Senin, 15 Juli 2024

Pak PJ di Persimpangan

KARIR Penjabat Bupati Magetan, Pak Hergunadi di birokrasi Pemkab Magetan selama ini dikenal cukup moncer. Berawal dari kabid di Dinas Pekerjaan Umum, lalu menjadi Kepala Dinas Pekerjaan Umum, naik ke Sekretaris Daerah, dan kini menjadi orang nomor satu di Pemkab Magetan.

Cemerlangnya karir kepegawaian Pak PJ itu, tentu menimbulkan daya tarik bagi banyak pihak. Khususnya jelang pemilihan kepala daerah saat ini.

Maka tak heran, jika banyak pihak yang menggadang-gadang beliau maju bupati. Baik itu pengurus partai politik, kalangan birokrasi, organisasi profesi, maupun kelompok masyarakat. Kepribadian Pak Pj yang dianggap sederhana, apa adanya, dan low profile menjadikannya pibadi yang menarik. Juga keberhasilannnya memimpin pemerintahan saat masa transisi sekarang ini, menjadi legasi kapabilitasnya dalam pemerintahan.

Faktor itulah, yang menjadikan Pak PJ layak dicalonkan sebagai bupati. Lantas, apakah Pak PJ berani maju bupati?

Meski tidak memiliki kedekatan secara khusus, sebagai mantan jurnalis tentu saya pernah melakukan komunikasi yang cukup intens dengan Pak PJ. Baik saat beliau menjadi Kepala Dinas Pekerjaan Umum, menjabat Sekretaris Daerah, maupun Pj Bupati seperti sekarang ini. Baik yang sifatnya kedinasan maupun personal.

Dari proses komunikasi yang cukup panjang itu, maka saya menyimpulkan bahwa Pak PJ saat ini berada di persimpangan. Persimpangan antara maju atau tetap menjadi PJ sampai pensiun. Persimpangan itulah yang menjadikan PJ bimbang dan ragu dalam mengambil keputusan. Karena setiap keputusan yang diambil memiliki konsekuensi. Positif atau negatif.

Jika Pak PJ maju misalnya, maka tak sulit baginya mendapatkan kendaraan politik. Meski belum pernah daftar ke parpol manapun, ada beberapa ketua partai yang menyatakan berminat akan mengusungnya. Sehingga, soal kendaraan politik tidak jadi persoalan.

Sebagai orang nomor satu di Pemkab Magetan saat ini, tentu Pak PJ memiliki pengaruh yang cukup kuat di jajaran birokrasi. Pengaruh di birokrasi inilah yang menjadi modal awal untuk menggerakkan arus bawah dalam pemenangannya.

Selain mesin birokrasi, posisi sebagai PJ telah memberikan ruang yang cukup luas bagi beliau untuk masuk ke pelbagai segmen masyarakat. Itu ditunjukkan dengan rajinnya Pak PJ turun lapangan. Baik kegiatan yang bersifat formal maupun non formal. Baik yang berskala besar maupun berskala tingkat RT.

Sregep blungsukan itulah yang menjadikannya cukup populer di kalangan bawah. Sehingga masyarakat cukup mudah menerimanya jika maju sebagai calon bupati.

Meski memiliki beberapa kelebihan, bukan berarti Pak PJ bisa dengan mudah memenangi pilkada jika benar-benar maju sebagai calon bupati. Ada beberapa tantangan yang harus dihadapi. Diantaranya adalah rival atau penantang. Nama-nama yang muncul saat ini juga memiliki banyak kelebihan.

Misalnya Hj. Nanik Sumantri, mantan wakil bupati dan juga istri mantan bupati Sumantri itu juga memiliki basis dukungan dari birokrasi. Sehingga, bisa dipastikan bahwa kekuatan birokrasi tidak akan bisa satu barisan.

Selain Nanik Sumantri, saat ini juga muncul nama-nama seperti H Sujatno yang juga ketua DPRD, Mas Mohyar pengusaha asal Parang, Mbak Ida yang merupakan tokoh organisasi NU, Kang Suyatni yang telah teruji dalam pilkada lima tahun lalu, Nur Sodiq tokoh baru yang memiliki latar belakang manager di BUMN, Mbah Tatag Ketua Asosisasi Kepala Desa dan lainnya. Karena telah mendeklarasikan diri, tentu mereka bukan tokoh sembarangan. Mereka memiliki basis massa, jaringan, dan loyalis. Dan yang pasti, mereka semua juga telah menyiapkan logistik untuk menghadapi pilkada.

Sesuai Surat Edaran Kementrian Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor: 100.2.1.3/2314/SJ tetanggal 16 Mei 2024, dijelaskan bahwa jika seorang PJ Bupati hendak maju bupati maka harus mengundurkan diri dari statusnya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) minimal 40 hari sebelum pendaftaran. Jika pendaftaran calon bupati dan wakil bupati Magetan tanggal 27 Agustus, maka masih ada waktu sekitar 15 hari bagi Pak Pj Hergunadi untuk merenung, berfikir, dan istikharah dan mengambil keputusan maju atau tidak dalam pilkada nanti.

Prinsipnya, nek wani ojo wedi-wedi, nek wedi ojo wani-wani. Karena, pilkada adalah momen pertaruhan. Mukti atau mati. *

*Ditulis oleh: Didik Haryono, mantan kades Soco dan sedang menyelesaikan Magister Kebijakan Publik di Universitas Airlangga Surabaya.  

Berita Terkait

Hot this week

-Advertisement-spot_img

Berita Terbaru

Popular Categories