Takeran – Sudah sekitar dua tahun, Yayuk Kristiana tak bisa berjualan di Pasar Takeran ketika hujan turun.
Padagang sayur itu biasanya berjualan di area tengah kanan. Di selasar, bukan di los. Dia tak bisa berjualan kalau hujan karena ‘trocoh’. Atap bocor menimpa tempat jualannya.
“Setiap hujan saya foto, saya videokan. Saya kirim ke kepala pasar. Tapi, ya sampai sekarang tak ada perbaikan,” ungkapnya, Rabu (13/5/2026).
Tak hanya tak bisa berjualan, barang dagangan juga membusuk karena hujan. Pedagang di sebelah Yayuk, Sami juga mengeluhkan hal yang sama.
“Kira-kira hilang pendapatan sekitar seratus ribu rupiah setiap hari kalua tak berjualan, karena atap bocor pasar,” katanya.
Kondisi ini diamini, Kepala Pasar Takeran Suwarni.
“Memang sudah tidak layak. Problemnya pada talang yang rusak saja. Kami sudah laporkan ke atasan,” katanya.

Keluhan yang ada di Pasar Takeran ini, didengar Anggota DPRD Hendrad Subyakto. Hendrad menggali langsung keluhan para pedagang dengan mendatanginya, Rabu (13/5/2026).
“Kasihan kalau sampai mereka ini tak bisa berjualan. Mereka membayar retribusi, tapi mereka tak mendapatkan fasilitas yang memadai,” katanya.
Hendrad mendesak Disperindag untuk merenovasi kerusakan talang pada atap Pasar Takeran.
“Kalau kita hitung kasar, ini biaya perbaikannya tak terlalu besar. Paling sekitar sepuluh juta. Pedagang ini membayar retribusi, masa tidak ada biaya perawatan misalnya,” ungkap Hendrad yang datang karena Takeran merupakan daerah pemilihannya selain Kawedanan dan Nguntoronadi.
Di Pasar Takeran terdapat 187 pedagang baik yang menempati los atau stan, maupun yang tidak seperti Yayuk dan Sami. (far/mk)




