Liburan lebaran tahun 2026 menjadi peluang bagi desa wisata untuk menangkap pundi-pundi keuntungan ekonomis (‘cuan’) yang memiliki manfaat sosiologis bagi desa dan masyarakat. Liburan lebaran menjadi momentum bagi multistakeholder desa wisata untuk meningkatkan kapasitas layanan wisata yang memberikan dampak meluas (multiplier
effect) bagi kesejahteraan masyarakat Desa.
Diproyeksikan ada 144 juta pelaku liburan lebaran (pemudik) yang akan menggerakkan ekonomi riil dan sekaligus mendorong perputaran uang sebesar hampir Rp 190 triliun rupiah. Proyeksi perputaran uang Rp 190 triliun rupiah yang dirilis Kementerian UMKM didasari optimisme pemerintah dengan berkaca pada data Mandiri Spending Index (MSI) pada Februari 2026 yang menyentuh angka 360,7.
Indeks daya beli masyarakat yang diklaim menguat konon didasari oleh faktor consumer goods, pendidikan dan mobilitas. Namun Indeks daya beli tersebut bertolak belakang dengan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) dalam survei Bank Indonesia Januari 2026 yang menurun menjadi 111,4. IEK tersebut terendah selama 6 tahun terakhir.
Terlepas dari diskursus data daya beli dan indeks keyakinan konsumen, liburan lebaran akan memberikan manfaat secara ekonomis bagi masyarakat dan pelaku UMKM di perdesaan. Mengingat ritus perjalanan liburan lebaran, selain untuk kegiatan sosiokultural, silaturahmi kepada keluarga dan masyarakat juga kegiatan belanja ekonomi wisata.
Para pelaku perjalanan liburan lebaran —pemudik—akan menghabiskan waktu dan juga menyisihkan anggaran untuk mengunjungi berbagai destinasi wisata. Destinasi wisata yang beragam yang ada di ekosistem desa wisata.
Belanja liburan di destinasi wisata pada tahun 2025 oleh para pemudik mencapai angka Rp 78 triliun dari arus perputaran uang belanja kebutuhan lebaran sebesar Rp 145 triliun. Belanja wisata sebesar Rp 78 triliun sebesar 68 % nya terserap di berbagai destinasi wisata dalam ekosistem desa wisata. Hal inilah yang menunjukkan potensi cuan dan ekonomi saat lebaran yang harusnya ditangkap sebagai peluang terbaik oleh para stakeholder desa wisata.
Kalkulasi belanja ekonomi wisata dalam masa liburan lebaran, bagi kalangan pemerhati ekonomi diprediksi menurun. Arus perputaran uang diprediksi tidak akan menyentuh angka Rp 190 triliun ditengah anomali indikator ekonomi makro yang tidak sedang baik baik saja. Jika arus perputaran uang selama lebaran tahun 2025 menyentuh angka Rp 145 triliun, dan tahun 2026 mengalami penurunan hingga 20 -30 % maka belanja ekonomi wisata diprediksi mencapai angka Rp 64,3 triliun.
Hal ini tetap menjadi harapan sosiologis (the sociological hope) bagi pelaku ekonomi berbagai desa wisata. Jika seluruh desa wisata di Indonesia eksis dan produktif yang berjumlah lebih dari 5.439 desa wisata mampu menangkap cuan lebaran, cukup menjadi trigger yang menggerakkan perekonomian desa.
Sirkuit ekonomi lebaran menjadi momentum untuk desa wisata menangkap cuan lebaran dari belanja jasa wisata para pemudik. Desa wisata menjadi instrumen untuk memperkuat resiliensi ekonomi perdesaan. Meningkatkan kapasitas produktif UMKM dalam memasarkan produk unggulan desa.
Memperluas cakupan lapangan pekerjaan untuk mengeliminasi potensi urbanisasi yang menjadi ancaman bagi problem demografis perkotaan. Harmonisasi relasi sosiologis perdesaan dan perkotaan dalam penyiapan lapangan pekerjaan dengan upah yang layak menjadi kunci untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Sirkuit ekonomi lebaran yang terkait desa wisata pada prinsipnya mendorong penguatan produktifitas pelaku UMKM, menambah volume peredaran uang di desa wisata, meningkatkan intensitas kerja padat karya, dan menambahkan nilai ekonomi (Economies Value) yang bernilai investasi sosial. Desa wisata menjadi ruang bagi perolehan hasil ekonomi yang akan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Ekonomi lebaran menjadi salah satu tolok ukur kemampuan desa wisata mengembangkan kapasitas manajerial dalam menyuguhkan kemasan wisata yang menarik dan pro cuan, sebuah prasyarat kondisional dari Business and Tourism yang memiliki pengaruh signifikan bagi pengembangan sektor ekonomi produktif di perdesaan.
Cuan lebaran dari para pemudik sangat penting untuk ditahan dalam fase peredaran di desa, hal tersebut juga menjaga potensi meningkatnya angka inflasi dan juga menurunkan risiko deflasi.
Desa adalah benteng pertahanan ekonomi negara. Ekonomi Desa yang kuat akan menjadi faktor kuat dalam mendorong tercapainya target pertumbuhan ekonomi.
Mengapa demikian? Karena daya beli dan komsumsi masyarakat desa menjadi indikator pertumbuhan ekonomi yang saat ini belum sesuai target yakni 6 %. Untuk data statistik pertumbuhan ekonomi 5,2 % yang dirilis oleh BPS juga diragukan oleh banyak ekonom kritis karena banyaknya fraud dalam penghitungan komponen pertumbuhan ekonomi.
Desa wisata harus siap mengakselerasikan ekonomi lebaran menjadi sarana utama meningkatkan pendapatan masyarakat. Desa wisata menjadi ruang bagi tumbuhnya semangat produktifitas berbasis industri.
Industri pariwisata, tentunya!*
*Ditulis oleh: Trisno Yulianto, Koordinator Forum Kajian Demokrasi Deliberasi





