Mas Arif, Baik!

“Ayah, nanti pulang kapan? Aku tiap hari nunggu loh.”

Istri Miftakhul Arif Widiyanto masih histeris. Ketika kerabat, sahabat, dan teman, bertakziah, Minggu (5/7/2026).

Rasanya, memang tak percaya Mas Arif pergi secepat ini. Usianya baru 53 tahun. Meski, tahu sudah pasang stent atau tabung kecil untuk mengatasi penyumbatan pembuluh darah di jantung sekitar dua atau tiga tahun lalu. Sudah lima ring terpasang. Dalam dunia medis, ini sudah mentok. Tidak bisa ditambah lagi.

Tetap saja, dia pergi terlalu cepat.

Di Magetan, siapa yang tak mengenalnya. Dia pernah jadi wartawan Radar Madiun belasan tahun. Ketika, sudah tak di sana. Dia masih istiqomah. Bersama saya, mendirikan media online magetankita.com.

Dialah yang punya cerita tentang Pak Suto. Pekerja migran asal Kecamatan Panekan. Sekitar lima belas tahun lalu, Pak Suto membaca media online lokal untuk mengetahui perkembangan desanya. Kebijakan Mbah Lurahnya, sampai proses pergantiannya lewat pilkades. Dia tak perlu sedikit-sedikit menelpon keluarganya atau tetangganya, atau perangkat desanya. Dia sudah bisa cepat mengetahui kabar desanya.

Cerita ini yang dianalogikan sebagai kekuatan media lokal. Kata Mas Arif, kabar-kabar kecil di desa sangat mungkin tak bisa menjadi materi berita di media nasional. Sedangkan, Pak Suto membutuhkan informasinya. Bersama media-media lokal, dia turut membidani terbentuknya Asosiasi Perusahaan Media Magetan (APMM). Perkumpulan media lokal di Magetan.

Mas Arif memang guru di dunia jurnalistik. Dia memiliki empat hal pokok yang harus dipunyai untuk menjadi jurnalis yang baik. Satu sampai tiga urusan Teknik, yang semuanya bisa dipelajari. Yang keempat, punya ‘hati’.

Tak cuma baik. Mas Arif adalah wartawan yang sabar. Agak jarang melihat dia marah. Dan, satu lagi, dia suka membantu. Dia pernah tak lolos uji kompetensi. Pasti. Pasti, bukan karena dia tidak bisa mengerjakan, tidak kompeten. Dia setara bahkan mungkin melebihi dengan pengujinya. Dia tak lolos karena membantu wartawan lain.

Banyak lagi, cerita soal bantuan Mas Arif ini kepada wartawan lain. Pascapilpres lalu, Mas Arif tak lagi menekuni dunia jurnalistik. Dia sibuk di usaha properti di Madiun.

Selamat jalan, sahabatku. Terima kasih atas semua kenangan indah bersama. Doa terbaik selalu menyertaimu dan keluargamu. Semoga istri, segera tak lagi menanyakan kapan pulang. *

*Ditulis oleh Fariansyah, Jurnalis, dan Ketua Asosiasi Perusahaan Media Magetan (APMM)

1 KOMENTAR

  1. Pernah duduk bersama dengan beliau, saat mengembangkan dan memperluas jangkauan Times Indonesia. Saya yang sering melakukan kesalahan dan beliau dengan sabar menyakinkan kami.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terkait

Hot this week

Tahun Ajaran Baru Dimulai, Masih Ada 160 Guru di Magetan Belum Dapat Kejelasan Status

Magetan – Tahun ajaran 2026/2027 baru saja dimulai. Setelah...

Waspada Kemarau, DPUPR Magetan Ingatkan GHIPPA dan HIPPA Prinsip Keadilan Air untuk Petani

Magetan - Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR)...

Proyek di Magetan telah Berjalan, DPUPR Magetan Pastikan Selesai Tepat Waktu

Magetan – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR)...

Masuk Tahap Lelang, Penataan Kawasan Stadion Yosonegoro Magetan Segera Dimulai

Magetan – Pascarelokasi pedagang burung di Kawasan Stadion Yosonegoro,...

Gelar Seri Pembuka Balap Bergengsi Matapanah Cup Race 2026, IMI Magetan: Komitmen Datangkan Promotor Terbaik

Magetan – Ikatan Motor Indonesia (IMI) Magetan menunjukkan komitmennya...

Terbaru

Proyek di Magetan telah Berjalan, DPUPR Magetan Pastikan Selesai Tepat Waktu

Magetan – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR)...

Masuk Tahap Lelang, Penataan Kawasan Stadion Yosonegoro Magetan Segera Dimulai

Magetan – Pascarelokasi pedagang burung di Kawasan Stadion Yosonegoro,...

Popular Categories