Muhammadiyah menginjak 113 Tahun, NU di Ujian satu Abad: Dua Ormas Besar, Satu Semangat Ketangguhan

Refleksi Milad Muhammadiyah ke-113

Muhammadiyah merayakan milad ke-113 bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah simbol ketangguhan organisasi Islam modern yang konsisten menjaga nilai, visi, dan budaya organisasi. Lebih dari satu abad perjalanan, Muhammadiyah menunjukkan bahwa kekuatan organisasi lahir dari konsistensi dan kemampuan beradaptasi dengan zaman.

Adaptasi di Tengah Perubahan

Sejak berdiri, Muhammadiyah telah melewati berbagai fase sejarah: kolonialisme, reformasi, hingga era digital. Dakwah yang dahulu dilakukan secara konvensional kini merambah ruang digital, membuktikan bahwa Muhammadiyah tidak statis. Organisasi yang kuat adalah organisasi yang mampu membaca tren sosial, ekonomi, dan teknologi, lalu menyesuaikan diri tanpa kehilangan jati diri. Melalui Gerakan Tajdid (Pembaruan): Ini mencakup dua hal, yaitu purifikasi (pemurnian) akidah dan ibadah agar sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta modernisasi (penyesuaian ajaran) dengan perkembangan zaman.

Dinamika dan Penyelesaian Masalah

Dalam organisasi besar, dinamika adalah keniscayaan. Perbedaan pandangan, tekanan tugas, dan komunikasi yang kurang efektif bisa menimbulkan gesekan. Namun, justru di situlah kedewasaan organisasi diuji.

  • Anggota dituntut untuk berpikir jernih, menjaga komunikasi sehat, dan mengedepankan kepentingan bersama. Pimpinan berperan sebagai penengah yang arif, melakukan evaluasi dengan santun, dan mendorong solusi konstruktif. Musyawarah, silaturahmi, dan bahkan perdebatan menjadi ruang belajar untuk tumbuh bersama.

Organisasi yang kuat bukan berarti bebas dari masalah, melainkan mampu melewati masalah dengan soliditas dan kedewasaan.

Budaya Organisasi dan Media Sosial

Di era media sosial, budaya organisasi Muhammadiyah menjadi filter penting. Nilai-nilai seperti etika, disiplin, dan solidaritas menjaga marwah organisasi di tengah banjir informasi, hoaks, dan polarisasi digital. Relevansi budaya ini memastikan Muhammadiyah tetap menjadi teladan dalam berinteraksi di ruang publik modern.

NU dalam Ujian

Sementara itu, belakangan ini Ormas Nahdatul Ulama tengah menghadapi ujian berat: mulai dari Dinamika Organisasi dan lainnya. Situasi ini menimbulkan keprihatinan, namun juga menjadi pengingat bahwa setiap organisasi besar selalu diuji oleh dinamika internal maupun eksternal.

Sebagai sesama ormas Islam, dukungan moral patut diberikan agar NU tetap solid, dewasa, dan mampu melewati badai dengan semangat kebersamaan. NU adalah bagian penting dari sejarah bangsa, dan ketangguhannya tetap menjadi harapan seluruh umat manusia.

Penutup

113 tahun perjalanan Muhammadiyah dan satu abad NU menegaskan bahwa kekuatan organisasi lahir dari konsistensi, adaptasi, dan budaya penyelesaian masalah. Tantangan boleh datang silih berganti, tetapi dengan kepemimpinan bijak dan budaya organisasi yang kokoh, Muhammadiyah dan NU akan terus relevan serta menjadi teladan bagi umat.

KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari lahir dari rahim bangsa yang sama, membawa semangat dakwah yang menyejukkan, membangun pendidikan, dan menanamkan nilai persaudaraan.

Meski Muhammadiyah dan NU tumbuh dengan corak berbeda, keduanya berpijak pada cita-cita yang serupa: menjaga umat, merawat harmoni, dan menyalakan obor kemajuan Islam di tanah air. *

Ditulis oleh: Yuniar Jamil Syahrir Bakhri, S.E., Mahasiswa Pascasarjana Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Anggota PDPM Magetan Bidang Ekonomi Kewirausahaan, Ketua PCPM Sukomoro, Sekretaris PCM Sukomoro.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terkait

Hot this week

spot_img

Popular Categories

spot_img