BerandaOpiniMaospati Dulu dan Masa Datang

Maospati Dulu dan Masa Datang

Dari data tersebut di atas, angka melek huruf di akhir abad 19 sudah ada peningkatan setelah adanya sekolah-sekolah di desa. Di Magetan, angka tertinggi justru terjadi di Distrik Maospati. Tentu saja angka ini cukup mencengangkan. Pertanyaan yang muncul kemudian, mengapa Magetan yang merupakan ibu kota afdeeling waktu itu malahan kalah dengan Maospati. Dan Maospati malahan lebih tenggi dengan distrik yang ada di Madiun.

Banyak faktor tentu saja, mengapa angka melek huruf Maospati lebih baik dibandingkan Magetan. Kita tahu kota Magetan waktu itu merupakan salah satu kota yang agak sulit mendapatkan akses di bandingkan Maospati. Distrik Maospati merupakan tepat persilangan mobilitas yang akan ke Ponorogo, Madiun, Ngawi, Solo, Yogyakarta atau Madi uterus ke timur Surabaya. Tentu saja dipersilangan tersebut akan memudahkan mobilitas masyarakat yang akan merubah cara pandang masyarakatnya.

Selain itu masyarakat Maospati lebih mudah bila akan berpegian jauh, karena sudah ada stasiun kereta api. Untuk kelas jarak pendek cukup naik/turun di stasiun Barat (sekarang stasiun Magetan). Tak mengherankan bila saat itu ekonomi Maospati betul-betul berkembang. Banyak masyarakat Tionghoa yang tinggal menetap di Maospati. Dulu kanan-kiri jalan raya Maospati dipenuhi dengan toko-toko Tionghoa.

Kondisi ini tentu saja menunjukkan berkembangnya ekonomi di Maospati. Dan banyak sekali masyarakat Tionghoa yang hidupnya makmur ketika itu, sehingga sering muncul berita di koran terkait segala aktivitasnya. Dengan banyaknya masyarakat Tionghoa di Maospati, segala aktivitasnya juga dimuat di koran Djawi Kando saat itu.

Salah satu berita yang dimuat menunjukkan gaya hidup masyarakat Tionghoa yang makmur. Bayangkan persembahan di Klenteng dengan makanan yang berlimpah. Tentu saja secara teoritik media cetak itu isinya merupakan wajah dari masyarakatnya. Dengan sering diberitakannya Maospati di media cetak masa itu, tentu daerah tersebut memiliki peran yang cukup penting baik secara sosial, ekonomi dan politik.

Adapun berita koran Djawi Kando tanggal 18 April 1899 yang terbit di Surakarta dengan bahasa Melayu pasaran dan tulisan Jawa sebagai berikut:

Maospati Dengen Hoermat!

Djikaloe mendjadiken toewankoe ampoenja soeka dan ringngan atie toeloenglah sedikit tempat di toewankoe ampoenja halaman. Dj. K. dan sakblomnja saia membilang banjak trima kasih di atas toewankoe ampoenju kamoerahan atie. Maka di dalem districht Maospati afdeeling Magettan, perkoepoelan bangsa oang tjina jang sama sembajang di delem Gredja tjina alijas Klenteng, ija itoe jang djadi lotjoenja babah Tan Kian-in, maka ini kabetoelan sembajangnja ari 2 boelan “Sagwik, ari Blanda 11-4-1899 dari saia ampoenja timbangan slamanja di Maospati ada perkoempoelan, sembajang di Gredja tjina tiada saperti ini-taoen dari banjaknja Koewih jang di bikin sembajang di Gredja itoe, kira kira tida koerang dari 100 piring koewih, maka pengngadatan ada orang bangsja tjina jang soedah kedjalannan kapan sembajang di Gredja tjina koewihnja tiada lebih dari 15 op 20 piring soedah temtoe sadja ini tahoen baniak koewih en boewah boewahnja, orang njonjah Tan Lasjem jang bikin koewih dan toeroet atoer tjoba lamnja njonjah Tan Lasjem jang bikin itoe koewih dan jang atoer ini sahingga tida bisa radjin dan tiada ada koewihnja moedah moedahan, poendennja Gredja tjina dotek kong di Maospati soepaja kaboelken njonjah Tan Lasem pandjang oesjea dan slamet tiada koerang stoe apa apa, Kabarnja itoe mjonjah Tan Lasem bisa djadi doekoen doekoennja orang bangsa tjina djikaloek ada orang bangsa tjana di Maospati jang dapet sakit lantas mentak pertoeloenganja njonjah Tun Lasem nistjaja lantas bisa djadi baik asal djngan tskdrinja toewan jang mapa koewasja sadja dia sanggoep kesih obat moesti baiknja apa lagi itoe njonjah Tan Lasem djikaloe kasih obat orang jang depet sakit tiada mahoe di kasih petoewas mendjadi soedeh satoe tanda kapan itoe njonjah Tan asen djalani baik atinja kepan tjara tiinanja tiohosim djangen besoek ada kerat dapet siksasa—adanja. SAJA POENJA TABE DARI BAH ODOT ALIJAS KOELTOEK BENGOEK

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Selamat Hari Pramuka, Ketua Kwarcab Magetan: Semangat Pramuka untuk Terus Berkarya, Mengabdi, dan Memberi Manfaat

Magetan - Pramuka memiliki peran untuk membina generasi muda, membentuk karakter generasi penerus yang...

DPRD dan Pemkab Magetan Sepakati Rancangan KUA-PPAS 2027, Plt Ketua DPRD: APBD Harus Diarahkan untuk Menopang dan Meningkatkan Ekonomi Kerakyatan

Magetan - Pemkab Magetan dan DPRD menyepakati dokumen perencanaan keuangan daerah tahun anggaran 2027. Hal...

Rapat Paripurna Istimewa, DPRD Magetan: Peringatan HUT ke-81 RI sebagai Semangat yang Tak Padam untuk Mewujudkan Cita-cita Pendiri Bangsa

Magetan – DPRD Magetan menggelar Rapat Paripurna Istimewa untuk mengikuti Sidang Tahunan MPR dan...

Artikel Terkait