Magetan – Hari ini, Kamis (28/8/2025) proses seleksi Sekda Magetan memasuki tahap Penilaian Kompetensi Manajerial dan Sosio Kultural (Assessment Center).
Proses ini berlangsung di Aula Lantai 5, Gedung Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Jawa Timur, JI. Jemur Andayani No. 1 Siwalankerto, Kec. Wonocolo, Surabaya.
Dari penelusuran magetankita.com, 8 calon mengikuti proses seleksi tersebut.
Menurut pengamat politik dan pemerintahan (Logopori) Magetan, Muries Subiyantoro, proses pengisian sekda ini menjadi pendulum, barometer, tolak ukur yang utama dan pertama.
Maksudnya, jika nanti dalam proses tahapan awal sampai akhir itu memang ‘clear and clean’, bersih dari berbagai macam kepentingan politik, kepentingan kapital, dan yang lain, maka nanti menghasilkan sekda yang benar-benar profesional.
“Ini akan berdampak baik bagi publik Magetan. Dan, seandainya itu terjadi, maka akan memengaruhi proses pengisian jabatan-jabatan lain yang masih banyak kosong di birokrasi Magetan,” jelasnya.
Namun, sebaliknya, kata Muries. Seandainya, proses pengisian sekda ini disinyalir ada hal-hal yang kurang baik misalnya, ada permainan, kongkalikong, maka akan muncul di stigma publik mengenai proses pengisian jabatan-jabatan berikutnya akan terjadi hal yang sama.
“Makanya, bahasanya ini menjadi pendulum, proses pengisian segda ini menjadi pendulum, menjadi barometer, menjadi tolok akur yang utama dan yang pertama. Karena itu, saya berharap proses pengisian ini benar-benar clear and clean,” imbuhnya.
Sementara itu, melihat poling yang dibuat magetankita.com, merupakan hal yang sah-sah saja sebagai inisiatif dan kreativitas.
Muries menilai respon publik melalui poling bisa dibaca sebagai siapakah sosok yang “diterima” publik.
“Diterima itu pemahamannya bisa bermacam-macam. Misalnya, karena yang bersangkutan punya karakter yang baik, punya komunikasi yang baik, punya hubungan sosial yang baik dengan masyarakat, dan sebagainya. Sehingga, ketika poling itu dibuka, maka banyak masyarakat yang memilih yang bersangkutan,” ungkapnya.
Muries menambahkan respon publik bisa menjadi sebuah wacana, selian dipilih Bupati, dia juga harus diterima Masyarakat.
“Supaya jangan sampai nanti misalnya estimasi masyarakat itu ternyata sangat jauh berbeda dengan hasil proses pengisian sekda nanti,” katanya.
Terkait poling Sekda Magetan di poling.magetankita.com ini, hingga pukul 18.00 WIB, urutan pertama ditempati Joko Trihono dengan sekitar 55% responden. Kedua, Welly Kristanto dengan sekitar 37% responden. (far/mk)





