Maospati di Era Pasca Kemerdekaan dan Pemerintahan Sukarno.
Setelah masa Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Maospati juga terkena dampak dari lahirnya revolusi tersebut. Seluruh masyarakat bahu membahu untuk ikut mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih tersebut. Hanya sayang sekali bersamaan dengan bangsa kita menghadapi Belanda yang berusaha menjajah kembali, kemudian terjadi Peristiwa Madiun 1948. Peristiwa Madiun tanggal 18 September 1948 tersebut telah menimbulkan luka yang sangat dalam. Aksi FDR/PKI langsung menyerbu kantor-kantor pemerintah seperti polres, depo militer, kabupaten, kecamatan, kelurahan, serta menahahan tokoh-tokoh masyarakat sangat menodai perjalanan bangsa yang ini.
Dalam waktu singkat, Madiun, Magetan Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Ngawi, Purwantoro, Sukoharjo, Wonogiri, Blora, Pati, Cepu dan Kudus telah dikuasai oleh kelompok tersebut. Bupati, patih, wedana, kepala polisi, tentara, jaksa, guru, kiai serta tokoh masyarakat digiring ke suatu tempat kemudian dibunuh.26 Setelah mendapat ultimatum pemerintah di Yogyakarta dan gerakan PKI dapat ditumpas, pada tahun 1950 kita memperoleh kedaulatan kembali sesuai sistem pemerintahan yang kita inginkan setelah melalui peperangan dan perjalanan perundingan yang sangat berliku. Sejak itulah pemerintah mulai bisa menata tata pemerintahan yang semakin dengan berbagai dinamikanya.
Demikian juga Maospati, sejak itu juga mulai merasakan dampaknya ketika pemerintahan Sukarno membangun kekuatan militernya. Dampak dari perang dingin, pemerintahan Sukarno disertai konfrontasi dengan Belanda persoalan Irian Barat dan Malaysia lebih condong ke Uni Soviet dan Cina dibandingkan dengan ke Amerika Serikat. Pada masa bulan madu hubungan Indonesia dengan Uni Soviet dan Cina, Indonesia memiliki kekuatan militer yang sangat kuat, utamanya kekuatan udara dan lautnya.
Pembangunan kekuatan udara dengan bantuan Uni Soviet, Maospati terkena dampak sosial, ekonomi dan politiknya. Keberadaan pangkalan udara utama Iswahyudi28 saat itu yang berada di Maospati dibangun secara besar-besaran. Sarana-prasarana fisik dibangun, demikian juga sumber daya manusia ditingkatkan. Banyak para pilot, teknisi dari Indonesia dikirim ke Uni Soviet dalam rangka menguasai teknologi bantuan militer dari Uni Soviet.
Demikian juga sebaliknya, banyak pilot dan teknisi Uni Soviet dikirim ke Lanud Iswahyudi. Mesin perang mulai berdatangan di Maospati. Mulai senjata penangkis serangan udara, radar, amunisi, bom, pesawat canggih seperti Mikoyan Guerevitch (MiG) 16, 17, 19, 21 juga datang. Yang lebih hebat lagi juga hadir pesawat pembom Tupolev (TU) yang sangat ditakuti waktu perang dingin saat itu.
Dengan pembangunan Angkatan udara bantuan Uni Soviet saat itu tak heran kalau ada yang mengatakan kalau kekuatan militer Indonesia saat itu merupakan salah satu yang terkuat di Asia. Akibatnya Belanda jadi ciut nyalinya, sehingga bisa berunding menyelesaikan masalah Irian Barat (Papua).
Dengan pembangunan Angkatan udara di Maospoti saat itu, dampak ekonomi sangat hidup. Siang malam pesawat tempur dan pembom tempur memenuhi langit Maospati dalam rangka latihan. Kendaraan militer buatan Uni Soviet juga banyak lalu-lalang di Maospati. Kereta api yang membawa tangka bahan bakar pesawat (avtur) ke pangkalan juga ikut meramaikan Maospati. Bahkan sehari bisa lewat tiga kali. Restoran-restoran bermunculan di pinggir jalan raya Maospati. Setiap makan siang dan malam restoran banyak dipenuhi oleh para teknisi dari Uni Soviet.
Kondisi berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat ketika Meletus peristiwa G30S/PKI dan Sukarno turun diganti Suharto (jenderal AD) sebagai penguasa Orde Baru. Banyak kemudian para petinggi TNI AU yang dituduh terlibat gerakan tersebut.29 Bantuan Uni Soviet berhenti total. Mesin perang bantuan Uni Soviet lumpuh total karena tiadanya suku cadang. Mesin perang yang dulunya canggih lama-lama menjadi barang besi tua yang menjadi saksi sejarah kejayaannya.
Akibat lainnya, Maospati juga seperti terhenti ekonominya. Bayangkan denyut Iswahyudi yang demikian aktif tiba-tiba berhenti. Sampai-sampai pada awal Orde Baru Iswahyudi seperti tidak ada aktivitas sama sekali, karena pesawat tempur tidak ada yang bisa terbang lagi. Sampai-sampai karena tidak ada aktivitas yang signifikan, pernah landasan pesawat Lanud Iswahyudi digunakan sebagai lomba balap sepeda motor yang saat itu motor Jepang mulai digandrungi masyarakat Indonesia.

