Pendahuluan.
Sejak dulu pedalaman Jawa ini merupakan inti dari feodalisme dengan penduduk yang banyak, lebih banyak dari daerah manapun di Jawa. Adanya prasasti, candi-candi dan peninggalan monumen raksasa menunjukkan bahwa di pedalaman Jawa Tengah dan Jawa Timur yang banyak penduduknya dulu adalah pusat kerajaan di pedalaman.
Tentu pedalaman Jawa yang subur menarik banyak penduduk untuk tinggal, bercocok tanam menjadi sumber penghidupannya. Tak mengherankan bila kerajaan di pedalaman Jawa merupakan kerajaan yang ditopang oleh pertanian dan hasilnya diperdagangkan melalui pelabuhan di pesisir yang kemudian dikuasainya.
Ketika peradaban di pedalaman Jawa berkembang, juga secara bersamaan telah berkembang lebih maju peradaban di wilayah lainnya seperti India yang kemudian mempengaruhi peradaban di Jawa dengan masuknya agama Hindu dan Buddha.
Sesuai dengan catatan dari prasasti dan catatan lainnya, sampai dengan periode Majapahit maka maka kerajaan di Jawa dapat digambarkan sebagai berikut:

Pada periode Jawa Tengah ini, kerajaan Mataram kuna berada di pedalaman Jawa
Tengah. Dan dalam periode selama 198 tahun tersebut kerajaan Mataram diperintah oleh 17 raja atau penguasa, mulai dari Sanjaya (732-746), kemudian diganti Rakai Panamkaran (746-784), Rakai Panunggalan (784-803), Rakai Warak (803-827) dan seterusnya kemudian penguasa yang terakhir Rakai Pangkaja Dyah Wawa (928-929).
Sedang periode Jawa Timur, kerajaan ini berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur dengan nama tetap Mataram dengan ibu kota di Tamwlang karena berbagai sebab, salah satunya adalah adanya bencana meletusnya gunung berapi yang maha dasyat. Untuk periode khususnya periode kerajaan Tamwlang-Kahuripan inilah kondisinya paling sedikit memberi keterangan raja-raja yang memerintah serta lamanya. Terbatasnya informasi ini akibat dari sedikitnya prasasti yang dikeluarkan pada masa periode ini.
Oleh sebab itu dalam jangka waktu 122 tahun hanya tercatat lima saja raja yang memerintah karena sedikitnya informasi.

