Magetan – Magetan sedang memberi pelajaran kecil tentang cara partai-partai merapikan rumahnya. Awal September lalu, PKS Magetan menetapkan Indra Kusuma Aryanto sebagai ketua DPD untuk periode 2025–2030. Lalu awal Desember, giliran Golkar Magetan mengukuhkan Didik Haryono sebagai ketua DPD periode 2025–2030. Dua momen itu, bagi sebagian warga, terasa seperti tanda: roda estafet di internal partai terus bergerak.
Di tengah suasana itu, pembicaraan tentang Konferensi Cabang (Konfercab) PDI Perjuangan ikut menghangat. Pengamat politik Magetan, Muries Subiyantoro, memilih tidak buru-buru membaca Konfercab sebagai sekadar urusan “ganti pengurus”. Baginya, justru di situlah ujian sebenarnya: apakah partai mampu mengelola estafet kepemimpinan dengan cara yang dewasa.
“Kalau Konfercab hanya dimaknai ganti pengurus, maknanya jadi sempit. Padahal di situ ada proses belajar organisasi, ada ujian kedewasaan, dan ada pertaruhan kepercayaan kader terhadap mekanisme partai itu sendiri,” tutur Muries, Jumat (19/12/2025 ).
Muries menuturkan, perubahan kepemimpinan seperti di PKS dan Golkar sering kali terlihat sederhana di permukaan, tetapi di bawahnya, selalu ada pekerjaan sunyi yang menentukan: menyatukan banyak kepala, menenangkan riak-riak kecil, dan memastikan semua tetap berada dalam satu arah.
Di situlah, menurutnya, Konfercab seharusnya ditempatkan bukan semata panggung euforia, melainkan ruang organisasi menguji diri. Bukan soal “muda atau senior” semata, melainkan bagaimana pengalaman dan energi disatukan tanpa saling meniadakan.
“Yang tua memberi teladan, yang muda diberi ruang. Regenerasi itu bukan memutus rantai perjuangan, tapi memastikan estafet berjalan wajar dan beradab,” ujarnya.
Ia menilai Magetan punya modal kader yang berlapis di banyak partai. Ada yang kuat di lapangan, ada yang matang di pengalaman. Karena itu, forum seperti Konfercab idealnya menjadi tempat “menjahit” potensi, bukan malah membuat jarak.
“Di Magetan ini kadernya sebenarnya lengkap. Tinggal bagaimana forum-forum organisasi itu mempertemukan potensi, dan merajutnya menjadi kekuatan,” kata Muris.
Muries percaya, keputusan apa pun akan lebih tahan lama kalau lahir dari mekanisme yang tertib dan membuat kader merasa dilibatkan.
“Kalau prosesnya rapi dan semua merasa dilibatkan, hasilnya akan sah secara struktural, dan aman secara moral. Dari situlah partai bisa tetap hidup dan relevan,” pungkasnya. (far/mk)
