BerandaOpiniMaospati Dulu dan Masa Datang

Maospati Dulu dan Masa Datang

Perkembangan Sosial Ekonomi Maospati

Setelah Perang Jawa keadaan Pulau Jawa hancur. Penduduk berkurang dan ekonomi porak poranda. Disusul kemudian lahir tanam paksa yeng menyengsarakan rakyat di Hindia Belanda. Rakyat dipaksa untuk menanam komoditas yang laku di pasar internasional khususnya Eropa. Tentu saja akibat peneritaan rakyat akibat tanam paksa ini angka kematian menjadi sangat tinggi.

Di beberapa daerah angka kematian demikian tinggi. Di Semarang saja antara bulan Oktober 1849 sampai bulan Maret 1850 tidak kurang dari 10.000 orang mati kelaparan. Sedang di Demak mulai tahun 1848-1850 telah mati kelaparan sebanyak 120.000 orang. Bahkan di Grobogan dari penduduk berjumlah 98.000 orang yang mati kelaparan 9.000 orang. Di Jawa Tengah dan Timur penduduk telah sangat banyak berkurang sebagai akibat dari kesengsaraan, makanan yang tidak mencukupi, serta wabah penyakit yang datang. Di masa ini Cirebon juga 60.000 jiwa, Tegal 18.000 jiwa, Pekalongan 20.000 jiwa, Jepara 65.000 jiwa, Begelen 95.000 jiwa, Banyumas 82.000 jiwa, Madiun 14.000 jiwa. Dan seluruhnya mencapai 354.000 jiwa.

Keuntungan pemerintah berlipat-lipat dari sistem tanam paksa. Namun bagi rakyat akibatnya sangat buruk. Kondisi memprihatinkan ini akhirnya mencuat di Belanda setelah ditulis oleh penulis Multatuli (nama asli Eduard Douwes Dekker) dalam novelnya “Max Havelaar”. Penderitaan ini mendorong tuntutan dihapuskannya Tanam Paksa dan menjalankan Politik Etis atau Politik Balas Budi yang berusaha meningkatkan pendidikan dan kondisi kehidupan penduduk asli. Hal tersebut menjadi salah satu alasan dan juga latar belakang dihapuskannya sistem tanam oleh Belanda.

Sistem Tanam Paksa dihapus secara bertahap dengan menghentikan penanaman terhadap jenis-jenis tanaman tertentu, misalnya tanaman lada dihapus pada 1862, tanaman teh dihapus pada 1865, tanaman tembakau dihapus pada 1866, tanaman tebu dihapus pada 1870, tanaman kopi di Priangan dihapus pada 1917. Dan pada akhirnya secara resmi Sistem Tanam Paksa dihapus pada tahun 1870 dan diganti dengan Sistem Ekonomi Liberal.

Pabrik gula mulai juga mulai berubah, dengan lebih memberi dampak ekonomi kepada masyarakat sekitarnya. Keberadaan pabrik gula Purwodadi dan Rejosari tentu saja memberi dampak ekonomi yang cukup penting bagi perkembangan Maospati. Perputaran uang di wilayah Maospati mulai hidup. Kondisi dihapuskannya tanam paksa inilah kemudian lahir politik etis yang kemudian pemerintah Hindia Belanda banyak mendirikan sekolah dan lebih banyak dari pada sebelumnya untuk memperhatikan rakyatnya.

Selain sekolah dokter Jawa dibuka, sekolah sekolah umum juga dibuka. Salah satu hasilnya semakin besarnya angka melek huruf di kalangan masyarakat. Sebagai contoh data berikut:

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Selamat Hari Pramuka, Ketua Kwarcab Magetan: Semangat Pramuka untuk Terus Berkarya, Mengabdi, dan Memberi Manfaat

Magetan - Pramuka memiliki peran untuk membina generasi muda, membentuk karakter generasi penerus yang...

DPRD dan Pemkab Magetan Sepakati Rancangan KUA-PPAS 2027, Plt Ketua DPRD: APBD Harus Diarahkan untuk Menopang dan Meningkatkan Ekonomi Kerakyatan

Magetan - Pemkab Magetan dan DPRD menyepakati dokumen perencanaan keuangan daerah tahun anggaran 2027. Hal...

Rapat Paripurna Istimewa, DPRD Magetan: Peringatan HUT ke-81 RI sebagai Semangat yang Tak Padam untuk Mewujudkan Cita-cita Pendiri Bangsa

Magetan – DPRD Magetan menggelar Rapat Paripurna Istimewa untuk mengikuti Sidang Tahunan MPR dan...

Artikel Terkait