BerandaOpiniMengakhiri Tugas dengan Tulisan (Untuk Temanku Mas Suwata)

Mengakhiri Tugas dengan Tulisan (Untuk Temanku Mas Suwata)

DULU, ketika masih bekerja dengan Mas Suwata saya sering berkelakar di hadapan guru dan kepala sekolah,”Hayo guru dengan saya itu sibuk mana. Saya saja masih menulis kok gurunya malah tidak. Dan guru itu sebagai salah satu tugas penunjangnya selain mengajar adalah menulis dalam berbagai bentuknya. Mari mulai sekarang menulis. Dimulai dari tulisan yang sederhana dan dikuasai saja dulu.” Kalau sudah demikian, biasanya semua tertawa. Mungkin saja tertawa kecut, karena yang saya sampaikan ada benarnya bukan hanya sekedar menyuruh tetapi memberi contoh.

Saya sudah menulis di media masa baik lokal maupun nasional sejak tahun 1986. Dan kebiasaan itu terus saya lakukan tanpa melihat dapat apa (honor misalnya), tetapi ada rasa puas kalau bisa menuangkan ide atau kegundahan hati dalam bentuk tulisan. Jadinya menulis sudah merasuk dalam tulang sungsum saya. Seolah tiada hari tanpa duduk dimuka laptop (dulu mesin ketik) untuk menulis. Di luar menulis juga membaca buku. Tidak mungkin kita bisa menulis dengan mengalir dan tanpa dibarengi dengan kebiasaan membaca.

Ketika saya mendengar cerita dari wartawan sekaligus pemilik media ini, kalau Mas Suwata memasuki masa pensiun dan kemudian sebagai kado penanda purna dengan kado sebuah buku yang dituturkan kepada redaktur Magetankita.com kemudian ditulis dengan judul “Cerita Suwata.” Tentu saja mendengar kabar tersebut sungguh saya ikut senang. Di tengah gempuran serta penetrasi berbagai platform media baru diiringi terus tergerusnya minat baca, masih ada orang yang berpikir antimainstream. Melakukan segala sesuatu yang orang lain sudah enggan melakukannya.

Tentu saja apa yang telah Mas Suwata lakukan merupakan tindakan yang langka. Bahkan sedikit sekali mantan pejabat menandai akhir dari kharirnya dengan menulis sebuah buku. Dan kita semua tahu, pentinya menulis. Tapi mengapa sangat sedikit yang bersedia melakukannya.

Buku Cerita Suwata tidak tebal, namun pesan yang ingin disampaikan apa saja yang telah dilakukannya selama menjabat Sebagai Kadispora Kabupaten Magetan. Dan untuk mengurangi subyektivitas, kemudian ditutup dengan pandangan dari beberapa guru dan teman sejawatnya.

Beruntung, Mas Suwata menyadari bahwa memegang jabatan adalah kesempatan untuk berbuat kebaikan serta menorehkan tinta emas bukan malah sebaliknya. Tak salah kalau kemudian Presiden Amerika Abraham Lincoln pernah mengatakan: “Jika Anda ingin menguji karakter sejati seseorang, berilah dia kekuasaan.” Untuk apa kekuasaan itu. Untuk kepentingan masyarakat luas atau kesempatan untuk dirinya sendiri.

Dan Mas Suwata telah melakukan itu dengan benar, bahwa kekuasaan selama dipegangnya untuk kebaikan dan kemajuan sebagaimana kesaksian guru dan teman sekerjanya.

Dan tentu saja keberanian untuk membukukan apa yang pernah dilakukan sebagai salah satu bentuk transparasi serta tanggung jawabnya. Saya sering mengatakan di berbagai tempat, sebenarnya nenek moyang kita telah mengajarkan kepada kita semua pentingnya menulis. Ketika teknologi seperti alat mencatat belum berkembang seperti sekarang ini, nenek moyang kita mengajarkan menulis di batu yang kemudian dikenal dengan prasasti.

Keterbatasan tidak boleh menyurutkan niat untuk menulis dan membuat catatan. Demikian juga ketika kemudian ditemukan teknologi yang lebih maju kemudian menulis di daun lontar. Bayangkan kalau nenek moyang kita tidak menulis di batu dan lontar maka catatan masa lalu seperti sejarah Mulawarwan, Tarumanegara, Syailendra, Singosari, Majapahit, Mataram tidak akan kita ketahui.

Adanya prasasti Kutai maka kemudian diketahui bahwa di Kalimantan Timur dulu ada sebuah kerajaan yang diperintah oleh Mulawarman. Adanya prasasti Ciaruteun dan lainnya bukti kejayaan kerajaan Tarumanegara. Demikian juga prasasti dan catatan lontar yang lainnya. Di bidang agama, tentu kita dari berbagai agama tidak bisa membayangkan seandainya tidak ada tulisan kitab suci masing-masing yang kemudian kita semua dapat membaca, mempelajari dan mengamalkannya.

