BerandaOpiniPahlawan Tidak Membutuhkan Topeng; Topeng adalah Antitesis Kepahlawanan

Pahlawan Tidak Membutuhkan Topeng; Topeng adalah Antitesis Kepahlawanan

TIDAK lama berselang setelah tulisan saya yang berjudul, “Tak Lagi Sama: Hibah Tanah Magetan untuk UNESA Setelah Menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH)” dimuat di media Seputarjatim.co.id. dan magetankita.com, ada beberapa tanggapan yang di share ke WA ke saya.

Ada yang mendukung, menyemangati, dan bahkan berterima kasih karena semacam mendapat fresh insight, dan tentu ada yang tidak sependapat, saya anggap semua sebagai sebuah kewajaran. Namun beberapa jam kemudian saya memperoleh tanggapan yang serius dan semi ilmiah yang puannjaang, namun keliru dalam memaknai/menyimpulkan dari opini/gagasan sederhana yang saya sampaikan-makanya saya tidak tertarik untuk membahasnya di sini, mungkin di lain kesempatan jika saya mulai tertarik untuk menjawabnya.  

Saya justru tertarik ketika di awal tulisan itu menyampaikan, “Tulisan ini untuk menjawab tulisan dari Mas Pangayoman dengan judul,,,, dan seterusnya”, jelas dialamatkan ke Saya, namun sama sekali tidak jelas ketika pada baris sebelumnya terdapat tulisan “Oleh : Pahlawan Bertopeng”.

Nalar saya mulai terusik Pahlawan Bertopeng?. Pantaskah kata “bertopeng” disematkan disamping kata “Pahlawan”? Justeru saya kemudian lebih tertarik untuk membahas permaslahan ini.

Frasa “pahlawan bertopeng” terdengar indah dalam dunia fiksi (seperti dalam film Zorro dan film The Phatom of the Opera) tetapi menjadi ganjil ketika dibawa ke dalam ruang makna kepahlawanan yang sesungguhnya. Dalam semesta fiksi, pahlawan bertopeng adalah sebuah arketipe klasik yang sah dan bahkan menarik – begitulah fiksi harus disuguhkan. Sebab pahlawan, dalam pengertian yang luhur, justru hadir sebagai manusia yang berani menampakkan diri sementara orang lain memilih bersembunyi. Ia berdiri di hadapan bahaya dengan wajah terbuka, menyatakan sikap tanpa selubung, dan menerima risiko dari keyakinan yang diperjuangkannya.

Topeng dapat menjadi bagian dari seni, tradisi, atau kebudayaan. Namun dalam bahasa moral dan simbolik, topeng sering menghadirkan pertanyaan yang jauh lebih tajam: mengapa wajah itu harus disembunyikan? Mengapa identitas harus ditutupi? Adakah sesuatu yang disembunyikan? Padahal,  jika hanya ingin berbeda pendapat, apalagi secara ilmiah mengapa harus menyembunyikan diri?  Di dalam tradisi ilmiah, setiap gagasan, riset, penelitian harus dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka (accountability).

Oleh karena itu identitas penulis, akademisi atau peneliti dicantumkan dengan jelas dengan nama asli, rekam jejak publikasi dan karyanya bisa diverifikasi dan dikritisi secara obyektif. Mempertentangkan pendapat sebagai tesis-antitesis dan sintesis adalah triad dialektika mencari kebenaran menjadi lebih obyektif dan mencerdaskan.

Orang yang melakukan kebaikan tetapi takut mempertanggungjawabkannya mungkin dapat disebut penolong anonim. Namun menyebutnya pahlawan bertopeng justru melahirkan paradoks. Pahlawan adalah simbol keterbukaan keberanian, sedangkan topeng adalah simbol penyembunyian identitas. Yang satu berdiri di bawah cahaya, yang lain memilih berada di balik bayangan.

Pahlawan tidak membutuhkan tabir untuk membenarkan perjuangannya. Ia tidak memerlukan kegelapan untuk membangun keberaniannya. Dalam sejarah Indonesia, kita tidak mengenang para pahlawan nasional karena topeng yang mereka kenakan. Kita mengenang wajah mereka.

Kita mengenal wajah Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dhien, Pattimura, Jenderal Sudirman, Bung Tomo, Soekarno, Mohammad Hatta, Kartini, dan begitu banyak tokoh lain karena mereka hadir sebagai pribadi yang nyata. Mereka tidak hanya memperjuangkan gagasan dalam goresan tinta dengn identitas yang terang; Soekarno dengan Di Bawah Bendera Revolusi, Indonesia Menggugat,dll. Mohammad Hatta dengan Alam Pikiran Yunani, Demokrasi Kita, dll. Mereka meletakkan nama, kehormatan, kebebasan, bahkan kehidupan mereka sendiri di atas meja sejarah bukan dalam imagi fiksi.

Maka menempatkan kata topeng dalam frasa “pahlawan bertopeng “ dapat mendegradasi makna kata pahlawan. Teriring lagu NOAH yang melintas “….Tapi buka dulu topengmu…buka dulu topengmu…” *

*Ditulis oleh: Pangajoman, Pelukis dan Pecinta Keris.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Tiga Tuntutan Peternak Magetan Dibawa Sampai Jakarta

Jakarta – Dari banyak persoalan yang dihadapi peternak ayam petelur di Magetan, sedikitnya ada...

Dikawal DPRD Magetan, Peternak Rakyat Sampaikan Aspirasi ke DPR RI dan Kementan

Magetan – DPRD Magetan mengawal aspirasi peternak rakyat ke Jakarta. Dewan memfasilitasi penyampaian aspirasi...

Tak Lagi Sama: Hibah Tanah Magetan untuk UNESA Setelah Menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH)

RENCANA hibah tanah yang berstatus Barang Milik Daerah (BMD) Kabupaten Magetan kepada UNESA menjadi...
spot_img

Artikel Terkait