Jeda

KATA Jeda bagi masyarakat awam dimaknai sebagai waktu berhenti sejenak. Berhenti sejenak untuk melepas lelah di tengah kegiatan, pekerjaan, atau aktifitas lainnya. Termasuk saya, sejak Februari 2026 lalu memutuskan untuk Jeda menulis opini, artikel atau bentuk lain menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan, baik di media cetak maupun media online.

Selama saya Jeda menulis hampir tujuh bulan ini, ternyata perkembangan dan dinamika di masyarakat sungguh luar biasa, baik di level nasional, regional dan lokal, maupun di bidang sosial, ekonomi, politik, hukum, budaya, dan sebagainya.

Namun ada satu hal yang patut membanggakan sejak saya Jeda menulis, ternyata dalam beberapa bulan terakhir ini sudah mulai muncul individu-individu lokal di Magetan yang berani dan memiliki kemampuan menulis. 

Gagasan pemikiran di berbagai bidang mampu terdokumentasikan dengan baik dalam bentuk tulisan, sebut saja misalnya gagasan pemikiran dari Mas Pangajoman Wakil Ketua DPRD Magetan, Mas Ahmad WiryoSetiawan seorang advokat, Mas Rudi Setyawan (Rudi Gosong) aktivis LSM, Mas Eka Radityo Kepala BPBD Magetan, dan tentunya Mas Didik Haryono Anggota DPRD Magetan mantan jurnalis yang sudah terbiasa menulis.

Kita semua tentunya patut mengapresiasi atas gagasan pemikiran yang dituangkan dalam bentuk tulisan yang telah dibuat mereka. Karena semakin banyak gagasan yang ditulis dan dibaca oleh publik, maka ruang partisipasi publik akan semakin intens. Akan ada kesempatan dan wadah untuk “bertarung” dalam menuangkan pemikiran.

Tidak hanya sekadar obrolan di warung kopi yang ketika sudah pergi tidak akan ada arti, tetapi ketika gagasan itu dituangkan dalam bentuk tulisan, maka tulisan itu akan bisa dibaca kembali nanti. Selain itu ketika pemikiran dituliskan akan ada data, angka dan fakta yang disajikan untuk memperkuat argumen pemikiran.

Ketika saya kembali ke sekolah untuk membimbing murid tiga tahun lalu, saya berusaha akan aktif menulis lagi dan itu sudah terbukti dengan hampir 70-an opini, pendapat, dan gagasan pemikiran dalam bentuk tulisan yang telah saya buat dan publik bisa melihat, membaca dan memperdebatkannya lagi.

Saya dulu pernah menyampaikan ke beberapa kawan jurnalis, tradisi menulis di Magetan harus terus digalakkan dan harus ada keberanian untuk mencobanya. Agar ruang partisipasi publik di Magetan berjalan lebih elegan dan literasi berjalan serasi.

Setelah Jeda ini, saya akan berusaha aktif menulis kembali. Tetapi sejatinya, selama saya Jeda beberapa bulan ini, tidak lepas dari dunia menulis. Karena ada “tugas kesejarahan” yang masih harus saya kerjakan yakni menulis Biografi Gubernur Soerjo dari perspektif keluarga dalam bentuk buku, yang sudahhampir selesai di Bab 2. 

Teruslah berkarya, teruslah menulis, karena ingat pesan Pramoedya Ananta Toer “Orang bolehpandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akanhilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” *

*Ditulis oleh: Muries Subiyantoro, Ketua Dewan Pendidikan Magetan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Bangun Atmosfer Inklusif untuk Dongkrak Minat Baca, Festival Literasi Magetan 2026 Hadirkan Pentas Seni Musik Pelajar

Magetan – Upaya untuk mendongkrak minat baca dari segala lini diupayakan Dinas Kearsipan dan...

Anggota DPRD Jatim Siti Mukiyarti Gelar Sosialisasi Generasi Cerdas Digital, Anak Muda Didorong Manfaatkan AI dan Bijak Bermedsos

Magetan – Di era arus informasi dan teknologi seperti saat ini, anak muda didorong...

Teknokrasi Dingin: Saat Angka Menyingkirkan Kemanusiaan

PROGRAM bantuan sosial dan penetapan desil seolah menjadi panggung teknokrasi yang dingin: kaya angka,...
spot_img

Artikel Terkait