PADA kesempatan yang berbahagia ini perlu kami sampaikan, lembaga pendidikan tinggi Stikosa-AWS didirikan, sebagai salah satu cara memenuhi langkanya sumber daya manusia bidang komunikasi. Pada awal pendirian masih berbentuk akademi. Ketika itu, baru Yogyakarta dan Bandung lembaga pendidikan negeri sebagai pembina yang memiliki jurusan komunikasi dan waktu itu masih disebut publisitik. Sedang tingkat akademi, baru ada akademi kedinasan milik Departemen Penerangan (Akpen) yang mahasiswanya disiapkan sebagai pegawai.
Berangkat dari situlah, kemudian tokoh pers Jawa Timur dan unsur pemerintah dan juga Jawatan Penerangan Provinsi Jawa Timur kemudian sepakat segera mendirikan Akademi Wartawan Surabaya. Pada peringatan HUT PWI ke-19 tahun 1964 gagasan itu disampaikan secara terbuka oleh ketua PWI. Sebagai tindak lanjut, pertemuan dan diskusi dalam rangka persiapan pendirian dilakukan untuk mendirikan lembaga pendidikan tinggi setingkat akademi.
Setelah melalui perjuangan dan dinamika yang terjadi, pada akhirnya tanggal 11 November 1964 resmi berdiri Akademi Wartawan Surabaya (AWS). Sebagai lembaga tinggi yang memang didirikan oleh lembaga yang bergerak dan berkecimpung bidang komunikasi, tak mengherankan bila lembaga yang didirikan ini dapat mencetak wartawan handal di Jawa Timur bahkan Indonesia Timur. Dan tentu kelahiran lembaga tinggi yang pertama dibidang komunikasi di Indonesia Timur ini mendapat apresiasi utamanya dari kalangan pers.
Dalam perjalanannya, banyak alumni AWS yang kemudian bekerja di media, baik cetak maupun elektronik. Bahkan tidak sedikit yang kemudian bekerja di pemerintahan. Baik pemerintah pusat maupun daerah. Juga pada akhirnya dalam meniti karir, para alumni AWS banyak yang menduduki jabatan penting di media maupun pemerintahan.
Ini menunjukkan, kualitas para alumni AWS sejak awal didirikan khususnya di dunia kerja sangat membanggakan. Kemudian atas kebutuhan dan tuntutan saat itu dengan sangat diperlukannya pendidikan sarjana maka pada tahun 1984 AWS meningkatkan statusnya menjadi sekolah tinggi dengan nama Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Massa (Stikosa AWS). Dan menetapkan sebutan AWS masih tetap melekat pada sekolah tinggi.
Sesuatu yang besar bermakna besar, adalah sebuah kewajaran. Sebuah institusi pendidikan yang sudah lama berdiri, kemudian memiliki alumni yang banyak kemudian menempatkan alumninya pada berbagai posisi penting adalah sebuah sebuah kewajaran. Namun sesuatu yang kecil namun bermakna besar, justru itulah kecerdasan. Dan itulah yang patut kita sandangkan di Stikosa AWS.
Stikosa AWS mungkin saat ini masih boleh dikatakan lembaga pendidikan yang masih kecil. Namun alumninya banyak memegang peran besar di berbagai media. Bahkan salah satu media baru yang sangat berpengaruh di Indonesia pendirinya adalah para alumni Stikosa AWS. Dan tidak sedikit di media baru lainnya. Juga yang bekerja di pemerintahan maupun sektor lainnya. Inilah yang saya maksud Stikosa AWS yang masih kecil namun bermakna besar. Seperti negara Singapura, yang luasnya hanya sebanding DKI Jakarta namun maknanya besar. Pengaruhnya sangat besar dibandingkan dengan negara yang luasnya jauh lebih luas.
Tahun ini Stikosa AWS genap berusia 62 tahun. Tentu sebuah usia yang cukup matang bagi sebuah institusi. Tapi tidak demikian dengan sebuah lembaga pendidikan tinggi. Tuntutan untuk terus maju seiring dengan perkembangan dan perubahan jaman menjadi keharusan. Demikian juga Stikosa AWS. Sebagai lembaga pendidikan tinggi komunikasi pertama di Indonseia Timur, memang harus terus berbenah dan berubah.
