Magetan – Namanya, Karna Abadi. Dia disebut Mapres atau Mahasiswa Berprestasi. Dia peraih Medali Perak Pimnas ke-37 Mahasiswa Berprestasi Unesa 2025, serta juara 1 akademik dan non-akademik.
Karna dibesarkan di lingkungan keluarga sederhana, Karna adalah contoh semua orang berkesempatan sama untuk sukses.
“Ayah saya petani dan lulusan SD, ibu saya ibu rumah tangga lulusan SMP. Di tempat saya berasal banyak yang nggak sekolah. Saya percaya semua orang memiliki kesempatan untuk sukses,” katanya.
Ceritanya itu disampaikan kepada mahasiswa baru PKKMB Kampus 5 Unesa, Kamis (21/8/2025).
“Kita harus tau apa yang kita kejar sejak dari sekarang. Jangan sampai kita hanya punya ijazah tetapi pengalamannya kosong. Harus ada bekal yang dibawa setelah lulus, entah untuk kerja pun studi lanjut,” tambahnya.
Menurut guru matematika itu, salah satu cara sukses adalah mengenali potensi diri.
“Kenali potensi dan minat bakat teman-teman. Mulai sekarang digali dan dicari yang linier,” ungkapnya.
Alumnus Angkatan 2022 itu mengatakan, ada beberapa poin penting yang perlu dikuasai mahasiswa. Diantaranya memiliki relasi dan kemampuan leadership, mampu berkolaborasi, dan dapat berkomunikasi. Kemampuan itu dapat dilatih melalui aktif mengikuti berbagai kegiatan positif, produktif, dan kompetitif. Seperti Pekan Ilmiah Nasional (Pimnas), Badan Eksekutif dan Himpunan Mahasiswa, dan lain-lain.
“Dengan memiliki banyak kegiatan di saat yang sama, kita secara tak langsung memiliki kecerdasan emosi. Karena kita akan dilatih untuk mengatur emosi yang menjadikan kita dewasa. Yaitu dengan belajar memaafkan dan mendengarkan,” katanya.
Runner Up Duta Anti Narkoba 2022 itu lalu menjelaskan pentingnya melatih kemampuan berkomunikasi. Yakni melalui dikusi dalam forum kecil.
Tak hanya itu, pria jurusan S1 Pendidikan Biologi Unesa itu mengajak maba menolak crab mentality. Crab mentality merujuk pada perilaku individu yang berupaya menghalangi pencapaian orang lain. Tindakan ini menggambarkan persaingan tidak sehat dan berpotensi menimbulkan kerugian. Baik dari sisi sosial pun emosional.
Istilah tersebut berakar dari analogi perilaku kepiting dalam sebuah ember, di mana ketika salah satu kepiting berusaha memanjat keluar, kepiting lainnya akan mencapit dan menariknya kembali. Sehingga tidak ada satu pun yang berhasil keluar.
“Jangan miliki crab mentality, kalau ada teman kita sukses jangan ditarik untuk gagal. Kita punya cahaya kita dan akan bersinar pada waktunya tanpa perlu meredupkan orang lain,” katanya.
Putera FMIPA Unesa 2024 itu lantas membagi tips agar tetap produktif. Kuncinya adalah memiliki skala prioritas dan kemampuan mengatur waktu. Yaitu dengan membagi menjadi empat kategori. Antara lain, Penting dan Mendesak (Lakukan Sekarang), Penting tapi Tidak Mendesak (Rencanakan), Mendesak tapi Tidak Penting (Delegasikan), dan Tidak Mendesak dan Tidak Penting (Hapus).
Bagi dia, proses itu penting. Terlebih, dengan memiliki konsistensi untuk maju dan berkembang. (far/mk)





