Opini

Perlunya Edukasi Kesehatan Mental untuk Remaja

Kesehatan mental menurut WHO adalah suatu keadaan (status) sehat utuh secara fisik, mental (rohani) dan sosial, dan bukan hanya suatu keadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan.

Sedangkan Kesehatan mental menurut Undang Undang Nomor 18 tahun 2014 merupakan kondisi dimana seseorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan konstribusi untuk komunitasnya.

Dengan hal ini Kesehatan mental sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal untuk remaja maupun anak-anak. Kesehatan fisik dan Kesehatan mental pada remaja memliki tingkat kepentingan yang sama, namun kebanyakan orang sering mengabaikan Kesehatan mental remaja.

Padahal jika dibiarkan secara terus menerus gangguan Kesehatan mental dapat memicu depresi hingga bunuh diri. Gangguan Kesehatan mental ini tidak hanya mampu menyerang para remaja dan anak-anak, tetapi mempu menyerang semua kalangan. Fase remaja dikatakan sebagai fase yang rentan terkena gangguan Kesehatan mental, dikarenakan pada fase ini remaj sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan.

Masalah Kesehatan mental itu sendiri dapat diartikan dengan kondisi Kesehatan yang mampu memengaruhi pemikirian, perasaan, suasana hati hingga perilaku seseorang.

Menurut WHO (2019) mengatakan 10 sampai 20% anak-anak dan remaja di seluruh dunia mengalami masalah Kesehatan mental dan setengah dari semua masalah kesehatan mental dimulai pada usia 14 tahun hingga pertengahan usia 20 tahun (WHO,2019).

Sedangkan berdasarkan hasil survei Indonesia National Adolescent Mental Health (I-NAMHS), sebanyak satu dari riga remaja berusia 10-17 tahun di Indonesia memiliki masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Jumlah itu setara dengan 15,5 juta remaja di dalam negeri. Dengan survei ini dapat disimpulkan bahwa Sebagian besar penduduk Indonesia yang mengalami masalah Kesehatan mental adalah remaja.

Banyak faktor yang dapat memengaruhi Kesehatan mental seseorang, diantaranya adalah faktor genetik, percintaan, pertemanan, keluarga hingga pengalaman traumatis.

Belum lama ini faktor pandemi COVID-19 juga dapat memengaruhi Kesehatan mental seseorang. Para remaja merasa kecewa, cemas dan rasa berat hati karena harus mengahadapi situsi baru seperti, sekolah yang tiba-tiba diliburkan, tidak bisa berinteraksi dengan teman, dan yang lebih parah adalah mereka harus diisolasi di dalam rumah dalam waktu yang lama.

Mengutip data dari UNICEF, 80 juta anak Indonesia menghadapi dampak pandemic COVID-19 sehingga hampir separuh rumah tangga melaporkan anak mengalami  tantangan perilaku, seperti sulit berkonsentrasi (45%), mudah marah (13%), dan sulit tidur (6,5%). Oleh karena itu, menjaga Kesehatan mental sangat penting agar mampu menghadapi berbagai kondisi kehidupan sehingga bisa lebih bersemangat dalam mencapai tujuan.

Beberapa gejala yang ditimbulkan akibat dari masalah Kesehatan mental yaitu sebagai berikut:

  1. Sering halusinasi, delusi.
  2. Kehilangan konsentrasi.
  3. Merasa takut, khawatir, atau selalui dihantui dengan perasaan bersalah, marah, cemas dan bingung.
  4. Mengalami perubahan hati yang drastis.
  5. Merasa sedih, tidak berdaya, putus asa atau tanpa harapan.
  6. Perubahan dalam suatu kegiatan sehari hari, misalnya perubahan pola makan.

Beberapa contoh gangguan Kesehatan mental adalah sebagai berikut:

  1. Depresi: merupakan gangguan suasana hati yang menyebabkan sedih berkepanjangan.
  2. Skizofrenia: merupakan gangguan mental yang menyebabkan delusi, halusinaasi, hingga kekacauan pikiran dan perilaku.
  3. Gangguan bipolar: merupakan gangguan mental yang ditandai dengan perubahan suasana hati seseorang.
  4. Gangguan tidur: merupakan perubahan pola tidur hingga menyebabkan masalah mental seseorang.

Berikut ini beberapa upaya mencegah gangguan masalah kesehatn mental:

  1. Melakukan aktivitas fisik yang positif.
  2. Menolong orang dengan perasaan tulus dan ikhlas.
  3. Selalu berpikir positif.
  4. Memiliki kemampuan dalam mengatasi sebuah masalah.
  5. Menjaga hubungan baik dengan orang lain.
  6. Menjaga pola tidur dan istirahat yang cukup.

Dalam hal ini keluarga memiliki peran penting dalam memberikan pengaruh langsung dan hal positif pada Kesehatan mental anak. Hubungan baik antar orang tua dan anak mampu mengurangi kemungkinan remaja mengalami gangguan mental Kesehatan. Selain Kesehatan fisik, para orang tua juga harus memperhatikan Kesehatan mental anak.

Orang tua harus sesering mungkin mengajak anak berbicara tentang kondisi mental dan masalah yang sedang dihadapinya. Dengan begitu, orang tua dapat memberikan solusi tentang masalah yang sedang dialami seorang anak, dan akan memudahkan anak dalam menghadapi masalah tersebut. Sebagai orang tua, mereka memliliki peran besar dalam hal mendukung Kesehatan mental anak.

Menurut penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa edukasi Kesehatan mental sangatlah penting, terutama pada remaja yang sedang dalam masa mencari jati diri. Tidak dapat dipungkiri bahwasannya banyak remaja yang berakhir bunuh diri akibat masalah Kesehatan mental ini. Dengan ini gangguan Kesehatan mental tidak bisa dianggap masalah sepele begitu saja.

*Fadhilatul Chasanah, mahasiswa Jurusan Farmasi angkatan 2022, Universitas Muhammadiyah Malang

Perlu adanya edukasi yang mampu memberikan pengarahan tentang bahaya gangguan mental dan cara mengatasinya. Tidak hanya perlu kesadaran, masyarakat harusnya lebih perlu pemahaman akan Kesehatan mental ini. Selain itu, keluarga yang harmonis juga mampu menjaga Kesehatan mental seorang anak. Karena menurut saya, Sebagian besar anak mengalami gangguan Kesehatan mental dikarenakan masalah keluarga.

Dengan begitu mari kita terus menjaga diri kita dan terus melakukan hal-hal yang positif agar Kesehatan mental tetap terjaga dengan baik. Karena orang yang memiliki Kesehatan mental mampu secara maksimal dalam menjalani tantangan hidup yang ada. Begitupun sebaliknya orang dengan gangguan mental akan mengalami gangguan suasana hati, akan lebih sering emosi, sehingga akan menggangu kehidupan. Jika merasa lelah dengan pikiran anda, maka istirahatlah sejenak.

Cobalah untuk menenangkan pikiran anda dengan melakukan hal-hal yang membuat anda senang. Tidak perlu merasa baik-baik saja padahal sedang tidak baik-baik saja. Tidak ada orang yang baik-baik saja di dunia ini, semuanya sedang berjuang dengan ujiannya masing-masing. *

Print Friendly, PDF & Email

Add Comment

Click here to post a comment