Panekan – Pemerintah Desa Ngiliran, Panekan, punya terobosan untuk menjaga ketahanan ekonomi warga. Desa yang selama ini dikenal sebagai penghasil kopi dan cengkeh itu, mulai mengembangkan mengembangkan komoditas alternatif, yakni budidaya labu siam (jepan) jenis aligator.
Kepala Desa Ngiliran, Karmo, mengungkapkan terobosan ini dilakukan sebagai solusi atas permasalahan tanaman cengkih milik warga yang saat ini banyak mengalami kematian.
Untuk menjaga ketahanan ekonomi masyarakat, pemdes mengarahkan petani beralih ke tanaman yang lebih produktif dan memiliki masa panen singkat.
“Pilihan jatuh pada Jepan Aligator karena masa tanam hingga panen relatif cepat, yakni sekitar empat bulan. Selain itu, siklus panennya bisa dilakukan dua kali dalam seminggu, sehingga mampu memenuhi kebutuhan finansial harian para petani,” kata Karmo, Rabu (2/9/2026).
Sebagai tahap awal pengembangan, mengadopsi hasil studi banding dari wilayah Kopeng. Pada awal ini, terdapat enam petani yang mulai membudidayakan labu siam varietas tersebut. Pemdes Ngiliran telah menyiapkan lahan seluas kurang lebih satu hektar yang difokuskan untuk pembibitan awal.
Meski memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan, Karmo mengakui kendala utama yang dihadapi para petani di lapangan saat ini adalah ketersediaan pasokan air untuk irigasi.
Dia berharap ada perhatian serta dukungan nyata dari pemerintah daerah maupun instansi terkait untuk penyediaan infrastruktur pengairan, guna menyukseskan program diversifikasi pertanian tersebut di Desa Ngiliran. (far/mk)


