KONDISI partai politik hari ini sudah mengalami terputusnya hubungandengan rakyat. Jika dulu parpol lahir dari rahim ideologi, kini mereka lebih mirip Event Organizer (EO) pemilu: hadir saat butuh suara, hilang saat rakyat sengsara.
Parpol sebagai “Mesin Cuci” Kepentingan
Alih-alih menjadi sekolah politik, parpol kini terjebak dalam personalisasi kekuasaan. Partai dianggap milik pribadi atau keluarga tokoh tertentu, bukan milik kader. Akibatnya, fungsi kontrol legislatif mati karena anggota dewan hanya menjadi “stempel” kepentingan elit partai, bukan penyambung lidah rakyat.
Bahkan, rekrutmen politik dilakukan secara instan. Siapa yang populer atau punya modal besar bisa langsung duduk di kursi jabatan, meski buta akan masalah teknis di lapangan. Jangan heran jika kantor parpol di daerah lebih sering sepi dan tertutup di hari biasa—semangat “Rumah Rakyat” telah lama hilang.
Senjata Jargon: Membius dengan Kata ‘Idealis’
Mengapa parpol selalu mendoktrin kita untuk “Idealis” dan “Fanatik”? Ini adalah taktik psikologis menyakitkan:
• Menciptakan “Benteng Gratis”: Agar ada massa yang pasang badan membela mereka saat dikritik atau terkena kasus korupsi.
• Membungkam Kritik: Menggunakan label “tidak setia” bagi siapa pun yang mulai berpikir logis.
• Menutupi Kekosongan Prestasi: Ketika gagal menyejahterakan rakyat, mereka lari ke sentimen emosional dan jargon bombastis untuk mengunci kesetiaan pemilih.
Saatnya Fanatik Pada Isu, Bukan Bendera
Fanatisme politik adalah racun yang menumpulkan akal sehat. Kita harus sadar bahwa parpol hanyalah alat atau kendaraan. Jika kendaraannya mogok atau sopirnya ugal-ugalan, tak ada alasan untuk tetap memujanya.
Idealisme rakyat yang sesungguhnya bukan setia pada satu warna, melainkan setia pada kepentingan publik. Kita harus menjadi “pemilih transaksional” secara cerdas: Dukungan diberikan hanya jika ada transparansi dan hasil nyata.
Peran LSM Rumah Kita
Di tengah matinya fungsi kontrol parpol, LSM Rumah Kita hadir untuk mengisi ruang kosong tersebut. Fokus pada Keterbukaan Informasi Publik adalah obat penawar bagi racun fanatisme. Dengan data dan transparansi, kita memaksa parpol untuk berhenti beretorika dan mulai bekerja.
Kesimpulannya: Politik harus dihadapi dengan kepala dingin. Jangan biarkan suara kita hanya menjadi angka dalam statistik kemenangan mereka, sementara nasib kita dilupakan setelah bendera kampanye diturunkan. *
*Ditulis oleh: Rudi Setyawan, Koordinator Forum Rumah Kita





