, Magetan mendapatkan beberapa penghargaan bidang pariwisata yang diserahkan langsung oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

Penghargaan sebagai apresiasi kepada Desa Wisata ini diberikan kepada Desa wisata Randugede yang meraih kategori Unggulan dalam lomba video profil desa wisata jawa timur 2021. 

Kemudian, Desa Wisata Genilangit, Desa Wisata Randugede, Desa Wisata Simbatan dan Wisata Plered Agung (Desa Mrahu) sebagai Desa Wisata binaan Kemenparenkraf RI. Penghargaan atas raihan sebagai nominator Anugrah Desa Wisata Indonesia diterima oleh Desa Wisata Genilangit dan Desa Wisata Simbatan.

MK: Capaian penghargaan itu tak lepas pula dari keterkaitan pengembangan pariwisata yang disandingkan dengan pembinaan kebudayaan. Apa kuncinya?

Kadisparbud: Kunci keberlanjutan pariwisata akan dapat selalu terjaga apabila didukung oleh budaya yang kuat di masyarakat. Selain itu, berbagai upaya telah kami lakukan sepanjang tahun 2021. Di antaranya, promosi budaya dan pariwisata yang tajuk Gelar Seni Budaya Daerah yang dilangsungkan di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta pada bulan Juli lalu serta keikutsertaan Kabupaten Magetan dalam Festival Budaya Agraris di Malang baru-baru ini.

MK: Disparbud Magetan juga acap kali memberikan kesempatan tampilan kesenian, tari, elekton, wayang orang, ledhug, tongling, wayang kulit, wayang orang dan ketoprak walaupun disuguhkan secara online selalui live streaming. Misi apa yang ingin dicapai?

Kadisparbud: Itu tentang seni budaya. Dan kesempatan kami berikan seluasnya kepada komunitas untuk mengekspresikan diri. Selain itu, dengan bersinergi dengan instansi terkait juga menampung semangat luar biasa dari komunitas-komunitas di Magetan yang bergerak di bidang pariwisata, seni budaya maupun ekonomi kreatif untuk menggelar berbagai even seperti kegiatan sport-tourism maupun berbagai berbagai pameran. Seperti pameran Tosan Aji (keris), tanaman hias maupun kontes Koi, Haul Gubernur Soerjo maupun Festival Soerjo 2021 yang dilakukan sepenuhnya oleh komunitas tersebut dan dimuarakan pada pengembangan pariwisata.

MK: Langkah lain dari Disparbud tentang cagar budaya?

Kadisparbud: Sejauh ini, Disparbud Magetan juga telah melakukan inventarisasi obyek diduga cagar budaya dengan turun langsung melakukan pendataan dan dokumentasi bersama berbagai komunitas penggiat sejarah.

MK: Untuk seni dan budaya, apa saja yang telah dilakukan Disparbud?

Kadisparbud: Untuk kesenian dan kebudayaan, kami juga telah dilakukan kajian pengembangan tarian Jalak Lawu. Selain itu, juga telah diterbitkan kartu induk kesenian kepada 46 grup seni, 481 seniman, dan 70 pelaku seni.

MK: Terkait pemasaran kepariwisataan Magetan, apa yang telah dilakukan Disparbud?

Kadisparbud: Untuk pengembangan pemasaran pariwiswata, selain seperti yang telah dipaparkan diatas juga, Disparbud Magetan juga berperan dalam keikutsertaan dalam  promosi wisata melalui Jatim Virtual Exhiebition 2021 dengan menampilkan potensi wisata secara elektronik yang dapat diakses melalui virtual.jatim.travel.

Lebih dari itu, dengan memanfaatkan seting daerah wisata Magetan, beberapa stasiun TV Nasional juga melakukan pengambilan gambar program acara wisata mereka di Kabupaten Magetan.

MK: Terakhir, apa harapan Anda di tahun 2022?

Kadisparbud: Tahun 2021 memang terasa berat, namun kita harus tetap semangat, tetap bergerak dengan memanfaatkan segala potensi yang ada demi kemajuan pariwisata dan kebudayaan khususnya di Kabupaten Magetan. Semoga tahun 2022 mendatang akan lebih baik dari tahun ini. ** (adv)