BerandaOpiniMaospati Dulu dan Masa Datang

Maospati Dulu dan Masa Datang

Maospati di Era Suharto

Pada awal pemerintahan Suharto, dengan terhentinya aktivitas pesawat tempur militer di Iswahyudi seperti menghentikan ekonomi di Maospati. Sebelumnya aktivitas ekonomi yang tumbuh dengan keberadaan pesawat canggih pada masanya, sampai juga tumbuhnya tempat remang-remang di Maospati. Tumbuhnya komplek prostitusi “mBaben”30 tidak bisa dilepaskan dari geliat ekonomi di wilayah Maospati saat itu.

Lepas dari kesulitan ekonomi akibat tiadanya aktivitas di Iswahyudi, kemudian masyarakat berinisiatif mengembangkan industri rumahan salah satu yang menonjol industri krupuk beras. Industri rumahan ini sangat menghidupkan ekonomi di Maospati. Tumbuhnya industri ini juga ikut menumbuhkan kebutuhan untuk menopang keperluan industri krupuk.

Maospati di Era Suharto

Pada awal pemerintahan Suharto, dengan terhentinya aktivitas pesawat tempur militer di Iswahyudi seperti menghentikan ekonomi di Maospati. Sebelumnya aktivitas ekonomi yang tumbuh dengan keberadaan pesawat canggih pada masanya, sampai juga tumbuhnya tempat remang-remang di Maospati. Tumbuhnya komplek prostitusi “mBaben”30 tidak bisa dilepaskan dari geliat ekonomi di wilayah Maospati saat itu.

Lepas dari kesulitan ekonomi akibat tiadanya aktivitas di Iswahyudi, kemudian masyarakat berinisiatif mengembangkan industri rumahan salah satu yang menonjol industri krupuk beras. Industri rumahan ini sangat menghidupkan ekonomi di Maospati. Tumbuhnya industri ini juga ikut menumbuhkan kebutuhan untuk menopang keperluan industri krupuk beras. Tumbuh toko yang berjualan minyak goreng, garam, kayu bakar. Juga tenaga kerja dari daerah sekitar banyak berdatangan di Maospati. Kalau malam hari banyak warung-warung makan buka dipenuhi dengan pembeli. Demikian juga kalau waktu pagi hari, banyak warung buka menjual sarapan pagi.

Tidak hanya itu, karena ekonomi Maospati hidup, banyak datang pengamen tradisional yang datang mulai pengamen group musik keroncong, pengemis bahkan tempat prostitusi “mBaben” juga semakin ramai. Juga muncul perusahaan otobis yang memiliki armada bis cukup banyak. Salah satu cirinya di badan bis dilukis tokoh-tokoh wayang kulit. Dan letak perusahaannya di Jalan Barat Maospati.

Baru kemudian di tahun 1973, pemerintah Indonesia menerima bantuan pesawat Avon Sabre bekas dari pemerintah Australia. Dan pesawat bekas ini juga datang tanpa senjata alias tumpul. Tentu saja kondisinya jauh dari modern dibandingkan dengan pesawat MiG buatan Uni Soviet yang telah dimiliki sebelumnya. Namun mau apa dikata, setidaknya para penerbang tempur TNI AU masih memiliki pesawat untuk memelihara ketrampilan terbangnya.

Namun sayang sekali, industri krupuk beras berangsur-angsur mati. Demikian juga perusahaan otobis waktu itu juga mati. Di susul dengan semakin salah kelola dan salah dalam pembuat kebijakan di industri pabrik gula menjadikan industri gula semakin terpuruk. Ekonomi masyarakat Maospati seperti jatuh bertubi-tubi. Apalagi bertambahnya penduduk yang semakin banyak, diikuti kepemilikan lahan rata-rata semakin sempit, tentu sektor pertanian juga tidak terlalu banyak diharapkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Maospati.

Ekononomi masyarakat Maospati betul-betul seperti terhenti. Dan perputaran uang juga semakin lambat, karena lebih banyak mengharapkan belanja dari para pegawai yang hanya sebulan sekali. Perkembangan ekonomi masyarakat Maospati pada akhirnya kalah dengan Kecamatan Barat maupun Gorang Gareng di mana kedua daerah tersebut ditopang oleh lahan pertanian yang relatif subur.

Lahirnya reformasi, dan pemberian otonomi luas memberikan dampak yang bagus dalam pengelolaan keuangan daerah. Berbagai bentuk transfer keuangan pemerintah pusat ke daerah terus bertambah. Kalau dulu, jaman Orde Baru uang banyak berputar di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya (terjadi urbanisasi besar-besaran) saat ini relatif lebih merata.

Tentu saja ini juga berdampak pada ekonomi masyarakat Maospati. Namun sayangnya, dibandingkan dengan dengan kabupaten lain dan daerah lainnya, Maospati perkembangannya juga relatif lambat. Oleh sebab itulah diperlukan sebuah pemantik, atau pengungkit yang bisa membawa perubahan sosial ekonomi di Maospati. Kalau tidak, Maospati yang dulunya menjadi barometer kemajuan di Magetan akan kalah dengan daerah lainnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Selamat Hari Pramuka, Ketua Kwarcab Magetan: Semangat Pramuka untuk Terus Berkarya, Mengabdi, dan Memberi Manfaat

Magetan - Pramuka memiliki peran untuk membina generasi muda, membentuk karakter generasi penerus yang...

DPRD dan Pemkab Magetan Sepakati Rancangan KUA-PPAS 2027, Plt Ketua DPRD: APBD Harus Diarahkan untuk Menopang dan Meningkatkan Ekonomi Kerakyatan

Magetan - Pemkab Magetan dan DPRD menyepakati dokumen perencanaan keuangan daerah tahun anggaran 2027. Hal...

Rapat Paripurna Istimewa, DPRD Magetan: Peringatan HUT ke-81 RI sebagai Semangat yang Tak Padam untuk Mewujudkan Cita-cita Pendiri Bangsa

Magetan – DPRD Magetan menggelar Rapat Paripurna Istimewa untuk mengikuti Sidang Tahunan MPR dan...

Artikel Terkait