Kembang Mekar

Langka, Jasa Penatu Biogas di Sukowodi Nguntoronadi

Nguntoronadi – Jasa penatu atau laundry milik pasangan Agus dan Nita, warga Desa Sukowidi, Kec. Nguntoronadi, Magetan, ini memang tidak terkenal di Magetan. Akan tetapi, cukup kondang di desanya, di Sukowidi. Uniknya, sang istri menggunakan bahan bakar Biogas dari limbah kotoran sapi untuk setrika uapnya.

Untuk memasak pun, keluarga ini juga menggunakan Biogas.

“Awalnya memang takut, tapi lama kelamaan biasa. Menggunakan Biogas lebih hemat karena tidak lagi menggunakan gas LPG 3 Kg,” aku Nita.

Menurut Sekretaris Desa Sukowidi, Yudo Santiko, pemerintah desa berusaha keras mendorong warganya agar memiliki kemandirian energi. “Cita-cita kami agar Sukowidi menjadi Kampung Biogas. Sehingga, kemandirian energi bisa terwujud,” ujar Yudo, Minggu (27/03/2022).

Ia mengatakan, sebagian besar warga hidul dari bertani dan beternak. Sehingga, dapat memenuhi suplai kebutuhan pengisian kotoran ternak atau limbah untuk unit/kubah biogas ukuran 6-10 m3. “Biogas ini sumber energi alternatif yang ramah lingkungan,” terang Yudo mendampingi Kades Sukowidi, Suratman.

Menurut dia, kotoran sapi, awalnya menjadi masalah besar. Ini lantaran hanya dibuang atau ditumpuk di sekitar kandang. Kemudian, lambat laun mengalir ke selokan. Dan, menuju bantaran sungai ataupun sawah warga. “Bau dan kotor jadi biang penyakit. Dampaknya juga mencemari lingkungan.”

Berangkat dari situlah, Pemdes Sukowidi sudah beberapa tahun ini, mendorong warganya untuk mengolah limbah kotoran sapu menjadi Biogas.

Memang belum banyak warga yang memahami potensi tersebut. Mungkin lantaran takut. Namun, sejatinya, tandon, kubah dan perangkat Biogas ini sebenarnya aman.

“Harapan kami ke depan, dalam satu RT bisa urunan juga gotong royong membangun tandon dan instalasi biogas. Sehingga, Biogasnya, bisa dinikmati bareng antar-tetangga,” tambah Yudo yang juga Humas PPDI Magetan tersebut.

Ditambahkan, semakin banyak kotoran sapi yang dimasukkan ke dalam tabung, maka semakin banyak pula Biogas yang dihasilkan. Tandon atau kubah Biogas yang dibangun, saat ini, berukuran 7 m3.

Itu hanya bisa memenuhi keperluan masyarakat di sekitar kandang saja. “Gas metan ini yang bisa digunakan sebagai bahan bakar ramah lingkungan. Sehingga, masyarakat akan memiliki kemandirian energi,” papar Yudo.

Untuk fermentasi, dibutuhkan waktu 14 hari. Selama proses itu, bakteri anaerobik akan mengubah biomassa kotoran sapi
menjadi gas metan.

“Sukowidi menuju Kampung Biogas ini sudah kami usulkan dua kali dalam Musrenbang Kabupaten. Kami berharap Pemkab Magetan memberikan atensi untuk kemandirian energi seperti Biogas ini,” pungkas dia. (ant/mk)

Print Friendly, PDF & Email

Add Comment

Click here to post a comment