Dari Wartawan, Kades, Kini Ketua Partai, Didik Haryono Mau Buat Golkar Magetan Asyik

MK: Dari Jurnalis ke politisi, apa yang melatarbelakangi?

DHY:  Nah itu dulu kita ini kan sama dengan mas Rian. Di media. Media itu enggak lepas dari kegiatan politis. Baik lingkungan wacana, pergerakan politik, dan juga tokoh-tokoh politik. Kita kan enggak bisa jauh-jauh dari itu.

Nah kedekatan dengan lingkungan politik, kedekatan kita dengan pergerakan-pergerakan politik, dan tokoh-tokoh politik itu. Membawa satu kesimpulan, saya ingin masuk ke politik, ke partai. Maka saya memilih Golkar.

Karena bagi saya partai yang menerima perbedaan pikiran, yang bisa menghargai, mengapresiasi kemampuan kader, karena kemampuannya, kemampuan pikiran berorganisasi itu ya Golkar. Karena saya enggak punya modal lain. Saya enggak punya modal kapital, modal keturunan, enggak ada.

Kalau orang bilang kan kesempatan itu terulang dua kali. Ketika ada momen, ya harus kita ambil itu ya di situ. Kemarin saya lakukan ketika saya riset dari jurnalis, saya milih ke Golkar.

MK: Sempat off di partai karena jadi kepala desa, ceritanya?

DHY: Jadi begini, saya ini kan tinggal di desa. Di Soco, Bendo. Itu tempat tinggal, tempat lahir saya. Saya selama ini memang all out di sana. Terlibat di kegiatan itu. Sebenarnya, bursa menjadi calon kepala desa itu sudah sejak 2008. 

Kebetulan saya baru lulus kuliah. Usia saya baru 23 tahun. Syarat menjadi kepala desa itu 25 tahun. Tidak jadi maju karena usia. 

2013 saya ini masuk lagi menjadi bursa calon kepala desa. Saya masih jadi wartawan. Cuma kebetulan ada saudara yang maju. Putranya Budhe. Yang lebih sepuh. Maka saya ngalah.

Nah, baru di 2019 itu, masyarakat itu sudah bulat harus ikut maju kepala desa. Nah, di situlah saya ngambil pilihan, mundur dari Sekretaris Golkar untuk maju kepala desa. Ada permintaan masyarakat. Itu betul-betul permintaan masyarakat. Karena saya harus melawan incumbent. Dan terbukti saya masih unggul 60%.

2023 pertengahan, mendekati 2024, kembali saya diminta untuk nyaleg. Jadi ada senior DPR-DRI itu, DPRD di kabupaten, minta saya harus nyaleg. Dari hasil istikarah, saya mantap untuk nyalek. Saya mundur kepala desa, nyaleg di 2024. Alhamdulillah sesuai harapan. Jadi prosesnya begitu.

Ya, sempat ngalami dilema. Tetapi akhirnya kan kita harus ngambil pilihan. Dilema itu kan muncul ketika belum ngambil keputusan. Dilema, bayangkan 3 tahun setengah, ketika sedang sayang-sayangnya, saya harus mundur. Dan, yang meminta saya mundur itu bukan masyarakat, tapi senior-senior saya yang sudah di DPR RI.

Saya harus keliling tiap RT. Saya mundur itu saya harus menjelaskan tiap RT, mas. Karena begini, maka saya izin harus mundur, karena masyarakat enggak ingin saya mundur itu, menolak.

Prinsip saya begini mas, saya ini kan memang sejak kuliah ini sudah aktif. Aktif di intrakampus, kemudian di jurnalis kita juga aktif, tidak hanya di media saja, di organisasi kita juga aktif, di Masyarakat, desa Karang Taruna, kemudian di remaja masjid kita aktif semua.

Bagi saya, tanggung jawab kita ini kan ketika berguna bagi lingkungan. Makanya itu kita ambil ketika ada momentum yang itu memberi ruang pengabdian lebih, ya kita ambil. Saya percaya hidup ini tidak jelas, tetapi tujuan kita jelas, memberi manfaat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terkait

Hot this week

spot_img
spot_img

Popular Categories

spot_img