Peristiwa

Inilah ‘Pasukan’ DLH Pemkab Magetan, Sikasih, Sijupri, Sitepo, Sijolu, dan Jumingsih

Magetan – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Magetan mengakui Magetan berstatus darurat sampah. Misi yang dikerjakan seperti Mission Impossible. Masih ada sekitar 100 ton sampah setiap hari belum bisa ditangani.

Upayanya sangat keras. DLH memiliki sejumlah program dari hulu hingga hilir untuk menangani sampah di Magetan.

Kepala DLH Magetan, Saif Mukhlissun, mengatakan sudah ada Instruksi Bupati Nomor 1 tahun 2019, yang memerintahkan camat dan kepala desa dan lurah untuk bertanggung jawab terhadap sampah di lingkungannya.

Caranya, membentuk bank sampah, membentuk pokja kebersihan, dan membuat tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST).

“Pelan-pelan ini sudah berjalan. Dari data kami, sudah ada 50 desa/kelurahan yang memiliki sistem pengelolaan sampah. Kalau ini ada di setiap desa, Insya Allah 268 ton sampah di Magetan, bisa tertangani,” jelas Mukhlis, kepada magetankita.com, baru-baru ini.

DLH Magetan melengkapi usahanya menangani sampah dengan sejumlah program edukasi, dengan nama yang unik-unik. Sikasih (Aksi Kali Bersih), Sijupri (Aksi Juput Pilah Ngresiki Sampah), Sijolu (Aksi Ijol Uwuh), Sitepo (Aksi Tebar Kompos), Jumingsih (Jumat Minggu Bersih).

“Sungai ini menjadi tempat sampah terpanjang, karena itu kita buat gerakan Sikasih. Sementara, sijolu hadir di event keramaian, dimana warga bisa tukar sampah plastik dengan makanan dan minuman khas angkringan,” katanya

Sitepo, di wilayah kota ada di TPS Pasar Sayur, Tawanganom, Bulukerto. Bahkan, sampai Kawedanan, hingga Parang. “Sebagian besar kita itu sampah organik. Harapan kami, ini terus menyebar karena komposting ini salah satu cara pengelolaan sampah yg bisa dilakukan di lingkungan masyarakat,” imbuhnya.

DLH berharap gerakan kampanye edukasi sampah ini bisa diikuti warga sehingga semua memiliki kesadaran untuk menangani sampah. (far/mk)

Print Friendly, PDF & Email

Add Comment

Click here to post a comment