Magetan – Wacana yang terus didengungkan Wakil Bupati Magetan Suyatni Priasmoro terkait ‘Revolusi Drainase’ mendapat kritikan dari pimpinan dewan.
Wakil Ketua DPRD Magetan Pangajoman menganggap ‘Revolusi Drainase’ sebagai istilah yang membingungkan ketimbang menyelesaikan persoalan.
“Revolusi dalam konteks Pak Wabup bisa diasumsikan perombakan radikal, total, dan dibuat tatanan baru. Jadi seolah-olah menyatakan drainase yang sekarang ada perlu dirombak total karena fungsinya kurang atau salah sistemnya. Kalau memang demikian masa sampai PU Pengairan nggak paham? Padahal, mereka selalu melakukan mitigasi drainase secara berkala,” jelasnya, Minggu (5/4/2026).
Menurut Pangajoman, kalau memang sistem drainase yang lama keliru dan perlu direvolusi, kenapa banjir di sejumlah titik di kota baru kali ini terjadi secara masif.
Dia menceritakan dulu selalu dilakukan gerakan bersih-bersih sungai dan sosialisasi tidak buang sampah di sungai lintas dinas. Selain itu, disediakan anggaran yang mencukupi untuk revitalisasi dan pemeliharaan drainase.
“Jadi menurut saya, daripada membuat banyak statement yang membingungkan masyarakat, fokus saja pada upaya-upaya penyelesaiannya. Lakukan inventarisasi masalah yang menyebabkan banjir. Kalau memang anggaran terbatas pilih mana yang paling prioritas untuk diselesaikan dan fokuskan perencanaan dan anggaran untuk itu, dan ini mesti dilakukan lintas dinas dan peran serta Masyarakat,” katanya.
Pangajoman mencatat ‘revolusi drainase’ yang digembar-gemborkan itu tidak ada dalam perencanaan dan penganggaran 2026 ini.
“Kalau memang ini merupakan permasalahan yang urgen prioritaskan, jangan justru memprioritaskan program atau kegiatan yang tidak urgen,” pungkasnya. (far/mk)





