Kembang Mekar

Tingkatkan Literasi, Ini Deretan Program di Perpustakaan Magetan

Magetan – Namanya Halimah Nur Safitri. Ia pelajar kelas X DKV-B SMK Negeri 2 Magetan. Gadis itu duduk di bangku baca Perpustakaan Dinas Arsip dan Perpustakaan. Di selatan Masjid Agung Darussalam Magetan.

Fitri, sapaan akrabnya, datang ke Perpustakaan bersama teman sekelas. Ia dkk didampingi Mai Nur Arbain, guru pengampu pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS).

Begitu masuk Perpustakaan, mereka lalu berjalan menyusuri lorong rak buku. Fitri mengambil satu buku tentang planet. Sejurus kemudian, pena di jemari tangannya menari di atas kertas. Menulis. Fitri menyalin materi apa saja soal planet. Itu ada di pelajaran IPAS bab terakhir semester ini.

“Ini lagi kerjakan tugas dari pak guru. Tadi di ajak ke perpustakaan untuk mencari materi tentang IPAS selain yang ada di text book,” ungkap dara manis yang menginjak dewasa tersebut.

Fitri dan kawan di sampingnya mengaku senang bisa belajar di Perpustakaan. Dia mengaku mendapat banyak referensi meteri pelajaran IPAS. “Di sini (perpustakaan, red) suasananya enak, nyaman,” ungkapnya.

Menurut Mai Nur Arbain, guru pengampu mata pelajaran IPAS, mengajak anak ke Perpustakaan sebagai bentuk pengejawantahan kurikulum merdeka.

“Di kurikulum merdeka, guru hanya sebagai fasilitator atas kemauan atau minat anak didik. Sebab, kurikulum merdeka itu, basisnya ada pada siswa sendiri,” aku guru ASN asal Caruban tersebut.

Dengan mengajak ke Perpustakaan, Mai berharap minat baca anak didiknya makin meningkat. Termasuk, menumbuhkan iklim literasi pada diri pelajar.

“Saya melihat, anak zaman sekarang itu betah baca WA atau kuat melihat gagdet. Tapi, kalau minat baca buku sudah berkurang drastis. Nah, saya mencoba mengajak anak-anak ke perpustakaan. Harapannya, anak tergugah untuk membuka baca,” ungkap Mai.

Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan, Suhardi mengatakan, ada banyak program yang disiapkan untuk peningkatan literasi di masyarakat. Khususnya pelajar.

“Kami punya yunior enterpreneur. Di mana, ini sebuah komunitas penulis muda. Setiap tahun ada kompetisi menulisnya. Di perpus juga ada latihan menari. Ada pelatihan bagi disabilitas,” ujar Suhardi.

Menurut dia, di era teknologi digital ini, minat baca pelajar memang menjadi salah satu perhatian Dinas Arpus. “Misalnya, kami membuat ajang Sinopsis tingkat SMA. Lalu, ada lomba bertutur tingkat SD,” terang dia.

Suhardi berharap pihak sekolah dalam kurun waktu tertentu mengajak anak didiknya ke Perpustakaan. Sebab, banyak wawasan baru yang bisa diambil. “Di sekolah, bukunya kan terbatas. Beda dengan koleksi buku di perpus. Kami mempunyai koleksi 48 ribu judul buku.”

Tak berapa lama, suara qiroah menjelang salat Jumat terdengar dari Masjid Agung Darussalaam. Petugas Perpustakaan mengumumkan jam istirahat dan waktu buka kembali Perpustakaan Dinas Arsip.

Siswa Zacky Denny dan teman lelakinya kemudian beranjak dari tempat duduk di bangku baca Perpustakaan. Dia mengaku menyukai kesempatan berkunjung ke Perpustakaan. Ia juga sempat menyalin materi yang didapat.

“Dapat materi flora dan fauna. Tadi bagi tugas dengan teman. Materi flora fauna ini tidak ada di buku sekolah. Lumayan bisa menambah wawasan dari koleksi buku di Perpustakaan,” kata Zacky.

Sejenak, Pak Guru Mai mengumpulkan anak didiknya di Perpustakaan. Fitri dan teman perempuannya diminta diskusi bersama di kawasan Alun-alun. Bisa juga sambil makan dan minum. Sesukanya. Yang penting tertib dan membuang sampah di tempatnya.

Sedang Zacky dan rekan diminta salat Jumat di Masjid Agung Darussalaam. “Setelah Jumatan, kita nanti meneruskan belajar di Perpustakaan,” pungkas Pak Guru Mai. (par/mif/mk)

Print Friendly, PDF & Email

Add Comment

Click here to post a comment