BerandaOpiniMaospati Dulu dan Masa Datang

Maospati Dulu dan Masa Datang

Pabrik Gula dan Perang Jawa

Kalau kita melihat sejarah perkembangan pabrik gula di Indonesia, masuknya pabrik gula di wilayah pedalaman Jawa sangat amat lama. Seperti di Magetan saja berdirinya pabrik gula memerlukan hampir seratus tahun kemudian setelah pembangunan pabrik gula di Batavia dan pesisir utara Jawa. Utamanya yang telah dibangun saat itu di daerah Cirebon dan Pekalongan.

Pabrik gula di Purwodadi didirikan tahun 1832 setelah Perang Jawa. Tepat setelah Perang Jawa itulah Letnan Jenderal J. van den Bosch, yang mulai memimpin pemerintahan Hindia Belanda pada tanggal 16 Januari 1830, sebelumnya telah menyusun rencana di Belanda untuk menerapkan sistem yang kemudian dikenal dengan namanya yaitu Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel)—yang telah disetujui oleh Raja.

Prinsip-prinsip dasar Sistem Tanam Paksa ini, khususnya terkait dengan budidaya tebu, adalah sebagai berikut. Penduduk diwajibkan menyerahkan sebagian lahan mereka (yang awalnya direncanakan sebesar seperlima bagian) untuk ditanami komoditas yang ditujukan bagi pasar Eropa, sesuai dengan hak penguasa untuk mengatur penggunaan lahan dan tenaga kerja mereka. Kontrak akan dibuat dengan pihak swasta untuk pengolahan bahan mentah, baik berupa tebu maupun nira tebu.

Pemerintah telah lama merasakan manisnya industri gula. Bayangkan di tahun 1750 saja di Jawa sudah ada 100 pabrik gula. Paling banyak dan berpusat di Batavia. Bahkan mencapai 80 buah. Sedang sisanya tersebar dipelbagai tempat. Utamanya di Banten, Cirebon dan pantai Utara Jawa Tengah. Sedang di Jawa Timur dan daerah Jawa pedalaman belum ada. Pabrik gula semakin banyak bermunculan setelah selesainya Perang Jawa.

Pangeran Diponegoro memimpin perang Jawa 1825-1830. Perang Jawa telah membuat menderita Belanda. Juga tentu saja juga rakyat. Ada lebih dari 200.000 rakyat jadi korban. Tentara Belanda sendiri tidak kurang 8000 yang mati terbunuh. Dan serdadu Belanda keturunan pribumi 7000 juga ikut terbunuh. Dan Perang Jawa telah menguras begitu banyak kas Belanda. Biaya dari Perang Jawa saja telah menghabiskan f 20.000.000 (dua puluh juta gulden). Sebuah angka yang sangat besar waktu itu. Tak mengherankan bila pemerintah Belanda hampir bangkrut untuk membiayai Perang Jawa.

Defisit yang parah akibat Perang Jawa mengakibatkan Belanda mengambil kebijakan bagaimana mengembalikan keuangan agar sehat kembali. Johannes van Den Boch sebagai Gubernur Jenderal kemudian menerapkan sistem tanam paksa (cultuurstelsel). Sebuah sistem yang menekankan pada petani untuk menanam khusus tanaman ekspor.

Tanam paksa mewajibkan 20 persen tanah yang dimiliki petani untuk diserahkan kepada pemerintah untuk ditanam komoditas ekspor seperti rempah-rempah, tembakau, kopi, the, dan tebu. Sebagai gantinya penduduk diberi upah sebesar selisih antara sewa tanah dan nilai produk serta dibebaskan dari pajak tanah. Bagi penduduk yang tidak memiliki tanah, diwajibkan bekerja selama 75 hari dalam setahun di pabrik-pabrik perkebunan pemerintah.

Tentu kebijakan ini sangat memberatkan rakyat. Lahan pangan berubah menjadi lahan perkebunan. Rakyat kelaparan. Harga hasil produksi perkebunan ditentukan Belanda. Model tanam paksa ini justru lebih kejam dari kebijakan VOC sebelumnya. Dari model ini pemerintah Belanda berhasil memperolah pemasukan pada kas sebanyak f 967 juta (gulden).

