Jawa Timur – Peternak ayam petelur harus mendapatkan kepastian harga dan jaminan penyerapan dari program pemerintah MBG melalui instruksi langsung dari BGN. Ini disampaikan Anggota DPR RI Komisi IV Dapil 7 Jatim, Riyono.
Menurut Riyono, meskipun demo peternak ayam petelur direspon dengan aksi pembelian telur oleh ASN dan pemberian jagung subsidi, namun belum mengangkat harga telur di lebel peternak.
Harga telur jatuh ke titik rugi bagi para peternak. Di kandang telur hanya dibeli dengan harga Rp21.000 – 22.000/kg dengan ongkos produksi kisaran Rp23.000.
“Aksi pembagian 62 ton telur di Blitar menjadi puncak usaha para peternak lokal di Jatim, harga sudah gak masuk akal, penyerapan di program MBG juga belum maksimal, para tengkulak bisa mempermainkan harga, harga pakan lumayan tinggi” keluh Riyono Caping, Selasa (2/6/2026).
Stok telur nasional saat ini sebenarnya melimpah, akhir 2025 ada stok 6.52 juta ton dan kebutuhan nasional non MBG 6.225 juta ton. Masih ada kelebihan stok 295 ribu ton di lapangan. Ini memberikan jaminan harusnya harga bisa stabil dan menyejahterakan peternak.
“Melihat stok telur harusnya aman, kedua bahwa harga harusnya bisa stabil di kisaran 24 – 26 ribu per kg di peternak agar ada margin untuk produksi kembali, jika harga terus turun maka produksi nasional bisa terancam turun” papar Riyono.
Riyono meminta pemerintah tegas dan jelas, dengan memastikan harga beli di kandang peternak lokal sesuai HAP di kisaran 22 – 25 ribu. Sampai di konsumen maksimal 30 ribu. Kedua, Satgas Pangan harus tegas kepada pembeli besar jika membeli di bawah HAP maka bisa dikenakan sanksi. Ketiga. perlu jaminan harga dan pembelian dari semua SPPG yg berada di bawah BGN untuk membeli dan menyerap telur di peternak lokal. (far/mk)