Dua kali saya mengunjungi negara Uzbekistan. Sebuah negara di Asia Tengah, karena tugas negara memantau pemilu. Di negara tersebut lahir ahli hadits yang termasyur Imam Bukhari yang lahir di kota Bukhara dan wafat dan dimakamkan di kota Samarkand. Karena saya tamu negara untuk memantau pemilihan presiden dan kunjungan bilateral waktu itu, difasilitasi untuk ziarah di makam Imam Bukhari. Di dalam pusara tersebut kemudian saya merenung cukup lama, oleh karena Imam Bukhari yang menulis hadits berjilid-jilid kita bisa membaca hadits-hadits yang termasyur.

Dari contoh di atas bisa jadi mengingatkan kepada kita semua betapa pentingnya menulis. Kebiasaan menulis di akhir masa jabatan sebenarnya juga menjadi kebiasaan dan dicontohkan para pejabat Belanda waktu itu. Kita semua bisa membaca kondisi berbagai daerah di Indonesia karena kebiasaan para pejabat Belanda menulis. Mulai pejabat Belanda paling renah Controleur, Asisten Residen, Residen, Gubernur dan Gubernur Jenderal semua meninggalkan tulisan.

Kebiasaan bagus itu kemudian juga dilanjutkan oleh founding fathers kita yang memang berpendidikan Belanda seperti Sukarno, Moh Hatta, Syahrir, Moh Yamin dll. Beliau semua memiliki kebiasaan menulis. Namun sayang kebiasaan itu tidak lagi menjadi budaya pejabat-pejabat di Indonesia saat ini. Saya tidak tahu lagi, apa yang kemudian yang kita wariskan kepada anak cucu kita kelak kalau tidak ada kebiasaan menulis.

Dan mungkin yang kita wariskan adalah warna kelam yang terekam berbagai pesan carut marut, caci maki dan pertengkaran antar anak bangsa di platform media baru yang tak jelas tujuan dan manfaatnya bagi bangsa ini.

Tentu saja sekali lagi saya mengucapkan selamat kepada Mas Suwata sekaligus teman saya ketika masih bersama-sama bekerja di Kabupaten Magetan. Kemudian saya juga teringat kata bijak seorang pemikir Islam terkenal Imam Al Ghazali,”Kalau kamu bukan anak raja dan anak ulama besar, maka menulislah.”

Dan sejarah juga telah membuktikan dan saya kemudian ingat pula nama besar Ibu Kartini (1879-1904) itu hebat karena juga karena tulisan. Kalau seandainya Ibu Kartini tidak menulis, saya yakin beliau juga akan dilupakan oleh jamannya sebagaimana wanita Jawa pada umumnya. Oleh sebab itu Ibu Kartini kemudian dikenang sepanjang sejarah, karena gagasan yang telah dibukukan.

Demikian juga William Shakespeare yang menulis cerita roman antara 1591-1595 “Romeo and Juliet” sampai dengan sekarang namanya tetap dikenang karena tulisannya. Tidak salah kemudian ada sebuah kalimat bijak dari sastrawan kondang Pramoedya Ananta Toer,” Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah, menulis adalah bekerja untuk keabadian.”  Oleh sebab itu, apa yang dilakukan teman sejawat saya Mas Suwata ini sungguh langkah yang tepat dan mulia.

Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Kalau kita tarik lebih jauh seharusnya manusia mati meninggalkan karya. Begitulah kira-kira peribahasa yang sering kita dengar. Tentu bentuk karya itu itu sesuai panggilan masing-masing individu. Karya bisa apa saja. Namun betapa ruginya kalau seseorang tidak ada legacy sama sekali dalam hidupnya.

Bung Karno karena punya kuasa kemudian bisa mendirikan monumen Tugu Monas. Pak Harto punya kuasa kemudian bisa membuat monumen Taman Mini Indonesia Indah. Kalau kita tidak punya kuasa, tapi memiliki kemerdekaan berbuat dan berpikir, maka menulislah karena menulis dalam bentuk buku itu juga monumen.  

Sekali lagi selamat kepada Mas Suwata, teruslah berkarya dan berbuat baik bagi sesama dimana pun. Jangan pernah berhenti. Apalagi berbuat baik tidak perlu harus menjadi pejabat. Siapa pun bisa. Tinggal kita mau apa tidak. *

*Ditulis oleh: Suprawoto, mantan Kadis Kominfo Provinsi Jawa Timur 2002-2005, Kepala Badan, Irjen, Sekretaris Jenderal Departemen Komunikasi dan Informatika 2014-2017, Bupati Magetan 2018-2023, dan saat ini sebagai Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Wartawan Jawa Timur.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Masuk Program Prioritas, Dishub Magetan Pastikan Angkutan Pelajar Gratis Segera Beroperasi Kembali

Magetan – Pemkab Magetan memastikan layanan angkutan sekolah gratis bakal beroperasi kembali. Sebelumnya, layanan...

Isyaratkan Sepakati Semua Bentuk Kerja Sama, Wabup Magetan: Sudah Kita Manut dengan Unesa

Magetan – Pemkab Magetan mengisyaratkan bakal menyetujui semua bentuk kerja sama dengan Universitas Negeri...

Kawasan Berfilosofi Mahkota, Unesa Paparkan Rencana Pengembangan Kampus di Kota Magetan (2/habis)

Surabaya – Universitas Negeri Unesa (Unesa) memaparkan rencana pengembangan Kampus Unesa 5 di kota...

Artikel Terkait