Magetan – Pemerintahan Bupati Nanik dan Wakil Bupati Suyatni memiliki program prioritas di bidang kesehatan yang sejalan prioritas Presiden Prabowo.
Bupati Magetan Nanik menyampaikan upaya percepatan penurunan stunting telah menjadi program prioritas pembangunan di Kabupaten Magetan.
Ini bahkan dituangkan dalam Perbup Nomor 53 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan dan Pencegahan Stunting Terintegrasi, Surat Keputusan Bupati Magetan tentang Penetapan Desa Lokasi Fokus (Lokus) Stunting mulai tahun 2021 hingga tahun 2024, Peraturan Bupati Magetan tentang Penyusunan APBDesa Tahun 2024 dan Surat Edaran tentang Pengalokasian Dana Desa untuk Pencegahan dan Penurunan Stunting.
“Perkembangan beberapa inovasi seperti, Inovasi Ojek Ibu Hamil kini sudah mengalami perluasan jangkauan. Layanan dari semula hanya melayani ibu hamil saat ini sudah melayani balita stunting,” katanya, beberapa waktu lalu.
Bupati menambahkan ada program Inovasi ANTING EMAS yang telah dilaksanakan mulai tahun 2024 dengan melibatkan orang tua asuh dari seluruh Kepala OPD, Forkopimda, dan CSR.
Ada juga Inovasi PONDOK PELANGI di Kecamatan Nguntoronadi dan saat ini telah mencakup 7 (tujuh) desa. Dan, dari organisasi masyarakat ada GAMMIS yaitu Gerakan Aisyiyah Magetan Menangani Stunting.
Jumlah balita stunting di Kabupaten Magetan adalah 2.631 balita dari total yang diukur 31.671 balita (98,38%).
Program penurunan stunting ini juga erat kaitannya dengan program penanganan penyakit yang disebut ‘ATM’ (AIDS/HIV, Tuberkolosis, dan Malaria).
Tuberkolosi atau TB atau TBC menjadi program prioritas Presiden Prabowo di bidang kesehatan. Pemerintah harus menurunkan kasus TBC hingga 50 persen dalam 5 tahun.
Di Magetan dalam setahun rata-rata ditemukan 1.660 kasus TBC.
“Ini seperti fenomena gunung es. Karena itu kami jemput bola dengan melakukan active case finding. Kalau dulu kita pasif menunggu pasien bergejala datang ke fasiltas kesehatan.” kata Kepala Dinas Kesehatan, Rohmat Hidayat, Rabu (18/6/2025).

Menurut Rohmat, dampak dari kasus TBC, terjadi penularan pada balita.
“Sebagian kasus stunting seperti yang di Panekan, stunting karena balita menderita TBC yang tidak terdeteksi,” ungkapnya.
Dinas Kesehatan rutin melakukan ‘screening’ terutama pada lingkungan padat penghuni, dan tempat-tempat ditemukannya kasus Tuberkolosis.
“Kalau yang sakit sudah pasti diobati, ini bagi yang kontak erat yang agak sulit karena merasa tidak sakit sehingga biasanya tak minum obat pencegahan. Berikutnya, kami bentuk kader pengawas menelan obat,” jelasnya.
Dinas Kesehatan magetan mengungkap TBC menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi. Pada 2024, ada 16 kasus kematian TBC. Tahun sebelumnya, 26 kasus kematian karena TBC. Sekitar 11,6 persennya terjadi pada anak.
“Sebagian juga pada kasus HIV/AIDS sebanyak 1,6 persen menderita TBC,” persen menderita TBC dan sebaliknya. Kader pengawas menelan obat,
Untuk Malaria, aman. Tidak ada kasus yang bersumber dari Magetan. Sedang HIV/AIDS masih menjadi prioritas penanangan Dinas Kesehatan Magetan.
“Pemeriksaan rutin kita lakukan pada populasi kunci, seperti PSK, LSL, Ibu hamil, dan calon pengantin,” katanya.
Dari hasil itu ada kasus baru sebanyak 57 kasus untuk tahun ini. Total sekitar 300-an kasus HIV/AIDS.
“Kita punya 15 puskesmas yang siap untuk konseling dan pengobatan. Bulan ini juga kirim nakes untuk pelatihan khusus HIV/AIDS,” imbuh Kadinkes. (far/mk)





