Magetan – Sebagian percaya, burung Perkutut lebih dari sekadar hewan peliharaan. Burung ini sarat dengan nilai simbolik, spiritual, dan mitologis yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Dalam tradisi Kejawen, perkutut kerap dikaitkan dengan konsep katuranggan—yakni penilaian berdasarkan ciri fisik tertentu yang dipercaya mencerminkan kekuatan gaib atau yoni.
Kepercayaan terhadap burung perkutut tidak hanya menyentuh aspek estetika dan suara, tetapi juga menyangkut harapan akan keberuntungan, ketenteraman, hingga perlindungan dari marabahaya.
Dalam cerita rakyat, perkutut dipercaya sebagai jelmaan seorang pangeran Pajajaran bernama Joko Mangu yang kemudian dipelihara oleh Prabu Brawijaya V dari Majapahit.
Karena mitos dan mistis yang kerap dikaitkan, memeliharanya gampang-gampang susah. Namun, tidak bagi Budi Santoso. Prajurit berpangkat Lettu ini, tak hanya memelihara dan menggantang Perkutut. Dia juga beternak.
“Saya kalau mikirin mitos atau mistis, mungkin gak jalan-jalan, takut dan lain sebagainya. Saya pilih untuk tidak memikirkan itu,” kata Budi yang berdinas di Denjasa Wonoayu, Sidooarjo itu, Rabu (23/9/2026).
Sejak 2022, setelah belajar dari kenalannya yang disebut sebagai ‘Raja Perkutut Surabaya’, Budi memutuskan beternak. Dari 5 pasang, kini sekitar 200 pasang.
“Awalnya, memang sempat maju mundur. Anakan dari lima pasang laku cepat, akhirnya berkembang seperti sekarang,” ungkapnya.
Hampir semua jenis Perkutut lokal diternak Budi, seperti Cemani, Kapas, Katuranggan, dan yang lain. Peternakannya dinamai HR Bird Farm, di desa Ngelang, Kartoharjo.
“Tak semua Perkutut jantan bisa dijodohkan dengan yang betina. Perlu obsevarsi dulu sampai sepuluh harian,” katanya.
Anakan Perkutut yang dijual antara 70 Ribu hingga 300 Ribu dari peternakannya telah punya pasar di Ngawi dan Surabaya. Keberhasilan ‘Ternak Kutut’ itu diikuti dua orang tetangganya. Mereka diajari Budi untuk ikut beternak.

Dari peternakan, Budi juga berkecimpung pada komunitas Perkutut di Magetan. Bersama beberapa rekan seperti Paijo Adipati, Budi menggagas agar komunitas Perkutut di Magetan membentuk P4LSI (Perkumpulan Pelestari Perkutut Lokal Alam Seluruh Indonesia).
“Sudah beberapa tahun. Masuk P4LSI juga gak mudah. Kami ikut latber di berbagai daerah supaya bisa masuk ke jaringan P4LSI,” jelas Budi.
Pada 27 September mendatang P4LSI Magetan dikukuhkan. Budi terpilih sebagai Ketua P4LSI Magetan. Bersamaan dengan acara peresmian P4LSI Magetan, diadakan Lomba Kicau Perkutut yang direspon sangat baik. Panitia yang awalnya menyediakan 60 gantangan, bertambah jadi 80 gantangan.
“Kami berencana, ke depan bakal membuat event yang besar seperti Bupati Cup begitu untuk meramaikan perkututan,” katanya.
Dari rumah, kandang, dan sekretariat P4LSI, ada satu yang diinginkan Budi dan pencinta Perkutut di Magetan. Harga Perkutut lokal terangkat dan pencinta Perkutut punya wadah untuk berkumpul dan berekspresi. (far/mk)


