Magetan – Peristiwa longsor yang terjadi di kawasan Telaga Sarangan menjadi peringatan keras atau alarm ekologis yang tidak boleh diabaikan.
Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Magetan, Willing Suyono, melakukan tinjauan langsung ke lokasi bencana dan menegaskan bahwa kejadian ini bukan sekadar musibah alam, melainkan dampak dari persoalan tata kelola lingkungan yang harus segera dibenahi secara serius dan menyeluruh.
Dalam tinjauannya, Willing Suyono mengungkapkan sejumlah temuan dan catatan penting. Pertama, indikasi alih fungsi lahan di kawasan Sarangan sudah harus dikritisi secara terbuka dan bertanggung jawab. Sarangan bukan hanya destinasi wisata alam yang harus dijaga keasriannya, tetapi juga kawasan bersejarah dan cagar budaya. Jejak bangsa Belanda, Jerman, Rusia, hingga tokoh-tokoh bangsa seperti Bung Karno dan Bung Hatta yang pernah berkontemplasi di Sarangan sebelum kemerdekaan, merupakan nilai sejarah yang tidak ternilai dan wajib dilindungi.
Kedua, penanggulangan bencana banjir dan longsor harus dijalankan secara konsisten, tidak boleh dikalahkan oleh hingar-bingar ambisi pertumbuhan ekonomi semata. Tegakan pohon-pohon besar harus tetap dijaga. Jika pendekatan vegetatif tidak mampu mengimbangi dampak perubahan iklim dan bencana hidrometeorologi yang semakin ekstrem, maka langkah teknis harus segera ditertibkan dan diperkuat.
Mulai dari memastikan saluran drainase bangunan lama tetap berfungsi dan mampu menampung curah hujan maksimal, keterhubungan saluran ke pembuangan utama menuju sungai atau telaga, hingga memastikan setiap warung dan bangunan wisata memiliki sistem drainase yang layak. Lereng-lereng yang labil dan rawan longsor harus segera diperkuat dengan talud, karena langkah teknis adalah solusi yang bisa dilakukan secara cepat dan nyata.
Ketiga, tiga sektor utama harus bersinergi dan sinkron, yakni Perhutani, BBWS Bengawan Solo, dan Pemerintah Kabupaten Magetan. Kebijakan publik yang menyangkut kawasan Sarangan tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Sinergi mutlak diperlukan demi keselamatan wisatawan dan keberlangsungan pelaku UMKM wisata.
“Jangan sampai kawasan ini hanya dijadikan objek pengambilan PAD, tanpa diiringi tanggung jawab perlindungan lingkungan dan keselamatan manusia,” katanya, Sabtu (17/1/2025).
Keempat, Sarangan merupakan simbol utama pariwisata Magetan yang dikenal luas, baik nasional maupun mancanegara, karena keindahan alam dan udara dinginnya. Di balik pesona itu, Sarangan menyimpan sejarah besar perjuangan bangsa. Nilai historis dan ekologis ini seharusnya menjadi pijakan utama dalam setiap kebijakan pembangunan di kawasan tersebut.
Willing Suyono juga menyoroti kondisi Gunung Lawu dan kawasan sekitarnya yang seharusnya menjadi basis resapan air wilayah barat Magetan, namun kini mengalami alih fungsi masif menjadi rumah makan, vila, dan destinasi wisata.
Alih fungsi lahan yang didorong kepentingan komersial jangka pendek, tanpa mempertimbangkan daya dukung dan daya tampung lingkungan, serta tanpa kajian KLHS yang memadai dan pengelolaan sampah yang baik, telah memicu “amarah alam” yang kemudian terwujud dalam banjir dan longsor. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka bencana akan menjadi momok tahunan yang menakutkan setiap musim penghujan.
Solusi dan Rekomendasi Fraksi PDI Perjuangan Magetan mendorong langkah-langkah konkret sebagai berikut:
1. Menghentikan sementara alih fungsi hutan disertai evaluasi menyeluruh.
2. Menegakkan penataan ruang yang konsisten dan kolaboratif lintas sektor sebagai upaya pencegahan bencana.
3. Melakukan mitigasi dan deteksi dini melalui pemetaan titik rawan longsor dan banjir, mulai dari tebing, jalan, sempadan sungai, hingga saluran irigasi yang tersumbat.
4. Segera melakukan aksi nyata pada titik-titik rawan bencana.
5. Menyiapkan sarana, prasarana, serta tenaga ahli dan terampil dalam penanganan bencana.
6. Melakukan pengamanan konstruksi beton di sepanjang tebing rawan longsor sekitar ±300 meter di kawasan terdampak.
7. Melakukan relokasi warung-warung UMKM di area rawan bencana dengan cara yang humanis, adil, dan berpihak pada keberlangsungan ekonomi pelaku UMKM.
“Pariwisata tidak cukup hanya menjual keindahan, tetapi juga harus menjamin kenyamanan dan keselamatan. Sesuai dengan amanat Ibu Ketua Umum PDI Perjuangan Ibu Megawati Soekarnoputri, bahwa ketahanan ekologis bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Ini adalah tanggung jawab kita bersama agar Magetan yang indah tidak hanya menjadi cerita bagi anak cucu kita kelak,” tegas Willing Suyono. (far/mk)