Tahun ini, menjelang peringatan dengan Dies Natalis nanti juga diselenggarakan wisuda sarjana yang ke-29 dengan mengusung tema Talenta Komunikasi Masa Depan: Tangguh, Inovatif, dan Tangkas Menghadapi Disrupsi AI. Tentu saja tema ini menjadi sangat relevan dengan kondisi saat ini. Selain Tangguh, inovatif tetapi juga tangkas dalam menghadapi disrupsi Artificial intelligence (AI) menjadi kata kunci.
Tema tangkas menghadapi disrupsi AI tentu kita semua ingat seperti yang disampaikan oleh Charles Darwin, It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent that survives. It is the one that is most adaptable to change. Jadi, bukan yang paling kuat, bukan yang paling pintar yang bisa selamat. Tapi yang bisa selamat adalah mereka yang adaptif. Dengan demikian apa yang disampaikan oleh Charles Darwin tersebut sangat relevan dengan tema ini.
Dengan tema tersebut segenap citivas akademika Stikosa AWS tentu sadar betul akan tantangan para mahasiswa khususnya para alumni yang diwisuda pada hari ini. Ini artinya para wisudawan diingatkan akan perubahan yang dihadapi khususnya perkembangan AI yang demikian hebat seperti pisau bermata dua. Tergantung kepada kita menyikapinya. Dan kondisi ini juga juga sudah dipotret oleh World Economic Forum dalam laporannya dalam bulan Juni 2026 tentang “Artificial Intelligence and the Future of Entry-Level Work: Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Angkatan Kerja” dilaporkan sebagai berikut:

Dari data yang disampaikan oleh World Economic Forum tersebut kita dapat melihat dan saat ini saksikan ranking terpaan AI pada angkatan kerja muda. Mulai dari ranking 1 berarti terpaan AI paling tinggi disusul nomor urut berikutnya. Dan posisi pertama harus dihadapi oleh Finacial and Insurance Activities, Information and Communication, Professional, Scientific and Technical Activities.
Selain menghadapi perubahan yang demikian dasyat, kita semua pada saat ini setiap hari dihadapkan pada perilaku koruptif para penyelenggara negara. Perilaku yang sangat mencederai kita sebagai rakyat Indonesia menyaksikan perilaku para penyelenggara negara yang mestinya bertanggung jawab terhadap kemakmuran dan kemajuan negara yang kita cintai ini. Namun sayang perilaku yang tidak bisa kita contoh setiap saat menghiasi media saat ini.
Mengapa kondisi ini perlu kami sampaikan. Beberapa hari lagi kita semua merayakan peringatan hari kemerdekaan bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus 2026. Pada kesempatan yang baik ini, saya ingin mengingatkan kepada para wisudawan semua. Kelak kalau para wisudawan memegang tongkat pimpimnan di semua tingkatan di negara ini jadilah pemimpin amanah. Agar negara yang kita cintai ini segera maju dan rakyatnya sejahtera. Negara yang merdeka seumur dengan negara kita bahkan ada yang beberapa puluh tahun di belakang kita, pada awalnya kondisinya juga tidak lebih baik dengan negara kita, sekarang justru sepertinya jauh telah meninggalkan negara kita.
Sebagai contoh semenanjung Korea yang lepas dari penjajahan Jepang tanggal 15 Agustus 1945. Malahan kemudian peperangan antara bangsa mereka sendiri dan beberapa tahun kemudian menyebabkan negara terpecah menjadi dua, Korea Utara dan Korea Selatan. Dan setelah melalui pembangunan dengan semangat dengan kepemimpinan yang amanah, saat ini negara tersebut telah maju pesat sejajar dengan negara maju lainnya.

Para wisudawan hari ini telah melaksanakan wisuda setelah melalui proses pendidikan sesuai ketentuan. Pada kesempatan ini saya mewakili Yayasan Pendidikan Wartawan Jawa Timur mengucapkan selamat. Perjuangan para wisudawan belum berakhir. Justru baru dimulai. Jadikan momentum kali ini sebagai momentum untuk terus belajar, beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang demikian pesat. Jangan pernah berhenti belajar. Ingat, orang terpelajar seperti para wisudawan adalah pemilik masa lalu. Lalu siapa pemilik masa depan? Pemilik masa depan adalah orang terpelajar yang terus belajar.
Sekian terima kasih. *
Ditulis oleh: Suprawoto (Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Wartawan Jawa Timur), pada Acara Wisuda Sarjana Ilmu Komunikasi Stikosa-AWS Tahun 2026

