BerandaOpiniMaospati Dulu dan Masa Datang

Maospati Dulu dan Masa Datang

Sebagai menantu Sri Sultan Hamengkubuwono II, beliau juga diangkat sebagai Bupati Wedana Mancanegara. Yang diberikan kekuasaan sebagai koordinator bupati sebelah Timur Gunung Lawu yang menjadi kekuasaan Kasultanan Jogyakarta. Selain jabatan sebagai Bupati Wedana Mancanegara, juga sebagai penasehat politik Sultan. Pada masa pemerintahannya inilah kemudian memindahkan pusat pemerintahan dari Wonosari sebelah Utara Madiun ke Maospati.

Di istananya Maospati Raden Ronggo Prawirodirjo III kemudian tinggal bersama saudara-saudaranya sendiri, juga diikuti sentana dalem seperti Panji Nantangyudo, Panji Ukeng, Panji Leleyan, Panji Jekitut, Panji Suryoatmojo. Dengan pemindahan kadipaten, tentu menjadikan wilayah Maospati menjadi sangat ramai dan maju.

Kadipaten Maospati kemudian dibangun dengan megah dikelilingi tembok batu merah. Bahkan kemudian dipasang Meriam. Sehingga menjadi pusat pemerintahan sekaligus sebagai benteng pertahanan. Raden Ronggo juga menciptakan iklim keagamaan di Maospati. Terbukti, pada masa pemerintahannya, didatangkan ulama dari Sunda Nuryemangi untuk memberikan pemahaman agama Islam bagi penduduk.

Yang membedakan dengan pangeran yang lain, Raden Ronggo sangat anti Belanda. Ketika Gubernur Jenderal Daendels akan membangun kekuatan militernya, utamanya membuat kapal perang, maka memerlukan kayu jati yang berkualitas tinggi. Dan kayu-kayu jati itu berada di wilayah kekuasaannya. Kemudian hutan-hutan jati sebagai sumber daya kraton ingin dikuasai Belanda.

Dari situlah timbul kebencian semakin memuncak kepada pemerintah Belanda. Sehingga Raden Ronggo dianggap musuh Belanda juga menjadi musuh karena intrik-intrik yang terjadi antara Raden Ronggo dengan Patih Danurejo II ditambah perselisihannya dengan Bupati yang menjadi wilayah kekuasaan Kasunanan Surakarta.

Yang pada akhirnya Sri Sultan Hamengkubuwono II harus merelakan tekanan Belanda, yang mengharuskan menantunya Raden Ronggo harus dihadapkan kepada Gubernur Jenderal di Bogor. Yang itu artinya Belanda meminta kematiannya. Dari pada dibuang, atau diracun maka Raden Ronggo kemudian memberontak. Bupati Brang Wetan banyak yang memihak kepada Raden Ronggo. Bahkan kemudian Raden Ronggo kemudian menyatakan sebagai Sunan Ingalogo dengan gelar Kanjeng Susuhunan Prabu Ingalogo yang bertahta di kutha Pethik (nama lain Maospati). Segera raden Ronggo menyusun kekuatan di Maospati disokong para bupati pengikutnya. Namun yang tragis justru, Sri Sultan sendiri yang memberi ulmatum agar Raden Ronggo segera ditangkap dan kemudian dibunuh.

Dan pada akhirnya, Raden Ronggo tewas di Sekaran tepi Bengawan Solo pada tanggal 20 Nopember 1810 dalam peperangan yang sudah diskenario. Kemudian jenazahnya dibawa ke Jogyakarta. Dan diletakkan di keranda terbuka serta digantung di persimpangan jalan Pangurakan dekat gardu alun-alun Utara.

Pada akhirnya jenazah dimakamkan di makam para pengkhianat kraton di Banyusumurup, Bantul Jogyakarta. Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono IX makam Raden Ronggo diperintahkan untuk dipindahkan ke Gunung Bancak berdampingan dengan makam istri tercinta di Gunung Bancak.

Pemindahan makam ini setelah makam Raden Ronggo ada di Banyusumurup selama 157 tahun. Yang lebih tragis, pada tahun 1809 sebelum menyatakan angkat senjata melawan Belanda, permaisuri yang dicintainya GBRAy Maduretno meninggal dunia karena kunduran (saat melahirkan).

Dan sengaja jenazah istri tercinta dimakamkan di Gunung Bancak. Salah satu pertimbangannya, agar raden Ronggo setiap saat bisa memandang makam istri tercintanya dari istana kadipaten di Maospati. Dari sinilah, relasi Taj Mahal dan Gunung Bancak. Kedua makam, merupakan makam istri tercinta yang sengaja dibangun sang suami untuk mengenang istri tercinta.

Dan kedua makam dibangun di tempat yang strategis sehingga sang suami setiap saat bisa memandang makam istri tercinta dari tempatnya. Dan keduanya, Shah Jahan dan Raden Ronggo harus rela menghadapi kematian dengan tragis. Shah Jahan harus meninggal dalam tahanan putranya sendiri. Sedang Raden Ronggo harus terbunuh atas perintah mertuanya sendiri.

Namun yang perlu dicatat, pada akhirnya kedua makam tersebut, bisa menjadi simbol kecintaan suami kepada istri yang sangat dicintainya. Sejak Raden Ronggo Prawirodirjo terbunuh, Kraton di Maospati dibakar Belanda dan diratakan dengan tanah serta manuskrip, harta benda dijarah. Sejak itu peran Maospati mulai surut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Selamat Hari Pramuka, Ketua Kwarcab Magetan: Semangat Pramuka untuk Terus Berkarya, Mengabdi, dan Memberi Manfaat

Magetan - Pramuka memiliki peran untuk membina generasi muda, membentuk karakter generasi penerus yang...

DPRD dan Pemkab Magetan Sepakati Rancangan KUA-PPAS 2027, Plt Ketua DPRD: APBD Harus Diarahkan untuk Menopang dan Meningkatkan Ekonomi Kerakyatan

Magetan - Pemkab Magetan dan DPRD menyepakati dokumen perencanaan keuangan daerah tahun anggaran 2027. Hal...

Rapat Paripurna Istimewa, DPRD Magetan: Peringatan HUT ke-81 RI sebagai Semangat yang Tak Padam untuk Mewujudkan Cita-cita Pendiri Bangsa

Magetan – DPRD Magetan menggelar Rapat Paripurna Istimewa untuk mengikuti Sidang Tahunan MPR dan...

Artikel Terkait