Duit Sitik tapi Tonjo

Magetan – Bupati Magetan, Suprawoto, menyatakan HUT Magetan harus menjadi milik masyarakat, bukan milik pemda. Masyarakat dilibatkan dalam peryaaan hari jadi Magetan. Mulai dari logo yang dibuat warga, hingga gelaran event yang membuat denyut perekonomian masyarakat terasa.

Berikut wawancara magetankita.com dengan Pak Bupati, baru-baru ini.

Pak Bupati, kritik publik itu biasanya kalau terkait acara  atau event di Magetan. Kalau gak mengulang, ya cuma sekadar menggugurkan kewajiban. Perayaan hari jadi ke-347 ini, memang luar biasa membalikkan semua itu. Malah ada sejarah di dalamnya, ada buku, ada Masjid Ki Mageti, apa yang terjadi sebetulnya?

Eh, gini ya Mas ya, Perlu saya sampaikan bahwa Tahun 2021, saya sudah diskusi sama kebetulan anak saya dokter spesialis yang dulu masternya dari Belanda. yang memahami endemi itu kayak apa. Saya diskusi, kemudian saya melihat bahwa tren vaksin ini demikian baik di Magetan. Pasti nanti akan terjadi herd Immunity. Oleh sebab itu, kalau Mas Ryan ingat, saya sudah perintah bulan Oktober kepada seluruh OPD. Semua kegiatan tahun 2022, harus di-event-kan. Gak boleh biasa-biasa saja. Sekecil apapun, harus mendatangkan orang. Karena, rakyat kita sudah terpuruk selama dua tahun.

Pemerintah itu kan, suka tidak suka, spending pemerintah itu cukup signifikan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Oleh sebab itulah, saya minta seluruh OPD mendata semua kegiatan yang mungkin bisa di-event-kan Dan, kemudian dibuat Calendar of Event. November tahun 2021, kita launching di Genilangit. Sampai 174 kalau ndak salah, satu tahun.

Itu cara saya. Dan, kemudian saya sudah pesen sama temen-temen OPD. Jangan hanya menggugurkan kewajiban tadi, Harus diubah cara kerja. Bayangkan, begini Mas, Ini contoh yang paling sederhana. Tahun kemarin, tahun HUT yang ke-346.

Itu saya ingat, logo itu dikritik sama medsos. Saya terbuka aja. Walaupun saya tidak aktif bermain medsos, tetapi saya mengikuti Apa harapan masyarakat.

Rasanya, saya tidak elok, Bupati kok terlalu main di Medsos. Mohon maaf, saya harus sampaikan. Ini kan banyak persoalan yang harus saya selesaikan, kalau saya hanya membuat citra aja, Loh, nanti kok Magetan seperti kurang pekerjaan, masalah kita begitu banyak yang perlu pemikiran serius. Saya mohon maaf kepada masyarakat Magetan, kaum milenial kalau tidak terlalu aktif. Bukan berarti saya ndak, saya mengikuti, saya mengikuti.

346 itu dikritik. Logonya kok kayak gini, jelek. Saya langsung bilang, tahun depan harus dilombakan. Biar masyarakat sendiri yang menentukan. Kita ikuti aja. HUT biar miliknya masyarakat, bukan miliknya pemda. Harus diubah saya bilang begitu.

Kenapa Mas ya, saya kemudian baru kelihatan mungkin ini ya, Karena, saya kurang beruntung juga jadi bupati, Begitu jadi bupati kena Covid, jadi perhatian saya terus ke Covid. Sehingga, hal-hal seperti ini kemudian bisa saya pikirkan secara intens ketika Covid sudah agak mereda.

Saya sudah wanti-wanti, lombakan. Bukan hadiahnya, tetapi orang kemudian dihargai karyanya, terus menjadi logo resmi pemerintah Siapapun akan bangga. Minimal kan bisa untuk buat CV-nya. Dia kalau anak muda bisa untuk bekerja. Logo dia, pernah jadi juara 1, dan dipakai oleh pemerintah Magetan. Kelihatannya sederhana, tetap memberi makna yang besar bagi anak-anak kita, toh ya anak-anak kita.

Kenapa, kita harus tidak melibatkan mereka.

Kemudian, yang kedua. Ambil contoh misalkan begini. Maaf ini, saya buka apa adanya aja. Anggaran dana cukai rokok.

Dulu biasanya, itu kegiatannya, business usual, menggugurkan kewajiban. Sosialisasi rokok itu biasanya hanya, dikumpulkan orang di Kecamatan. Abis itu diceramahi.

Ini ndak bener. Kemudian, saya cermati. Saya cermati betul.  Alasan temen-temen, oh Pak aturannya begini. Saya ndak percaya.  Saya kemudian ke Provinsi. Tanya sendiri ke Bappeda sana. Apakah iya, dana cukai itu ndak boleh membuat rumah sakit. Apakah ndak boleh ini?

Loh, boleh Pak. Siapa yang bilang gak boleh. Jadi, Gak boleh pimpinan itu hanya, Ada sesuatu yang ganjil itu harus kita cari Itu buktinya. Kemudian, saya ubah, gak boleh lagi seperti ini.

Dan, itu umum dilakukan semua kabupaten di Jawa Timur ini.

Kemudian, saya bilang, tahun 2022 dana cukai rokok, oke yang untuk sosialisasi separuh. Yang separuh tak buat rumah sakit. Makanya, kemudian saya buat rumah sakit di Lembeyan. Terus rumah sakit di Panekan. Multi years. Insya Allah, tahun depan selesai.

Covid, harus saya maknai tidak hanya negatifnya, yang menyerang masyarakat. Kalau itu saja, itu berarti legacy kita nanti hanya orang yang terkonfirmasi sama korban. Saya tidak mau. Bahwa Covid menyadarkan kepada kita, sarana dan prasarana kesehatan kurang lengkap. Oleh sebab itu harus dilengkapi.

Itu cara berpikir saya. Oleh sebab itu, walaupun dana terbatas. Kalau bahasa Jawanya itu, duit sitik tapi tonjo. Uang kita itu kecil, tapi tidak dihambur-hamburkan, tapi manfaat untuk rakyat.

Kemudian saya menggagas rumah sakit tumbuh. Puskesmas saya besarkan. Suatu saat akan menjadi rumah sakit. Sehingga, ketika Sayidiman nanti tumbuh menjadi rumah sakit tipe B. Itu ada satelitnya. Satelitnya di Lembeyan dan Panekan.

Kan gitu Mas, ini cara berpikir kita, sambil melengkapi  dokter-dokter kita sekolahkan untuk ngambil spesialis. Sarana dan prasarana di Sayidiman, kita lengkapi.

Kemudian, kegiatan-kegiatan sosialisasi rokok ilegal kita event-kan Nanggapo misalkan, campursari. Nanggapo kesenian lokal. Seniman-seniman Magetan, dua tahun tidak kerja. Tanggapen dengan cara itu. UMKM tumbuh. Kemudian kita sebar di kecamatan-kecamatan. Itu cara saya. Sehingga, kegiatan itu kemudian, denyut menjadi ada. (far/mk)

DUIT SITIK TAPI TONJO – YouTube

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terkait

Hot this week

spot_img
spot_img

Popular Categories

spot_img