Magetan – Hari ini, Rabu (1/7/2026), Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten (Setdakab) Magetan, Suwata sudah tak masuk kerja. Dia sudah pensiun.
Suwata resmi purna tugas dari jabatannya pada Selasa, (30/6/2026) setelah mengabdi selama 39 tahun sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemkab Magetan. Sebelum menjabat Asisten itu, dia pernah menduduki jabatan strategis sebagai Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga.
Di dinas ini, Suwata cukup lama. Total, sekitar 12 tahun. Ceritanya di dunia Pendidikan Magetan itu dibukukan. Bukunya, berjudul Cerita Suwata | Pengabdian 12 Tahun di Dunia Pendidikan Magetan.
Buku yang sengaja dibuat untuk menandai masa purna tugasnya ini merupakan persembahannya untuk dunia Pendidikan Magetan.
Ada cerita menarik dalam bukunya itu. Pada 2009, ketika mendapat promosi menjadi Kabid Pembinaan Pendidikan dan Tenaga Kependikan (PTK) di dinas pendidikan, Suwata tak begitu senang. Awalnya, dia tak begitu suka dengan guru yang dianggap tidak ada kerjanya, padahal sama-sama pegawai pemerintah. Hari belum siang, sudah di rumah. Apalagi, guru mata pelajaran, selesai mengajar pulang.
“Guru iki gawene opo, esuk wis muleh,” kata Suwata dalam bukunya.
Namun, saat masuk di dinas Pendidikan itu, dia dihadapkan sedikitnya guru Magetan yang mendapat sertifikasi. Hanya, seratusan dari sekitar 2.000 guru waktu itu. Akhirnya, dia bekerja keras agar guru bisa tersertifikasi. Sampai tuntas untuk guru yang muda-muda. Benci kepada guru itu berubah menjadi cinta.
Dalam bukunya itu juga ada cerita mengenai bagaimana Suwata berhasil dalam program guru penggerak sampai menjadi perhatian Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek).
Ada juga cerita mengenai lahirnya tata tertib sekolah, seragam adat, program beasiswa untuk mahasiswa. Sejumlah kebijakan yang lahir sewaktu Suwata menjadi kepala dinas karena ada ceritanya.
Buku Cerita Suwata ini menginspirasi. Dalam bagian kata mereka, Kabid Pemberdayaan UKM, Dinkop dan UKM Magetan, Diantina Wiwied sampai punya prinsip yang ditularkan dari Suwata.
“Ada satu pesan Beliau, yang saya terapkan hingga sekarang, jangan merepotkan dan meminta uang pada guru,” katanya dalam buku.
Kesan mendalam kiprah Suwata juga disampaikan Owner Ceria Center Madiun, Anita Nurrul Febrianti.
“Saya menjalankan program terapi untuk anak berkebutuhan khusus tidak hanya di Magetan, di kota-kota lain juga. Tapi, kepala dinas yang care sekali, yang benar-benar memikirkan anak-anak itu, saya bertemu di Magetan.
Lewat bukunya, Suwata ingin mengirim pesan kebaikan. Katanya, tak akan pernah menuai padi jika menanam rumput liar.
“Demikian juga dengan kehidupan. Jika hari ini, kita memberikan kebaikan dan kebahagiaan, maka percayalah hal itu sedang dalam perjalanan menuju kita. Teruslah menjadi sumber kebaikan, karena kebaikan itu sejatinya akan menerangi jalanmu sendiri,” katanya.
Buku Cerita Suwata setebal 81 halaman ini sedang naik cetak. Diterbitkan oleh Magetankita Books dan dibagikan kepada SD dan SMP di Magetan. (far/mk)