Sistem tanam paksa dihentikan tahun 1870. Banyaknya kritik justru datang dari para aktivis dari bangsa Belanda sendiri, membuat pemerintah menghentikannya. Politik etis yang kemudian diterapkannya seperti untuk menebus kesewenang-wenangan yang dilakukan dalam sistem tanam paksa. Sebagai ganti, diterapkan sistem liberal. Pengusaha diberikan keleluasaan menanam modal dalam sektor ini. Bermunculan kemudian industri gula sampai di pedalaman Jawa.

Di seluruh Jawa muncul pabrik gula. Karena manisnya industri ini, sampai Kasultanan Jogyakarta juga mendirikan pabrik gula. Berkembangnya industri gula di wilayah kasultanan di masa HB VII ada 17 pabrik gula. Tak mau kalah, juga Pura Mangkunegara mendirikan pabrik gula untuk mengisi kas pemerintahannya. Pabrik gula Colomadu merupakan pabrik milik Pura Mangkunagara. Sebuah pabrik yang didirikan tahun 1862. Manisnya industri gula diabadikan nama pabrik, colomadu artinya gunung madu.

Tak mengherankan bila di masa ini, Hindia Belanda menjadi pengekspor gula terbesar kedua di dunia setelah Kuba. Pada awal abad 20 di Hindia Belanda saja sudah ada 187 pabrik gula. Industri gula dikelola dengan sangat baik. Mulai dari cara tanam maupun pengolahannya. Sehingga menghasilkan gula kualitas baik dengan rendemen yang baik.

Ketika itu rendemen rata-rata mencapai 14. Saat ini di tahun 2022 di Magetan luas lahan tebu diperkirakan seluas 6.058 ha, menghasilkan sekitar 402.256 ton. Luasan tanaman tebu untu eks Karesidenan Madiun, justru Magetan paling luas. Hasilnya, untuk bahan baku dua pabrik gula di Magetan sudah lebih. Bahkan kelebihan produksi tebu petani dibawa ke pabrik di luar Magetan.

Namun sayang rendemen tebu sekarang jauh dari masa keemasan Belanda dulu. Saat ini separonya saja tidak sampai. Pabrik gula di Magetan bahkan di Indonesia semakin tua. Peremajaan mesin agar efisien memerlukan investasi yang sangat besar. Pabrik Gula Purwodadi didirikan pada era tanam paksa.

Dua tahun setelah Perang Jawa. Pabrik Gula Rejosari didirikan. Dan pabrik gula Purwadadi sejak dihapuskan tanam paksa telah memberikan dampak ekonomi pada masyarakat sekitar termasuk Maospati. Perputaran uang dengan hadirnya pabrik tersebut menjadikan Maospati hidup secara ekonomi. Namun kedua era tersebut akhirnya telah menjadi saksi manisnya industri gula.

Namun sayangnya justru di era kemerdekaan, ketika semua kita kelola sendiri, yang menentukan kita sendiri dan semakin banyak orang pintar di negeri ini, mengapa hasilnya tidak semanis dulu. Pabrik gula pernah berjaya. Dan yang jelas pabrik gula Purwodadi pernah memberi rasa manisnya masyarakat Maospati.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Selamat Hari Pramuka, Ketua Kwarcab Magetan: Semangat Pramuka untuk Terus Berkarya, Mengabdi, dan Memberi Manfaat

Magetan - Pramuka memiliki peran untuk membina generasi muda, membentuk karakter generasi penerus yang...

DPRD dan Pemkab Magetan Sepakati Rancangan KUA-PPAS 2027, Plt Ketua DPRD: APBD Harus Diarahkan untuk Menopang dan Meningkatkan Ekonomi Kerakyatan

Magetan - Pemkab Magetan dan DPRD menyepakati dokumen perencanaan keuangan daerah tahun anggaran 2027. Hal...

Rapat Paripurna Istimewa, DPRD Magetan: Peringatan HUT ke-81 RI sebagai Semangat yang Tak Padam untuk Mewujudkan Cita-cita Pendiri Bangsa

Magetan – DPRD Magetan menggelar Rapat Paripurna Istimewa untuk mengikuti Sidang Tahunan MPR dan...

Artikel Terkait