SAYA sebagai orang Jawa, sejak kecil sudah diajarkan tentang salah satu Falsafah Jawa “Ajining diri ono ing lathi, ajining rogo ono ing busono” mengandung makna mendalam mengenai penghargaan terhadap diri dan perilaku. Secara harfiah, ungkapam ini berarti bahwa harga diri seseorang tergantung pada ucapannya, sementara penampilan fisik dihargai melalui cara berbusana.
Dalam kehidupan sehari-hari, falsafah ini menuntun masyarakat (khususnya Jawa) untuk menjaga pikiran, perkataan, dan tindakan agar senantiasa mencerminkan nilai luhur dan jati diri bangsa yang terhormat. Menjaga tutur kata dan tindakan bukan hanya penting untuk citra diri, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam konteks “ajining diri ono ing lathi,” lisan atau tutur kata menjadi cerminan nilai seseorang. Orang yang bijak selalu berhati-hati dalam berucap karena menyadari bahwa kata-kata dapat memengaruhi orang lain, baik positif maupu negatif. Apalagi yang berbicara adalah orang yang memiliki posisi, kedudukan, jabatan dan sebagai pejabat publik, tak terkecuali seorang presiden sekalipun.
Prabowo Subianto sejak dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia pada tangal 20 Oktober 2024 hingga sekarang, apabila kita cermati dalam beberapa kali pidatonya melontarkan kata-kata yang memicu sorotan publik. Misalnya saja menggunakan kata “ndasmu” saat menyindir para pengkritik program MBG dan kebijakan kabinetnya.
Kata “ndasmu” ini diulang kembali di tengah pidatonya saat membahas koruptor dan menirukan gaya berbicara tertentu (seperti sambil nyinyir). Dan terakhir, beberapa hari lalu ketika melontarkan kata-kata “Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya jadi goblok.”
Beberapa ucapan yang dilontarkan Presiden Prabowo Subianto tentunya menuai pro dan kontra. Sebagian kalangan pro melihat sebagai ciri khas ketegasan dan kepribadian apa adanya dari diri presiden. Sementara kalangan kontra menilai gaya dan kata yang diucapkan kurang formal dan santun bagi seorang kepala negara.
Kata-kata yang terucap sulit ditarik kembali, maka memilih kata-kata yang tepat, sopan, dan penuh makna menjadi bagian dari etika yang dijunjung tinggi dalam budaya nenek moyang kita. Dengan menjaga tutur kata, seseorang tidak hanya menghormati dirinya sendiri, tetapi juga menunjukkan rasa hormat kepada orang lain dan lingkungannya.
Saya sebagai salah satu warga bangsa dan sesama orang Jawa dengan Bapak Presiden, berharap tidak ada lagi kata-kata atau ucapan yang menuai sorotan, pro dan kontra di masyarakat. Panjenengan sebagai orang nomor satu di Indonesia, berarti panjenengan juga guru nomor satu bangsa ini, dan selayaknyalah guru itu patut digugu lan ditiru.
Akhirnya, jadi teringat salah satu lagu karya group band Swami (Iwan Fals, Sawung Jabo, dkk) yang berjudul “Hio”. Di lagu itu ada salah satu kalimat yang dibaca sambil dinyanyikan: “Mulane dulor, ayo dijogo, omongane lan kelakuane.”. *
*Ditulis oleh: Muries Subiyantoro, Penggagas LoGoPoRI (Local Government and Political Research Institute) Magetan


