BerandaOpiniMaospati Dulu dan Masa Datang

Maospati Dulu dan Masa Datang

Dan begitu banyaknya masyarakat yang hidupnya makmur, tentu diperlukan tempat rekreasi yang memadai. Juga tak mengherankan kemudian ada kritik dan masukan dari media untuk memperbaiki obyek wisata yang sangat potensial ketika itu yaitu Sendang Kamal.

Dan Sendang Kamal sumber airnya ketika itu masih melimpah ruah. Sangat sayang kalau tidak dikelola dengan baik. Masukan dan kritik terhadap kondisi Sendang Kamal tersebut dimuat pada koran berbahasa Belanda De Locomotief yang isinya,”Tempat pemandian Omboel terus menarik banyak pengunjung, terutama setelah para kusir kereta kuda menurunkan tarif mereka; banyak orang berpendapat sebaiknya tidak berkunjung pada hari Minggu karena tempat itu selalu ramai dan semua ruangan terisi bahkan ada orang yang menginap di sana hingga berminggu-minggu. Terdapat pula tempat pemandian lain bernama Sendang Kamal, jika dikembangkan dengan cara yang sama seperti Omboel, tempat itu pastinya juga akan ramai dikunjungi.

Dan tentu saja tulisan ini juga dapat dipahami, masyarakat Maospati yang makmur itu sudah semesti sudah harus memiliki tempat wisata yang memadai. Kemakmuran masyarakat Maospati secara ekonomi, juga bisa dilihat dari jumlah penduduk yang mendiami wilayah ini. Dibandingkan dengan dengan wilayah distrik lain di Magetan, Maospati dan Keniten memiliki jumlah penduduk yang diukur dari jumlah rumah tangga yang paling besar. Bahkan dibandingkan distrik di Madiun, Maospati dan Keniten masih memiliki jumlah pendudukan yang paling besar.

Secara jumlah penduduk Maospati dan Keniten masih kalah dengan Caruban. Namun perlu diingat luas wilayah Caruban jauh lebih banyak dibandingkan dengan Maospati. Wilayah Caruban luasnya tiga kali lipat dibandingkan dengan Maospati dan Keniten. Sedang Keniten lebih banyak penduduknya karena luas wilayah yang juga lebih luas dibandingkan Maospati. Selain luas wilayah juga tanah sawahnya juga jauh lebih luas dibandingkan dengan Maospati.

Kalau dibandingkan, mengapa penduduk Keniten lebih banyak dari Maospati. Selain tanahnya lebih luas juga tanah sawahnya jauh lebih luas dibandingkan Maospati. Bahkan luas tanah sawah Keniten hampir dua kali lipat dari luas tanah sawah Maospati. Dengan luasnya tanah sawah tersebut maka dalam mengolah pertanian tenaga yang banyak, sedang saat itu pengolahan pertanian belum menggunakan mekanisasi dan masih tradisional. Dengan demikian wajar kalau penduduknya sedikit lebih banyak.

Berbeda dengan Maospati, tanah sawahnya lebih kecil dan justru tanah tegalan lebih luas. Kita tahu tanah tegalan waktu itu barus bisa ditanami kalau musim hujan setahun sekali sehingga tidak terlalu banyak memerlukan tenaga kerja. Oleh sebab itulah masyarakat Maospati dapat diduga kalau dulu banyak yang bergerak di sektor jasa.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Selamat Hari Pramuka, Ketua Kwarcab Magetan: Semangat Pramuka untuk Terus Berkarya, Mengabdi, dan Memberi Manfaat

Magetan - Pramuka memiliki peran untuk membina generasi muda, membentuk karakter generasi penerus yang...

DPRD dan Pemkab Magetan Sepakati Rancangan KUA-PPAS 2027, Plt Ketua DPRD: APBD Harus Diarahkan untuk Menopang dan Meningkatkan Ekonomi Kerakyatan

Magetan - Pemkab Magetan dan DPRD menyepakati dokumen perencanaan keuangan daerah tahun anggaran 2027. Hal...

Rapat Paripurna Istimewa, DPRD Magetan: Peringatan HUT ke-81 RI sebagai Semangat yang Tak Padam untuk Mewujudkan Cita-cita Pendiri Bangsa

Magetan – DPRD Magetan menggelar Rapat Paripurna Istimewa untuk mengikuti Sidang Tahunan MPR dan...

Artikel Terkait