PIALA Dunia memang selalu menyedot perhatian. Banyak yang rela begadang demi menonton tim favoritnya yang saat ini berlaga di tiga negara, Amerika, Kanada, dan Meksiko.
Tim favorit saya, sudah kalah. Pulang kampung. Belanda. Kalah Adu penalti lawan Maroko (2-3) setelah imbang 1-1 dalam 120 menit berlaga.
Bicara soal prestasi tingkat dunia, kalau sepak bola Indonesia sekarang ini belum ada. Mungkin saja beberapa tahun lagi. Lewat ‘bantuan Belanda’.
Di luar sepak bola? Ada. Yang meraihnya, malah tetangga kita. Tulungagung.
RSUD dr. Iskak Tulungagung dinobatkan sebagai sebagai rumah sakit terbaik di dunia setelah meraih penghargaan dari International Hospital Federation (IHF). RSUD dr. Iskak menerima penghargaan Gold Award sebagai rumah sakit terbaik untuk kategori ‘IHF/Bionexo Excellence Award for Corporate Social Responsibility’.
RSUD dr Iskak Tulungagung mengalahkan lima rumah sakit di dunia lainnya, di antaranya Aster DM Healthcare dan Dubai Health Authority (UEA), Auna (Peru), KPJ Pasir Gudang Specialist (Malaysia), dan Manilla Doctors Hospital (Filipina).
Penghargaan ini diumumkan dalam forum International Hospital Federation Congress and Award ke-43 di Oman, Uni Emirat Arab, November 2019. Sudah sekitar tujuh lalu.
Zaman ‘semono’ sudah prestasi tingkat dunia. Ngeri!
Baru-baru ini, ada anggota DPRD Magetan yang bertemu dengan Dokter Supriyanto Dharmoredjo. Dokter yang waktu penghargaan itu diraih RSUD Tulungagung menjabat sebagai direktur utama.
Karena prestasi tingkat dunia itu, Dokter Supriyanto diangkat Menteri Kesehatan Gunadi Sadikin menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, sejak 3 November 2023.
Anggota DPRD Magetan itu bertanya, mengapa bisa meraih prestasi tingkat dunia. Secara teknis, RSUD Tulungagung melakukan inovasi dalam bidang manajemen penyelenggaraan layanan public. Rumah sakit memadukan skema pelayanan untuk masyarakat dengan program Public Service Center (PSC).
Gampangnya begini, rumah sakit merespons keluhan kesehatan masyarakat tanpa melihat status ekonominya. Semua mendapatkan kepastian untuk dilayani, untuk diobati. Berbiaya murah tapi layanannya bermutu tinggi dan dibekali SDM dengan rasa penuh tanggung jawab sosial.
“Inilah yang dinamakan Hospital Without Wall, rumah sakit tanpa dinding. Jika ada orang sakit di jalanan, jika ada orang terancam jiwanya di luar rumah sakit, maka rumah sakit punya tanggung jawab untuk menolongnya. Bukan menunggu mereka diantar di rumah sakit baru ditangani. Itu dasar pemikirannya,” ungkap Dokter Spesialis Bedah itu.
Namun, sejatinya tak hanya soal teknis itu RSUD Tulungagung mendunia. Dalam obrolan dengan anggota DPRD Magetan itu, ada urusan nonteknis.
Saat memimpin RSUD Tulungagung, Dokter Supriyanto meminta syarat untuk tidak diintervensi Bupati dan pemerintah daerah. Berikutnya, dia meminta dokter tidak berbisnis obat dan praktik di tempat lain. Meskipun dengan konsekuensi harus membayar sampai ratusan juta untuk gaji dokter.
Hasilnya, RSUD Tulungagung kini telah menjadi rumah sakit tipe A. Rumah Sakit dengan fasilitas kesehatan tertinggi ini, sebelumnya cuma ada di Surabaya dan Malang untuk Jawa Timur.
Kabarnya, RSUD dr. Sayidiman Magetan akan menuju rumah sakit dengan tipe tertinggi itu, 3 atau 4 tahun lagi. Bukan dimulai dari nol seperti pom bensin, tapi dari kondisi yang masih banyak catatan seperti sekarang.
Bisakah? Bisa, kalau direkturnya nanti, mengajukan syarat seperti Dokter Supriyanto kepada bupati atau pemerintah daerah.
Kita tunggu, sambil nonton Piala Dunia lagi. *
*Ditulis Fariansyah, Penanggung Jawab dan Pemred magetankita.com, Ketua Asosiasi Perusahaan Media Magetan (APMM), Ketua Harian Komite Komunikasi Digital (KKD) Magetan.
