Soal Banjir Magetan, Kang Suyat: Revolusi Drainase Itu Pola Pikir, Pola Tindak, Pola Sikap Mengenai Pentingnya Drainase

Magetan –  Istilah ‘Revolusi Drainase’ yang didengungkan terus oleh Wakil Bupati Magetan Suyatni Priasmoro, karena kerisauannya terkait drainase sebagai salah satu penyebab banjir di Magetan menjadi pembicaraan publik.

Sebagian mengkritik wacana tersebut karena membingungkan. Semua kritik dan masukan terkait ‘Revolusi Drainase’ dibaca dan didengar Kang Suyat, panggilan akrab Wabup Magetan itu.  

Kang Suyat kembali menjelaskan soal ini. Menurut dia, drainase yang dimasud adalah semua saluran, di pinggir atau kanan kiri jalan, maupun di sekitar rumah, perumahan, bahkan sampai ke hilir atau hulunya, yaitu Sungai. Bahkan, bisa diperluas juga sampai ke saluran irigrasi yang ke sawah.

Lalu, revolusi yang dia maksud adalah perubahan skala besar, masal, melibatkan struktur sosial semua lapis, dan bila memungkinkan dilakukan secara cepat.

“Ini untuk membedakan evolusi, yaitu perubahan yang secara reguler, secara alamiah, secara biasa-biasa saja. Jadi, latar belakangnya mengapa saya menyampaikan revolusi drainase, karena saya melihat masalah drainase sudah berurat berakar, dari segala lapis dan dari segala sisi,” katanya, Senin (5/4/2026).

Kang Suyat mencontohkan banyak problem drainase yang ditemuinya. Drainase di pinggir-pinggir jalan yang harusnya ada, namun ada juga yang belum ada. Ada Drainase, tetapi saat orang mau bikin rumah, juga bikin jembatan masuk ke jalannya sehingga menutup drainase. Bahkan ada orang yang membangun rumah di atas Drainase. 

“Ada orang membuang sampah, ini banyak sekali, di Drainase. Ada petani misalnya yang mau mengalirkan air ke sawahnya dengan membendung drainase, tapi lupa untuk mengembalikannya saat musim hujan deras. Ada petani yang panen padi, jeraminya dibuang di drainase, tidak diambil sehingga mengambat,” imbuhnya.

Menurut Kang Suyat, masalah drainase bukan hanya menyangkut istilah teknis semata, ini sudah dibangun atau belum. Tetapi, juga sudah masuk pada persoalan pola pikir, penting atau tidak drainase itu.

“Nah, karena masalahnya sudah struktural, kultural seperti itu, maka saya perlu mengistilahkan revolusi, karena ini sebagai upaya untuk perubahan besar, terutama menyangkut pola pikir, pola tindak, pola sikap terhadap arti penting fungsi drainase,” jelasnya.

Kang Suyat meyakini jika drainase penting dan menjadi kesadaran kolektif, maka itu akan menjadi jawaban atas masalah banjir dan kerusakan insfrastruktur karena banjir. Sehinga, perlu penanganan yang cepat dan pelibatan struktur sosial yang luas.

“Kami pemerintah Magetan sekarang menggelindingkan program bantuan RT 3 juta per tahun. Antara lain, supaya digunakan untuk fasilitas kerja bakti, misalnya Rp500 ribu gitu diambil untuk memberi jajan dan minum, saat gotong royong membersihkan drainase-drainase yang terhambat dari sampah, dari timbunan, tanah, dan dari lain-lain,” ungkpanya.

Kalau jalan tersebut belum ada drainasenya, kata Kang Suyat, gotong royong untuk membuat drainase sehingga air mengalir tidak ke badan jalan. 

Wabup berharap dari program Guyup Rukun RT ini, semua lingkungan RT menjelang musim penghujan melakukan langkah-langkah itu.

Jika serentak dan melibatkan banyak pihak, problem banjir bisa diatasi lebih cepat.

“Siapapun, boleh membuat istilah, silahkan. Tapi esensinya menggugah pola pikir, menggeser mindset bahwa drainase itu penting. Intinya dalam revolusi drainase, ada masalah dengan drainase yang harus dilakukan pemecahan secara terpadu. Dari cara berpikir, cara aksi, dan cara gotong royong,” pungkasnya. (far/mk)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terkait

Hot this week

spot_img
spot_img

Popular Categories

spot_img